Assalamu'alaikum wr.wb.
Kisah Ratu Bilqis dan Nabi Sulaiman a.s ini terbilang sangat
mengunggulkan makhluk yang bernama manusia. Manusia yang iblis bilang
adalah makhluk yang lemah dan tidak sempurna, terbukti tidak benar
adanya. Sang jagoan dari para Jin yang bernama Ifrit pun melihat sendiri
begitu hebatnya manusia.
Kisahnya.
Dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya sufi besar Imam AL Ghazali dikatakan
bahwa Ashif bin Barkhiya adalah sepupu Nabi Sulaiman a.s, dan ada juga
yang bilang bahwa dia adalah juru tulis Nabi Sulaiman a.s. Ashif ini
dahulunya adalah seorang pemboros, sering melakukan maksiat, namun
kemudian dia bertobat.
Ketika Ashif dan Nabi Sulaiman a.s bertemu, Nabi Sulaiman a.s
menyampaikan apa yang telah diwahyukan Allah tentang dirinya, dan
setelah mendengar penjelasan tersebut, Ashif keluar dan menaiki bukit.
Di bukit itulah dia menengadahkan kepala ke langit dan berdoa,
"Tuhanku, Junjunganku, Engkau ya Engkau, aku ya aku, bagaimana aku akan bertobat sedangkan Engkau tidak menerima tobatku?
Bagaimana aku akan minta perlindungan dari dosa sedangkan Engkau tidak menjagaku? Aku pasti kembali."
Demikianlah akhirnya Ashif ini meminta pertolongan Allah SWT, sehingga
dirinya berubah drastis dari seorang yang selalu melakukan maksiat
menjadi orang yang patuh kepada perintah Allah SWT.
Allah SWT pun selalu membantunya dalam melakukan ibadah, ketaatan, penngakuan terhadap dosanya, serta tobatnya.
Pada akhirnya Allah pun memberikan karomah kepada Ashif.
Karomah Ashif Si Pemindah Singgasana Ratu Bilqis
Salah satu karomahnya yang terkenal adalah ia mampu menghadirkan
singgasana Ratu Bilqis di Yaman untuk dibawa ke Baitul Maqdis di
Palestina.
Dikisahkan bahwa suatu saat Ashif bin Barkhiya berwudhu kemudian dia
melakukan shalat sunnah 2 rakaat, setelah itu dia berkata kepada Nabi
Sulaiman,
"Wahai Nabiyullah, arahkan pandanganmu ke arah yang jauh!"
Nabi Sulaiman a.s pun mengarahkan pandangannya ke arah Yaman.
Setelah itu Ashif berdoa memohon bantuan Allah SWT, maka tiba-tiba
singgasana Ratu Balqis yang berada di Yaman muncul di hadapan Nabi
Sulaiman dan ketika beliau melihat hal itu, Nabi Sulaiman berkata,
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku."
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ
الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ ٤٠
40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala
Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:
"Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka
Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan
Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia".
(QS. An-Naml: 40).
Surat An-Naml 27: 38-40 sebagai pedoman artikel ini.
Ayat-Ayat Al Qur'an Yang Menjelaskan Singgasana Ratu Bilqis.
Dalam ayat Al Qur'an, Allah SWT berfirman,
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ ٣٨
قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ ٣٩
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ
الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ ٤٠
Artinya:
38. berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu
sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka
datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".
39. berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang
kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari
tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi
dapat dipercaya".
40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala
Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:
"Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka
Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan
Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia".
Namun, setelah Jin Ifrit berkata demikian, majulah seorang yang ahli kitab yang tak lain adalah Ashif, dab berkata,
"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu itu kepada engkau sebelum matamu berkedip."
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu telah terletak dihadapnnya, ia pun berkata,
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatnya).
Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk
(kebaikan ) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka
sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."
Berkenaan dengan firman Allah SWT tersebut, Ibnu Katsir berkata,
"Orang itu adalah Ashif seorang juru tulis Nabi Sulaiman."
Jin Ifrit Kalah oleh Ahli Kitab.
Dialah Ashif bin Barkhiya, seorang manusia yang diberi karomah oleh Allah SWT karena tobat dan doanya.
Dia selalu menjaga wudhu, seorang yang jujur dan mengetahui.
Jin Ifrit yang terkenal kuat dan sakti itu pun langsung tertunduk malu, kiranya ada orang sakti yang bisa melebihinya.
Ini juga membuktikan bahwa manusia adalah makhuk yang sempurna, melebihi dari jin-jin.
Oleh karena itu sahabat, jangan jadikan jin sesembahan, jangan jadikan
jin-jin sebagai penolong, karena telah dibuktikan Ashif bahwa para jin
masih kalah ilmunya dengan manusia.
Allah SWT sajalah tempat meminta dan tempat menyembah.
Sungguh hebat Ashif ini yang memiliki kekuatan untuk memindahkan singgasana hanya dalam satu kedipan mata saja.
Semua adalah berkat pertolongan Allah SWT. Kecepatan pindah tersebut ada
yang menyebut melebihi dari kecepatan cahaya atau hampir sama dengan
kecepatan cahaya.
Subhanallah...
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Senin, 16 Mei 2016
Pukulan Sayap Malaikat Hempaskan Iblis hingga Matahari
Assalamu'alaikum wr. wrb.
Kisah nabi Isa as tiada henti-hentinya untuk diceritakan. Kembali kisah Nabi Isa as diposting di blog Kisah Teladan Islami ini.
Tiada henti-henti Iblis ini menggoda manusia hingga manusia tersebut tersesat dan berpaling dari Allah SWT. Tak terkecuali Nabi Isa as, juga mendapatkan godaan Iblis. Namun berkat Kekuasaan Allah SWT, Iblis mampu dilempar-lempar hingga di jauh tempat.
Nabi Isa as bukanlah Tuhan, melainkan hanya sebagai manusia biasa yang ditunjuk menjadi nabi dan Rasul Allah SWT.
Tentu saja godaan Iblis mampu dipatahkan oleh Nabi Isa as, karena beliau selalu dilindungi oleh Allah SWT.
Kisahnya.
Pada suatu hari Nabi Isa as bertemu dengan Iblis Laknatullah.
Terjadilah dialog sebagai berikut ini.
Iblis: "Wahai Isa bin Maryam, dari sifat Ketuhanan itu sampailah engkau mampu berbicara ketika engkau masih bayi. Padahal tak seorang pun mampu berbicara seperti engkaui sebelum kamu.
Nab Isa: Yang memiliki sifat Ketuhanan itu adalah Dzat yang membuat saya, Dzat yang mematikan saya kemudian menghidupkan saya kembali.
Iblis: Bukan begitu maksud saya. Akan tetapi engkau yang mempu menghidupkan orang yang telah meninggal dunia.
Nabi Isa: Bukan begitu, sifat Ketuhanan itu adalah milik Allah SWT semata, Dzat yang menghidupkan dan mematikan, jadi bukan saya yang menghidupkan.
Iblis: Demi Allah, engkau adalah Tuhan di langit dan Tuhan di bmi.
Setelah berbicara demikian, tiba-tiba saja ada yang memukul iblis laknatullah.
Malaikta Jibril turun ke bumi dan memukul iblis dengan sayapnya hingga ke matahari. Lalu pukulan kedua dari Malaikat Jibril mampu menghempaskan lagi si Iblis hingga sampai ke lautan yang ke tujuh.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Kisah nabi Isa as tiada henti-hentinya untuk diceritakan. Kembali kisah Nabi Isa as diposting di blog Kisah Teladan Islami ini.
Tiada henti-henti Iblis ini menggoda manusia hingga manusia tersebut tersesat dan berpaling dari Allah SWT. Tak terkecuali Nabi Isa as, juga mendapatkan godaan Iblis. Namun berkat Kekuasaan Allah SWT, Iblis mampu dilempar-lempar hingga di jauh tempat.
Nabi Isa as bukanlah Tuhan, melainkan hanya sebagai manusia biasa yang ditunjuk menjadi nabi dan Rasul Allah SWT.
Tentu saja godaan Iblis mampu dipatahkan oleh Nabi Isa as, karena beliau selalu dilindungi oleh Allah SWT.
Kisahnya.
Pada suatu hari Nabi Isa as bertemu dengan Iblis Laknatullah.
Terjadilah dialog sebagai berikut ini.
Iblis: "Wahai Isa bin Maryam, dari sifat Ketuhanan itu sampailah engkau mampu berbicara ketika engkau masih bayi. Padahal tak seorang pun mampu berbicara seperti engkaui sebelum kamu.
Nab Isa: Yang memiliki sifat Ketuhanan itu adalah Dzat yang membuat saya, Dzat yang mematikan saya kemudian menghidupkan saya kembali.
Iblis: Bukan begitu maksud saya. Akan tetapi engkau yang mempu menghidupkan orang yang telah meninggal dunia.
Nabi Isa: Bukan begitu, sifat Ketuhanan itu adalah milik Allah SWT semata, Dzat yang menghidupkan dan mematikan, jadi bukan saya yang menghidupkan.
Iblis: Demi Allah, engkau adalah Tuhan di langit dan Tuhan di bmi.
Setelah berbicara demikian, tiba-tiba saja ada yang memukul iblis laknatullah.
Malaikta Jibril turun ke bumi dan memukul iblis dengan sayapnya hingga ke matahari. Lalu pukulan kedua dari Malaikat Jibril mampu menghempaskan lagi si Iblis hingga sampai ke lautan yang ke tujuh.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Matahari Tunduk Pada Rasul
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bukan hanya mukjizat bulan saja yang mampu dibelah oleh Rasulullah SAW, matahari pun juga tunduk atas perintahnya sebagai bagian dari mukjizat Rasulullah SAW. Mukjizat itu ditunjukkannya di hadapan Raja Habib yang membuatnya terpukau dan masuk islam.
Berikut Kisahnya.
Pada zaman jahiliyah terdapat seorang raja bernama Raja Habib Ibnu Malik di kota Syam. Orang arab memberinya gelara "Raihanah Quraisyin."
Raja Habib saat itu masih menyembah patung dan memiliki putri yang cacat di bagian kaki, tangan dan matanya pun buta.
Pada suatu hari Raja Habib bersama pasukannya berjumlah 12 ribu orang singgah di Athbah, yakni suatu tempat di dekat Makkah. Maka datanglah Abu Jahal beserta pengikutnya untuk memberikan berbagai hadiah kepada Raja Habib. Setelah itu Abu Jahal dipersilahkan duduk di sebelah kanan Raja Habib.
"Wahai Abu Jahal, katakan kepadaku tentang Muhammad," kata Raja Habib yang sudah lama mendengar nama Muhammad.
"Sebenarnya kami telah mengenal Muhammad itu sejak dia kecil, orangnya sungguh amanah dan setiap perkataannya benar. Namun sejak umur Muhammad meningkat 40 tahun, dia telah berani mencela Tuhan kita dan dia membawa agama baru yang datangnya bukan dari nenek moyang kita," jelas Abu Jahal.
Tantangan Raja.
Raja Habib kemudian ingin bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Maka datanglah Rasulullah beserta Abu Bakar dan Siti Khadijah. Wajah Rasulullah SAW saat itu terlihat memancarkan cahaya yang suci.
"Wahai Muhammad, kamu pun tahu bahwa setiap Nabi itu ada mukjizatnya, jadi apakah mukjizat kamu itu?" tanya Raja Habib.
"Katakan saja apa yang kamu kehendaki?" tutur Rasulullah SAW.
"Aku ingin matahari itu terbenam dan bulan pula hendak turun ke bumi dan kemudian terbelah menjadi dua, setengah bagian bulan itu kemudian masuk di bajumu dan sebagian keluar melalui lengan bajumu yang kanan.
Setelah itu bulan hendaklah berkumpul menjadi satu di atas kepalamu dan bersaksi atasmu, kemudian bulan itu kembali ke langit. Sesudah itu hendaklah matahari yang tenggelam muncul kembali," pintanya.
"Apakah kamu mau beriman kepadakusetelah aku melakukan segala apa yang kamu kehendaki?" tanya Rasulullah.
"Ya, aku akan beriman kepadamu setelah kamu dapat membuktikan segala isi hatiku," janjinya.
Rasulullah SAW pun keluar lalu pergi mendaki gunung ABi Quais, kemudian Baginda mengerjakan shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah SWT. Setelah berdoa maka turunlah malaikat Jibril bersama 12 ribu malaikat yang memegang panah di tangan mereka.
"Wahai kekasihku, janganlah kamu takut dan bersusah hati. Aku senantiasa bersamamu, ketahuilah sesungguhnya Allah SWT telah menundukkan matahari, bulan, malam dan siang. Sesungguhnya Raja Habib itu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai kedua tangan, kedua kaki dan tidak mempunyai kedua mata. Katakan kepadanya bahwa Allah SWT telah mengembalikan kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua matanya," ujar Malaikat Jibril.
Menyuruh Matahari.
Setelah itu Rasulullah turun dari gunung ABi QUbais dengan rasa tenang, dengan disaksikan Raja Habib, matahari mulai berlari, cepat tenggelam dan hari pun menjadi gelap gulita. Setelah bulan meninggi, Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan dua jarinya-jarinya untuk membelah bulan itu. Semua permintaan Raja Habib akhirnya dapat dipenuhi oleh Rasulullah SAW.
"Wahai Muhammad, aku masih ada satu syarat lagi," kata Raja Habib.
Belum sempat Raja Habib berkata maka Rasulullah SAW langsung menyahutinya bahwa Raja Habib ini mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai dua tangan, dua kaki dan dua mata.
"Maka ketahuilah olehmu,sesungguhnya Allah SWT telah mengembalikan kedua tangan, kedua kaki dan kedua mata putrimu," sabda Rasul.
Mendengar penuturan itu, Raja Habib langsung menyatakan keislamannya, lantas diikuti oleh seluruh pasukannya.
Setelah Raja Habib pulang ke kerajaannya, ia berdecak kagum karena mendapati puterinya dalam kondisi sempurna. Putrinya yang semula cacat maka saat itu juga bisa sembuh total.
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Bukan hanya mukjizat bulan saja yang mampu dibelah oleh Rasulullah SAW, matahari pun juga tunduk atas perintahnya sebagai bagian dari mukjizat Rasulullah SAW. Mukjizat itu ditunjukkannya di hadapan Raja Habib yang membuatnya terpukau dan masuk islam.
Berikut Kisahnya.
Pada zaman jahiliyah terdapat seorang raja bernama Raja Habib Ibnu Malik di kota Syam. Orang arab memberinya gelara "Raihanah Quraisyin."
Raja Habib saat itu masih menyembah patung dan memiliki putri yang cacat di bagian kaki, tangan dan matanya pun buta.
Pada suatu hari Raja Habib bersama pasukannya berjumlah 12 ribu orang singgah di Athbah, yakni suatu tempat di dekat Makkah. Maka datanglah Abu Jahal beserta pengikutnya untuk memberikan berbagai hadiah kepada Raja Habib. Setelah itu Abu Jahal dipersilahkan duduk di sebelah kanan Raja Habib.
"Wahai Abu Jahal, katakan kepadaku tentang Muhammad," kata Raja Habib yang sudah lama mendengar nama Muhammad.
"Sebenarnya kami telah mengenal Muhammad itu sejak dia kecil, orangnya sungguh amanah dan setiap perkataannya benar. Namun sejak umur Muhammad meningkat 40 tahun, dia telah berani mencela Tuhan kita dan dia membawa agama baru yang datangnya bukan dari nenek moyang kita," jelas Abu Jahal.
Tantangan Raja.
Raja Habib kemudian ingin bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Maka datanglah Rasulullah beserta Abu Bakar dan Siti Khadijah. Wajah Rasulullah SAW saat itu terlihat memancarkan cahaya yang suci.
"Wahai Muhammad, kamu pun tahu bahwa setiap Nabi itu ada mukjizatnya, jadi apakah mukjizat kamu itu?" tanya Raja Habib.
"Katakan saja apa yang kamu kehendaki?" tutur Rasulullah SAW.
"Aku ingin matahari itu terbenam dan bulan pula hendak turun ke bumi dan kemudian terbelah menjadi dua, setengah bagian bulan itu kemudian masuk di bajumu dan sebagian keluar melalui lengan bajumu yang kanan.
Setelah itu bulan hendaklah berkumpul menjadi satu di atas kepalamu dan bersaksi atasmu, kemudian bulan itu kembali ke langit. Sesudah itu hendaklah matahari yang tenggelam muncul kembali," pintanya.
"Apakah kamu mau beriman kepadakusetelah aku melakukan segala apa yang kamu kehendaki?" tanya Rasulullah.
"Ya, aku akan beriman kepadamu setelah kamu dapat membuktikan segala isi hatiku," janjinya.
Rasulullah SAW pun keluar lalu pergi mendaki gunung ABi Quais, kemudian Baginda mengerjakan shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah SWT. Setelah berdoa maka turunlah malaikat Jibril bersama 12 ribu malaikat yang memegang panah di tangan mereka.
"Wahai kekasihku, janganlah kamu takut dan bersusah hati. Aku senantiasa bersamamu, ketahuilah sesungguhnya Allah SWT telah menundukkan matahari, bulan, malam dan siang. Sesungguhnya Raja Habib itu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai kedua tangan, kedua kaki dan tidak mempunyai kedua mata. Katakan kepadanya bahwa Allah SWT telah mengembalikan kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua matanya," ujar Malaikat Jibril.
Menyuruh Matahari.
Setelah itu Rasulullah turun dari gunung ABi QUbais dengan rasa tenang, dengan disaksikan Raja Habib, matahari mulai berlari, cepat tenggelam dan hari pun menjadi gelap gulita. Setelah bulan meninggi, Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan dua jarinya-jarinya untuk membelah bulan itu. Semua permintaan Raja Habib akhirnya dapat dipenuhi oleh Rasulullah SAW.
"Wahai Muhammad, aku masih ada satu syarat lagi," kata Raja Habib.
Belum sempat Raja Habib berkata maka Rasulullah SAW langsung menyahutinya bahwa Raja Habib ini mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai dua tangan, dua kaki dan dua mata.
"Maka ketahuilah olehmu,sesungguhnya Allah SWT telah mengembalikan kedua tangan, kedua kaki dan kedua mata putrimu," sabda Rasul.
Mendengar penuturan itu, Raja Habib langsung menyatakan keislamannya, lantas diikuti oleh seluruh pasukannya.
Setelah Raja Habib pulang ke kerajaannya, ia berdecak kagum karena mendapati puterinya dalam kondisi sempurna. Putrinya yang semula cacat maka saat itu juga bisa sembuh total.
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi yang Mampu Menahan Terbenamnya Matahari
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ada seorang Nabi yang Mampu Menahan Terbenamnya Matahari, siapakah nabi tersebut...
Sumber adalah hadits Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah ra.
Nabi Yusya' bersama kaumnya, Bani Israil, mengepung kota tersebut sampai 6 bulan lamanya.
Pada suatu hari, mereka bersepakat untuk menyerbu sampai ke dalam. Dengan diiringi suara terompet dan pekikan takbir, serta semangat yang kuat, mereka berhasil menghancurkan benteng kota dan memasukinya.
Di dalam kota Jerica, mereka mengambil harta rampasan dan membunuh siapa saja yang mencoba menghalanginya.
Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa di Syam.
Hari itu adalah hari Jum'at, peperangan belum juga usai sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jum'at akan segera berlalu dan hari Sabtu akan segera tiba. Padahal, menurut syariat, pada hari sabtu dilarang untuk melakukan peperangan.
"Wahai Matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah SWT, demikian pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam terlebih dahulu."
Dengan izin Allah SWT, matahari itu tidak terbenam dulu, sebelum negeri itu ditaklukkan.
Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, mereka pun hidup di dalamnya dan Nabi Yusya' yang memerintah mereka dengan kitab Allah, kitab Taurat sampai akhir hayatnya.
Beliau kembali ke hadirat Allah SWT saat berumur 127 tahun dan masa hidupnya 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa as.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan untuk terbenam hanya karena seorang manusia yang bernama Yusya' yaitu pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis untuk berjihad."
Diriwaytkan pula oleh Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW. Ada seorang Nabi dari Nabi-Nabi Allah yang ingin berperang, dan dia berkata,
"Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini, seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan mereka mengharapkan seorang anak, tapi belum mendapatkannya. Begitu pula orang yang membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu binatang itu beranak."
Maka berangkatlah Nabi itu berjihad.
Ketika sudah berada di dekat daerah yang dituju, saat Ashar telah tiba atau hampir tiba, maka Nabi itu berkata kepada matahari,
"Wahai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah dan aku pun demikian. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam."
Maka Allah SWT menahan matahari itu hingga Nabi itu bersama kaumnya menaklukkan daerah tersebut. Kemudian mereka Mengumpulkan semua harta rampasan di sutau tempat. Namun tiba-tiba saja ada api yang menyambar, tetapi api tidak sampai membakar harta rampasan itu.
Nabi Yusya' berkata,
"Diantara kalian ada yang berkhianat, masih menyimpan sebagian harta rampasan. Aku harap seseorang dari setiap kabilah bersumpah kepadaku."
Satu persatu seseorang dari tiap kabilah bersumpah.
Tiba-tiba tangan Nabi Yusya' lengket pada tangan dua atau tiga orang.
"Kalian berkhianat," teriak Nabi Yusya'.
Dan orang-orang yang berkhianat itu mengeluarkan emas sebesar kepala sapi.
Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lainnya. Harta rampasan itu dukumpulkan di sebuah lapangan, dan tiba-tiba saja datanglah api menyambar dan melalapnya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita, dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita."
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Ada seorang Nabi yang Mampu Menahan Terbenamnya Matahari, siapakah nabi tersebut...
Sumber adalah hadits Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah ra.
KISAHNYA
Setelah Nabi Musa as wafat, Nabi Yusya' bin Nun membawa Bani Israil untuk keluar dari padang pasir. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica (Yeriko). Kota Jerica adalah sebuah kota yang mempunyai benteng dan pintu gerbang yang sangat kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi-tinggi serta berpenduduk padat.Nabi Yusya' bersama kaumnya, Bani Israil, mengepung kota tersebut sampai 6 bulan lamanya.
Pada suatu hari, mereka bersepakat untuk menyerbu sampai ke dalam. Dengan diiringi suara terompet dan pekikan takbir, serta semangat yang kuat, mereka berhasil menghancurkan benteng kota dan memasukinya.
Di dalam kota Jerica, mereka mengambil harta rampasan dan membunuh siapa saja yang mencoba menghalanginya.
Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa di Syam.
Hari itu adalah hari Jum'at, peperangan belum juga usai sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jum'at akan segera berlalu dan hari Sabtu akan segera tiba. Padahal, menurut syariat, pada hari sabtu dilarang untuk melakukan peperangan.
Doa Nabi
Nabi Yusya' kemudian berkata,"Wahai Matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah SWT, demikian pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam terlebih dahulu."
Dengan izin Allah SWT, matahari itu tidak terbenam dulu, sebelum negeri itu ditaklukkan.
Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, mereka pun hidup di dalamnya dan Nabi Yusya' yang memerintah mereka dengan kitab Allah, kitab Taurat sampai akhir hayatnya.
Beliau kembali ke hadirat Allah SWT saat berumur 127 tahun dan masa hidupnya 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa as.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan untuk terbenam hanya karena seorang manusia yang bernama Yusya' yaitu pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis untuk berjihad."
Diriwaytkan pula oleh Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW. Ada seorang Nabi dari Nabi-Nabi Allah yang ingin berperang, dan dia berkata,
"Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini, seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan mereka mengharapkan seorang anak, tapi belum mendapatkannya. Begitu pula orang yang membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu binatang itu beranak."
Maka berangkatlah Nabi itu berjihad.
Ketika sudah berada di dekat daerah yang dituju, saat Ashar telah tiba atau hampir tiba, maka Nabi itu berkata kepada matahari,
"Wahai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah dan aku pun demikian. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam."
Maka Allah SWT menahan matahari itu hingga Nabi itu bersama kaumnya menaklukkan daerah tersebut. Kemudian mereka Mengumpulkan semua harta rampasan di sutau tempat. Namun tiba-tiba saja ada api yang menyambar, tetapi api tidak sampai membakar harta rampasan itu.
Nabi Yusya' berkata,
"Diantara kalian ada yang berkhianat, masih menyimpan sebagian harta rampasan. Aku harap seseorang dari setiap kabilah bersumpah kepadaku."
Satu persatu seseorang dari tiap kabilah bersumpah.
Tiba-tiba tangan Nabi Yusya' lengket pada tangan dua atau tiga orang.
"Kalian berkhianat," teriak Nabi Yusya'.
Dan orang-orang yang berkhianat itu mengeluarkan emas sebesar kepala sapi.
Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lainnya. Harta rampasan itu dukumpulkan di sebuah lapangan, dan tiba-tiba saja datanglah api menyambar dan melalapnya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita, dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita."
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi Idris Pingsan Melihat Neraka dan Surga
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi Idris as di masa hidupnya, Allah SWT telah mengaruniakan untuk mengunjungi surga maupun neraka. DI kedua tempat itu, Nabi Idris as pingsan begitu melihat pemandangan yang dilihat dikedua tempat itu.
Kisahnya.
Nabi Idris as adalah seorang Nabi yang kuat sekali ibadahnya, bahkan malaikat sangat kagum atas kesalehan beliau. Pada suatu saat, Malaikat Izrail dan Nabi Idris as beribadah bersama-sama. Nah, pada kesempatan itu Nabi Idris as mengajukan permintaan kepada Malaikat Izrail untuk dapat melihat surga dan neraka.
Malaikat Izrail tidak dapat memutuskan permintaan Nabi Idris as. Namun Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan karenanya Nabi Idris as diizinkan berkunjung ke neraka dan ke surga ditemani Malaikat Izrail.
Pertama-tama Nabi Idrsi as mengunjungi neraka.
"Wahai Nabiyullah, kenapa ingin melihat neraka? Bahkan para malaikat pun takut melihatnya," tanya Malaikat Izrail.
Dijawab olah Nabi Idris as,
"Sebenarnya saya takut sekali kepada azab Allah SWT. Tapi mudah-mudahan iman saya menjadi tebal setelah melihatnya."
Begitu mereka sudah sampai agak dekat dengan neraka, Nabi Idris as pun tersungkur pingsan. Penjaga neraka adalah malaikat yang sangat menakutkan. Malaikat itu menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah SWT semasa hidupnya. Nabi Idris as tak mampu menyaksikan berbagai siksaan yang sangat mengerikan.
Api neraka berkobar sangat dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan dan tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding dengan neraka.
"Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah...,"berkali kali terucap dari mulut beliau sesaat setelah tersadar ari pingsannya.
(Seorang nabi saja sampai pingsan melihat neraka, bagaimana dengan manusia biasa seperti kita?).
Setelah siuman, dengan tubuh yang masih lemas Nabi Idris as melanjutkan perjalanan ke surga ditemani Malaikat Izrail juga. Di pintu surga beliau disambut Malaikat Ridwan yang menjaga Surga. Malaikat Ridwan dengan penuh lemah lembut mempersilahkan Nabi Idris as untuk memasuki tempat yang mulia penuh kenikmatan tersebut.
Begitu masuk ke dalam surga, lagi-lagi Nabi Idris as tersungkur lagi karena penuh takjub.
Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan bagi siapa yang memandangnya. Namun Nabi Idris as pingsan hanya sebentar saja. Tanpa bisa berkata apa-apa selain ucapan,
"Subhanallah....Subhanallah...Subhanallah...,"berkali-kali keluar dari mulut beliau.
Itulah Kisah Teladan dari nabi Idris as yang sangat saleh dan taat kepada Allah SWT hingga beliau sampai pingsan begitu melihat neraka maupun surga.
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi Idris as di masa hidupnya, Allah SWT telah mengaruniakan untuk mengunjungi surga maupun neraka. DI kedua tempat itu, Nabi Idris as pingsan begitu melihat pemandangan yang dilihat dikedua tempat itu.
Kisahnya.
Nabi Idris as adalah seorang Nabi yang kuat sekali ibadahnya, bahkan malaikat sangat kagum atas kesalehan beliau. Pada suatu saat, Malaikat Izrail dan Nabi Idris as beribadah bersama-sama. Nah, pada kesempatan itu Nabi Idris as mengajukan permintaan kepada Malaikat Izrail untuk dapat melihat surga dan neraka.
Malaikat Izrail tidak dapat memutuskan permintaan Nabi Idris as. Namun Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan karenanya Nabi Idris as diizinkan berkunjung ke neraka dan ke surga ditemani Malaikat Izrail.
Pertama-tama Nabi Idrsi as mengunjungi neraka.
"Wahai Nabiyullah, kenapa ingin melihat neraka? Bahkan para malaikat pun takut melihatnya," tanya Malaikat Izrail.
Dijawab olah Nabi Idris as,
"Sebenarnya saya takut sekali kepada azab Allah SWT. Tapi mudah-mudahan iman saya menjadi tebal setelah melihatnya."
Begitu mereka sudah sampai agak dekat dengan neraka, Nabi Idris as pun tersungkur pingsan. Penjaga neraka adalah malaikat yang sangat menakutkan. Malaikat itu menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah SWT semasa hidupnya. Nabi Idris as tak mampu menyaksikan berbagai siksaan yang sangat mengerikan.
Api neraka berkobar sangat dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan dan tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding dengan neraka.
"Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah...,"berkali kali terucap dari mulut beliau sesaat setelah tersadar ari pingsannya.
(Seorang nabi saja sampai pingsan melihat neraka, bagaimana dengan manusia biasa seperti kita?).
Setelah siuman, dengan tubuh yang masih lemas Nabi Idris as melanjutkan perjalanan ke surga ditemani Malaikat Izrail juga. Di pintu surga beliau disambut Malaikat Ridwan yang menjaga Surga. Malaikat Ridwan dengan penuh lemah lembut mempersilahkan Nabi Idris as untuk memasuki tempat yang mulia penuh kenikmatan tersebut.
Begitu masuk ke dalam surga, lagi-lagi Nabi Idris as tersungkur lagi karena penuh takjub.
Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan bagi siapa yang memandangnya. Namun Nabi Idris as pingsan hanya sebentar saja. Tanpa bisa berkata apa-apa selain ucapan,
"Subhanallah....Subhanallah...Subhanallah...,"berkali-kali keluar dari mulut beliau.
Itulah Kisah Teladan dari nabi Idris as yang sangat saleh dan taat kepada Allah SWT hingga beliau sampai pingsan begitu melihat neraka maupun surga.
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Kisah Malaikat Izrail Mencabut Nyawanya Sendiri
Assalamu'alaikum wr. wb.
Seorang malaikat disuruh Allah SWT untuk mencabut nyawanya sendiri.
Bagaimanakah rasanya jika si pencabut nyawa mencabut nyawanya sendiri?
Kenapa tidak dicabut oleh malaikat Izrail? ya karena yang dicabut nyawanya adalah ya malaikat izrail itu sendiri. Karena begitu taatnya malaikat kepada Allah SWT, maka dicabut jualah nyawanya sendiri itu.
Bagaimana Kisahnya...
KISAHNYA.
Adalah Malaikat Izrail yang telah diberi tugas oleh Allah SWT sebagai malaikat pencabut nyawa. Kelak pada saat Malaikat Israfil yang bertugas meniup terompet sangkakala, maka nanti kiamat akan terjadi. Saat itu semua yang hidup akan mati.
Hari itu kiamat telah tiba, dan sang sangkakala pun ditiuplah sebanyak tiga kali.
Nah, pada saat sangkakala ditiup oleh malikat Israfil, maka matilah semua makhluk, kecuali:
1. Malaikat Jibril.
2. Malaikat Izrail.
3. Malaikat Israfil.
4. Hamalatul Arsy.
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Malaikat Izrail untuk mencabut roh-roh semua malaikat-malaikat di atas. Dan malaikat Izrail melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.
Malaikat IZRAIL Menjerit dengan Keras.
Setelah ketiga malaikat tadi sudah dicabut, giliran Malaikat Izrail, hanya ada Allah SWT dan malaikat Izrail saja setelah itu.
Allah SWT berfirman,
"Hai Malakulmaut (malaikat izrail), tidakkah kamu mendengar FirmanKu, Kullu Nafsin Dza'iqatul maut, tidakkah engkau tahu setiap yang bernyawa itu akan merasakan mati."
Allah SWT berfirman lagi,
"Aku jadikan engkau untuk tugas itu dan engkau juga harus mati."
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ketika Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya sendiri. Maka pergilah Malaikat Izrail ke sebuah tempat antara surga dan neraka. DI tempat itulah Malaikat Izrail mencabut rohnya sendiri.
Saat rohnya dicabut, maka menjeritlah Malaikat Izrail dengan sangat keras, bahkan dengan jeritannya itu bila masih ada makhluk yang hidup, maka dia akan binasa, karena jeritannya super dahsyat.
Malaikat Izrail berkata,
"Kalaulah aku tahu bagaimana sakitnya saat roh dicabut, maka aku sudah barang tentu akan mencabut roh orang-orang mukmin dengan cara yang paling lembut sekali."
Setelah Malaikat Izrail mati, maka tinggal Allah SWT sajalah yang Maha Berdiri, Maha Esa, Maha Berkuasa, Maha dan Maha lainnya.
Manusia Dibangkitakan.
Nah, setelah hanya Allah SWT saja yang jumeneng, maka Allah SWT kemudian menghidupkan Malaikat Israfil dan Hamalatul Arsy. Allah SWT memerintahkan Malaikat Israfil untuk meletakkan terompet sangkakala di mulutnya, menunggu perintah Yang Maha Kuasa selanjutnya (belum ditiup).
Kemudian malaikat ketiga yang dihidupkan Allah SWT adalah Malaikat Jibril, dan yang keempat Malaikat Mikail. Dan setelah Malaikat Jibril dan Mikail dihidupkan
Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail untuk pergi ke makam Rasulullah SAW dengan membawa perhiasan-perhiasan dari surga dengan mengendarai BUROQ (Sejenis hewan tunggangan Rasulullah SAW pada saat Isra' Mi'raj).
Kemudian Allah SWT menghidupkan Nabi Muhammad SAW, barulah kemudian semua manusia dihidupkan.
Semua manusia keluar dari dalam perut bumi dalam keadaan telanjang bulat, berjalan menuju Tuhan mereka. Kemudian mereka (manusia) berhenti di suatu tempat selama 70 tahun dan Allah SWT membiarkan mereka. Hanya isak tangis, banjir air mata hingga sampai mulut manusia itu sendiri.
(Riwayat Abu Hurairah ra).
Tambahan:
Aku merasa, beruntunglah kita umat Nabi Muhammad SAW karena Beliau telah membocorkan rahasia ini kepada umatnya. Dan ucapan Rasulullah SAW adalah selalu benar kan. Ayo persiapkan diri kita sendiri masing-masing, aku ulangi masing-masing, karena tiada penolong di pemberhentian 70 tahun itu selain amal ibadah kita selama hidup di dunia ini.)
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Seorang malaikat disuruh Allah SWT untuk mencabut nyawanya sendiri.
Bagaimanakah rasanya jika si pencabut nyawa mencabut nyawanya sendiri?
Kenapa tidak dicabut oleh malaikat Izrail? ya karena yang dicabut nyawanya adalah ya malaikat izrail itu sendiri. Karena begitu taatnya malaikat kepada Allah SWT, maka dicabut jualah nyawanya sendiri itu.
Bagaimana Kisahnya...
Adalah Malaikat Izrail yang telah diberi tugas oleh Allah SWT sebagai malaikat pencabut nyawa. Kelak pada saat Malaikat Israfil yang bertugas meniup terompet sangkakala, maka nanti kiamat akan terjadi. Saat itu semua yang hidup akan mati.
Hari itu kiamat telah tiba, dan sang sangkakala pun ditiuplah sebanyak tiga kali.
- Tiupan pertama untuk menakuti siapa saja yang hidup.
- Tiupan kedua untuk mematikan segala makhluk yang ada di bumi.
- Tiupan ketiga untuk membangkitkan segala yang mati.
Nah, pada saat sangkakala ditiup oleh malikat Israfil, maka matilah semua makhluk, kecuali:
1. Malaikat Jibril.
2. Malaikat Izrail.
3. Malaikat Israfil.
4. Hamalatul Arsy.
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Malaikat Izrail untuk mencabut roh-roh semua malaikat-malaikat di atas. Dan malaikat Izrail melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.
Malaikat IZRAIL Menjerit dengan Keras.
Setelah ketiga malaikat tadi sudah dicabut, giliran Malaikat Izrail, hanya ada Allah SWT dan malaikat Izrail saja setelah itu.
Allah SWT berfirman,
"Hai Malakulmaut (malaikat izrail), tidakkah kamu mendengar FirmanKu, Kullu Nafsin Dza'iqatul maut, tidakkah engkau tahu setiap yang bernyawa itu akan merasakan mati."
Allah SWT berfirman lagi,
"Aku jadikan engkau untuk tugas itu dan engkau juga harus mati."
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ketika Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya sendiri. Maka pergilah Malaikat Izrail ke sebuah tempat antara surga dan neraka. DI tempat itulah Malaikat Izrail mencabut rohnya sendiri.
Saat rohnya dicabut, maka menjeritlah Malaikat Izrail dengan sangat keras, bahkan dengan jeritannya itu bila masih ada makhluk yang hidup, maka dia akan binasa, karena jeritannya super dahsyat.
Malaikat Izrail berkata,
"Kalaulah aku tahu bagaimana sakitnya saat roh dicabut, maka aku sudah barang tentu akan mencabut roh orang-orang mukmin dengan cara yang paling lembut sekali."
Setelah Malaikat Izrail mati, maka tinggal Allah SWT sajalah yang Maha Berdiri, Maha Esa, Maha Berkuasa, Maha dan Maha lainnya.
Manusia Dibangkitakan.
Nah, setelah hanya Allah SWT saja yang jumeneng, maka Allah SWT kemudian menghidupkan Malaikat Israfil dan Hamalatul Arsy. Allah SWT memerintahkan Malaikat Israfil untuk meletakkan terompet sangkakala di mulutnya, menunggu perintah Yang Maha Kuasa selanjutnya (belum ditiup).
Kemudian malaikat ketiga yang dihidupkan Allah SWT adalah Malaikat Jibril, dan yang keempat Malaikat Mikail. Dan setelah Malaikat Jibril dan Mikail dihidupkan
Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail untuk pergi ke makam Rasulullah SAW dengan membawa perhiasan-perhiasan dari surga dengan mengendarai BUROQ (Sejenis hewan tunggangan Rasulullah SAW pada saat Isra' Mi'raj).
Kemudian Allah SWT menghidupkan Nabi Muhammad SAW, barulah kemudian semua manusia dihidupkan.
Semua manusia keluar dari dalam perut bumi dalam keadaan telanjang bulat, berjalan menuju Tuhan mereka. Kemudian mereka (manusia) berhenti di suatu tempat selama 70 tahun dan Allah SWT membiarkan mereka. Hanya isak tangis, banjir air mata hingga sampai mulut manusia itu sendiri.
(Riwayat Abu Hurairah ra).
Tambahan:
Aku merasa, beruntunglah kita umat Nabi Muhammad SAW karena Beliau telah membocorkan rahasia ini kepada umatnya. Dan ucapan Rasulullah SAW adalah selalu benar kan. Ayo persiapkan diri kita sendiri masing-masing, aku ulangi masing-masing, karena tiada penolong di pemberhentian 70 tahun itu selain amal ibadah kita selama hidup di dunia ini.)
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Kisahnya Nabi Musa Ingin Melihat Tuhan
Assalamu'alaikum wr. wb.
Kisah berikut ini memang benar-benar nyata dan terjadi, karena Allah SWT sendirilah yang mengabarkan kepada kita via Al Qur'an.
Kisahnya.
Pada suatu ketika Nabi Musa telah memenuhi panggilan Allah subhana wa Ta'ala. Beliau naik ke gunung sinai (Thursina) setelah beliau menyempurnakan 40 malam yang diisi dengan puasa dan beribadah sendirian diatas gunung itu. Allah SWT pun berfirman dan menurunkan Taurat kepada beliau.
Kemudian Nabi Musa as pun sangat rindu untuk melihat wajah Sang Kekasih yang telah berkata-kata kepada nya, wajah Rabb nya.
" Dan tatkala Musa datang menurut waktu yang telah kami tentukan . Dan telah berfirman Rabb nya kepadanya : berkatalah ia, ya Rabb perlihatkanlah (dirimu) keapadaku , agar aku dapat memandang Engkau"
Berkatalah Allah : Engkau sekali-kali tidak akan mampu melihatku, tetapi arahkanlah pandangan engkau ke gunung itu. Maka jika ia tetap pada tempatnya , niscaya engkau dapat melihatku.
Setelah mendengar permintaan Nabi Musa as itu, kemudian Allah SWT berfirman : "Wahai putra Imran, sesungguhnya tidak akan ada yang sanggup untuk melihat KU, kemudian ia mampu untuk tetap hidup. "
Nabi Musa as berkata : Ya Rabbi, tidak ada sesuatupun yang menyekutui MU, sesungguhnya melihat MU dan kemudian mati itu lebih aku sukai daripada aku terus hidup tanpa melihat MU. Rabbi, sempurnakanlah nikmat, anugerah dan hikmat MU kepada ku dengan mengabulkan permohonanku ini, setelah itu aku rela mati "
Ibnu Abbas ra, sahabat Rasulullah saw meriwayatkan bahwa ketika Allah SWT mengethaui Nabi Musa as ingin dikabulkan, maka berfirman Allah : " Pergilah engkau, dan lihatlah batu di atas puncak gunung itu, duduklah engkau diatas batu itu, kemudian Aku akan menurunkan bala tentara KU kepada mu. "
Dan ketika telah sampai di puncak batu tersebut, maka Allah pun menurunkan bala tentaranya, para malaikat hingga langit ketujuh, untuk menampakkan diri kepadaya. Diperintahkan para malaikat penghuni langit untuk menampakkan diri di hadapan nabi MUsa as. sambil mengeraskan suara tasbih, tahlil mereka, bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar.
Kemudian para malaikat penhuni langit kedua diperintahkan menampakkan diri, dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam, mereka bersayap dan memiliki raut muka, diantaranya ada yang berbentuk seperti singa. Berlalu di hadapan Nabi Musa sambil mengeraskan suara -suara tasbihnya.
Mendengar teriakan-teriakan tersebut, Nabi Musa merasa ngeri dan kemudian berkata : Ya Rabi, sungguh aku menyesal atas permohonanku. Apakah engkau berkehendak untuk menyelamatkanku dari tempat ini ?
Pimpinan dari kelompok malaikat tersebut berkata :
Hai Musa, bersabarlah atas apa yang engkau minta, apa yang engkau lihat ini baru sebagian kecil saja.
Allah SWT memerintahkan para penghuni langit ketiga turun. Lalu keluarlah malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya dengan aneka ragam bentuk dan warnanya. Ada yang seperti api yang menjilat-jilat, mereka memekikkan tasbih, tahlil dengan suara hiruk pikuk menggelegar.
Nabi Musa semakin berputus asa. dan kelompok malaikat itu berkata : wahai Musa, bersabarlah hingga engkau tidak akan sanggup lagi untuk melihatnya.
Kemudian penghuni langit keempat turun.
Ada yang berbentuk seperti kobaran api yang menjilat-jilat, ada pula yang seperti salju. Dengan suara melengking mereka memekikkan tasbih dan tahlil.
Demikianlah , Penghuni dari setiap langit turun satu demi satu. Semua malaikat tersebut bergerak maju sambil cahayanya menyambar semua mata yang ada. Mereka datang membawa tombak yang sangat panjang dan lebar. Tombak-tombak itu bagaikan api yang bersinar terang benderang melebihi sinar matahari.
Nabi Musa as menangis dan meratap. Ya Rabbi, ingatlah aku, jangan Engkau lupakan diriku. Aku adalah hamba Mu. Aku tidak mempunyai keyakinan bahwa aku akan selamat dari tempat ini. Jika aku keluar maka aku akan terbakar, jika aku masih disini aku akan mati.
Ketua para malaikat itu pun berkata : Nyaris dirimu dipenuhi ketakutan dan nyaris hatimu terlepas wahai Musa. Tempat yang engkau gunakan untuk duduk adalah tempat yang akan engkau pergunakan untuk melihat Rabb.
Kemudian turunlah malaikat Jibril as, Mikail as dan Israfil as, beserta seluruh malaikat penghuni langit ketujuh, termasuk pemikul Al Arsy dan Al Kursi. Mereka secara bersama-sama menghadap kepada Nabi Musa as sambil berkata :
Wahai orang yang terus menerus salah. Apa yang menyebabkanmu naik ke atas bukit ini. Mengapa engkau memberanikan diri meminta Rabbmu untuk dapat melihat Nya ? Nabi Musa as gemetar hingga kedua lututnya seakan-akan luruh dari persendian.
Ketika Allah SWT melihat itu, maka ditampakkanlah tiang-tiang penyangga Al Arsy, lalu Nabi Musa as bersandar pada salah satu tiang tersebut hingga hatinya tenang.
Malaikat Israfil berkata : Hai MUsa, demi Allah, kami ini sekalipun pemimpin para malaikat, sejak kami diciptakan kami tidak berani mengangkat pandangan mata kami ke arah Al Arsy. Karena kami sangat khawatir dan sangat takut kepada Rabb. Mengapa engkau berani melakukan ini wahai hamba yang lemah ?
Setelah hatinya tenang, Nabi Musa menjawab : Wahai Israfil, aku hanya ingin mngetahui akan Keagungan Wajah Rabb ku yang selama ini aku belum pernah melihatnya.
Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepada langit : AKU akan menampakkan Diri, bertajali pada gunung itu
Maka begetarlah seluruh langit dan bumi, gunung, matahari, bulan, mega, surga , neraka, para malaikat dan samudera. Semua bersungkur sujud, sementara Nabi Musa as masih memandang ke arah gunung itu.
Tatkala Rabbnya menampakkan diri diatas gunung , maka hancur luluhlah gunung itu dan nabi Musa pun jatuh pingsan.
Nabi Musa as seakan -akan mati karena pancaran Cahaya Allah SWT yang Mulia dan ia terjatuh dari batu dan batu itu sendiri terjungkal terbalik menjadi semacam kubah yang menaungi nabi Musa as agar tidak terbakar Cahaya.
Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril as untuk membalikkan batu itu dari tubuh nya. Wajah nabi Musa as memancarkan cahaya kemuliaan, rambutnya memutih karena cahaya.
"Maka setelah Musa tersadar kembali, dia berkata: Maha Suci Engkau , aku sungguh bertaubat kepada MU dan aku adalah orang yang pertama kali beriman
(QS. Al-A'raf).
Nabi Musa pun berkata,
"Saya beriman, bahwa sesungguhnya tidak ada seorangpun yang mampu melihat Mu ya Allah dengan mata lahir, kecuali ia akan mati."
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Kisah berikut ini memang benar-benar nyata dan terjadi, karena Allah SWT sendirilah yang mengabarkan kepada kita via Al Qur'an.
Kisahnya.
Pada suatu ketika Nabi Musa telah memenuhi panggilan Allah subhana wa Ta'ala. Beliau naik ke gunung sinai (Thursina) setelah beliau menyempurnakan 40 malam yang diisi dengan puasa dan beribadah sendirian diatas gunung itu. Allah SWT pun berfirman dan menurunkan Taurat kepada beliau.
Kemudian Nabi Musa as pun sangat rindu untuk melihat wajah Sang Kekasih yang telah berkata-kata kepada nya, wajah Rabb nya.
" Dan tatkala Musa datang menurut waktu yang telah kami tentukan . Dan telah berfirman Rabb nya kepadanya : berkatalah ia, ya Rabb perlihatkanlah (dirimu) keapadaku , agar aku dapat memandang Engkau"
Berkatalah Allah : Engkau sekali-kali tidak akan mampu melihatku, tetapi arahkanlah pandangan engkau ke gunung itu. Maka jika ia tetap pada tempatnya , niscaya engkau dapat melihatku.
Setelah mendengar permintaan Nabi Musa as itu, kemudian Allah SWT berfirman : "Wahai putra Imran, sesungguhnya tidak akan ada yang sanggup untuk melihat KU, kemudian ia mampu untuk tetap hidup. "
Nabi Musa as berkata : Ya Rabbi, tidak ada sesuatupun yang menyekutui MU, sesungguhnya melihat MU dan kemudian mati itu lebih aku sukai daripada aku terus hidup tanpa melihat MU. Rabbi, sempurnakanlah nikmat, anugerah dan hikmat MU kepada ku dengan mengabulkan permohonanku ini, setelah itu aku rela mati "
Ibnu Abbas ra, sahabat Rasulullah saw meriwayatkan bahwa ketika Allah SWT mengethaui Nabi Musa as ingin dikabulkan, maka berfirman Allah : " Pergilah engkau, dan lihatlah batu di atas puncak gunung itu, duduklah engkau diatas batu itu, kemudian Aku akan menurunkan bala tentara KU kepada mu. "
Dan ketika telah sampai di puncak batu tersebut, maka Allah pun menurunkan bala tentaranya, para malaikat hingga langit ketujuh, untuk menampakkan diri kepadaya. Diperintahkan para malaikat penghuni langit untuk menampakkan diri di hadapan nabi MUsa as. sambil mengeraskan suara tasbih, tahlil mereka, bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar.
Kemudian para malaikat penhuni langit kedua diperintahkan menampakkan diri, dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam, mereka bersayap dan memiliki raut muka, diantaranya ada yang berbentuk seperti singa. Berlalu di hadapan Nabi Musa sambil mengeraskan suara -suara tasbihnya.
Mendengar teriakan-teriakan tersebut, Nabi Musa merasa ngeri dan kemudian berkata : Ya Rabi, sungguh aku menyesal atas permohonanku. Apakah engkau berkehendak untuk menyelamatkanku dari tempat ini ?
Pimpinan dari kelompok malaikat tersebut berkata :
Hai Musa, bersabarlah atas apa yang engkau minta, apa yang engkau lihat ini baru sebagian kecil saja.
Allah SWT memerintahkan para penghuni langit ketiga turun. Lalu keluarlah malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya dengan aneka ragam bentuk dan warnanya. Ada yang seperti api yang menjilat-jilat, mereka memekikkan tasbih, tahlil dengan suara hiruk pikuk menggelegar.
Nabi Musa semakin berputus asa. dan kelompok malaikat itu berkata : wahai Musa, bersabarlah hingga engkau tidak akan sanggup lagi untuk melihatnya.
Kemudian penghuni langit keempat turun.
Ada yang berbentuk seperti kobaran api yang menjilat-jilat, ada pula yang seperti salju. Dengan suara melengking mereka memekikkan tasbih dan tahlil.
Demikianlah , Penghuni dari setiap langit turun satu demi satu. Semua malaikat tersebut bergerak maju sambil cahayanya menyambar semua mata yang ada. Mereka datang membawa tombak yang sangat panjang dan lebar. Tombak-tombak itu bagaikan api yang bersinar terang benderang melebihi sinar matahari.
Nabi Musa as menangis dan meratap. Ya Rabbi, ingatlah aku, jangan Engkau lupakan diriku. Aku adalah hamba Mu. Aku tidak mempunyai keyakinan bahwa aku akan selamat dari tempat ini. Jika aku keluar maka aku akan terbakar, jika aku masih disini aku akan mati.
Ketua para malaikat itu pun berkata : Nyaris dirimu dipenuhi ketakutan dan nyaris hatimu terlepas wahai Musa. Tempat yang engkau gunakan untuk duduk adalah tempat yang akan engkau pergunakan untuk melihat Rabb.
Kemudian turunlah malaikat Jibril as, Mikail as dan Israfil as, beserta seluruh malaikat penghuni langit ketujuh, termasuk pemikul Al Arsy dan Al Kursi. Mereka secara bersama-sama menghadap kepada Nabi Musa as sambil berkata :
Wahai orang yang terus menerus salah. Apa yang menyebabkanmu naik ke atas bukit ini. Mengapa engkau memberanikan diri meminta Rabbmu untuk dapat melihat Nya ? Nabi Musa as gemetar hingga kedua lututnya seakan-akan luruh dari persendian.
Ketika Allah SWT melihat itu, maka ditampakkanlah tiang-tiang penyangga Al Arsy, lalu Nabi Musa as bersandar pada salah satu tiang tersebut hingga hatinya tenang.
Malaikat Israfil berkata : Hai MUsa, demi Allah, kami ini sekalipun pemimpin para malaikat, sejak kami diciptakan kami tidak berani mengangkat pandangan mata kami ke arah Al Arsy. Karena kami sangat khawatir dan sangat takut kepada Rabb. Mengapa engkau berani melakukan ini wahai hamba yang lemah ?
Setelah hatinya tenang, Nabi Musa menjawab : Wahai Israfil, aku hanya ingin mngetahui akan Keagungan Wajah Rabb ku yang selama ini aku belum pernah melihatnya.
Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepada langit : AKU akan menampakkan Diri, bertajali pada gunung itu
Maka begetarlah seluruh langit dan bumi, gunung, matahari, bulan, mega, surga , neraka, para malaikat dan samudera. Semua bersungkur sujud, sementara Nabi Musa as masih memandang ke arah gunung itu.
Tatkala Rabbnya menampakkan diri diatas gunung , maka hancur luluhlah gunung itu dan nabi Musa pun jatuh pingsan.
Nabi Musa as seakan -akan mati karena pancaran Cahaya Allah SWT yang Mulia dan ia terjatuh dari batu dan batu itu sendiri terjungkal terbalik menjadi semacam kubah yang menaungi nabi Musa as agar tidak terbakar Cahaya.
Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril as untuk membalikkan batu itu dari tubuh nya. Wajah nabi Musa as memancarkan cahaya kemuliaan, rambutnya memutih karena cahaya.
"Maka setelah Musa tersadar kembali, dia berkata: Maha Suci Engkau , aku sungguh bertaubat kepada MU dan aku adalah orang yang pertama kali beriman
(QS. Al-A'raf).
Nabi Musa pun berkata,
"Saya beriman, bahwa sesungguhnya tidak ada seorangpun yang mampu melihat Mu ya Allah dengan mata lahir, kecuali ia akan mati."
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Detik-Detik Wafatnya Nabi Adam as
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi Adam as sebelum meninggal dunia terlebih dahulu beliau menderita sakit.
Pada hari jumat sebelum beliau wafat, beliau memberikan wasiat kepada ahli warisnya,
Bagaimana kisahnya.
Kisahnya.
Sebagai pedoman dari kisah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Katsir, Al Qur'an, Ubay bin Ka'ab.
Setelah terbunuhnya putra Adam as yang bernama Habil, bukan main rasa sedih yang dialami oleh Nabi Adam as. Isak tangis pun terdengar bertahun-tahun mengiringi kepergiannya.
Pada akhirnya, Allah SWT memberikan pengganti, seorang anak yang bernama Syits.
Syits artinya adalah pemberian Allah SWT untuk menggantikan Habil.
Setelah Syits beranjak dewasa, Nabi Adam pun memberikan kepercayaan kepada Syits serta memberikan semua ilmunya kepadanya.
Bahkan ketika akan wafatpun Nabi Adam as memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Usia 960 tahun.
Setelah hidup selama 960 tahun dan sudah pula memiliki banyak keturunan, tibalah saatnya Nabi Adam as untuk bertemu Allah SWT.
Ibnu Katsir berkata,
"Para ahli sejarah telah menceritakan bahwa Adam as tidak akan meninggal kecuali ia sudah melihat keturunannya, dari anak, cucu, cicit terus ke bawah yang jumlah mencapai 400 ribu jiwa."
Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[1] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[2], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Penjelasan ayat:
[1] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[2] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
Konon,
Nabi Adam as jatuh sakit beberapa hari hingga pada hari Jumat datanglah malaikat untuk mencabut nyawanya sekalian bertakziah mengungkapkan bela sungkawa kepada pemegang wasiatnya yaitu Syits.
Nabi Adam as Dishalati Malaikat.
Ubay bin Ka'ab meriwayatkan.
Sesungguhnya ketika akan datang wafat, Nabi Adam as berkata kepada anak-anaknya,
"Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga."
Maka, pergilah anak-anak beliau untuk mencari buah dari surga.
Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan, ramuan minyak wangi untuk mayat, kapak, cangkul dan keranda.
Para malaikat itu berkata kepada anak-anak Adam as,
"Wahai anak-anak Nabi Adam as, apa yang kalian kehendaki dan apa yang kalian cari?"
"Bapak kami sedang sakit, ia menginkan buah dari surga," kata salah satu anak Adam as.
"Kembalilah kalian, sungguh saat ini telah datang keputusan kematian bagi bapakmu," kata malaikat.
Sesaat kemudian, malaikat sudah mendatangi nabi Adam as.
Ketika mereka tiba di rumah, Siti Hawa kaget sesaat sebelum akhirnya mengerti maksud kedatangan malaikat tersebut.
"Wahai Adam, minta tangguhlah kematianmu," kata Ibu Hawa.
"Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabbku," kata Nabi Adam as.
Akhirnya,
Para malikat mencabut nyawa Nabi Adam as pada hari Jumat. Para malaikat memandikannya, mengkafani, mengoleskan ramuan minyak wangi serta menggali liang kubur untuk Adam as.
Selanjutnya mereka menyalatinya lalu memasukkannya ke liang kubur dan menempatkannya di liang lahat.
Para malaikat juga meratakan tanah kuburnya.
Lalu para malaikat berkata,
"Wahai anak Adam, inilah tuntunan bagi kalian pada orang mati di antara kalian."
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi Adam as sebelum meninggal dunia terlebih dahulu beliau menderita sakit.
Pada hari jumat sebelum beliau wafat, beliau memberikan wasiat kepada ahli warisnya,
Bagaimana kisahnya.
![]() |
| Nabi Adam as dan Siti Hawa |
Kisahnya.
Sebagai pedoman dari kisah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Katsir, Al Qur'an, Ubay bin Ka'ab.
Setelah terbunuhnya putra Adam as yang bernama Habil, bukan main rasa sedih yang dialami oleh Nabi Adam as. Isak tangis pun terdengar bertahun-tahun mengiringi kepergiannya.
Pada akhirnya, Allah SWT memberikan pengganti, seorang anak yang bernama Syits.
Syits artinya adalah pemberian Allah SWT untuk menggantikan Habil.
Setelah Syits beranjak dewasa, Nabi Adam pun memberikan kepercayaan kepada Syits serta memberikan semua ilmunya kepadanya.
Bahkan ketika akan wafatpun Nabi Adam as memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Usia 960 tahun.
Setelah hidup selama 960 tahun dan sudah pula memiliki banyak keturunan, tibalah saatnya Nabi Adam as untuk bertemu Allah SWT.
Ibnu Katsir berkata,
"Para ahli sejarah telah menceritakan bahwa Adam as tidak akan meninggal kecuali ia sudah melihat keturunannya, dari anak, cucu, cicit terus ke bawah yang jumlah mencapai 400 ribu jiwa."
Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[1] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[2], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Penjelasan ayat:
[1] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[2] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
Konon,
Nabi Adam as jatuh sakit beberapa hari hingga pada hari Jumat datanglah malaikat untuk mencabut nyawanya sekalian bertakziah mengungkapkan bela sungkawa kepada pemegang wasiatnya yaitu Syits.
Nabi Adam as Dishalati Malaikat.
Ubay bin Ka'ab meriwayatkan.
Sesungguhnya ketika akan datang wafat, Nabi Adam as berkata kepada anak-anaknya,
"Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga."
Maka, pergilah anak-anak beliau untuk mencari buah dari surga.
Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan, ramuan minyak wangi untuk mayat, kapak, cangkul dan keranda.
Para malaikat itu berkata kepada anak-anak Adam as,
"Wahai anak-anak Nabi Adam as, apa yang kalian kehendaki dan apa yang kalian cari?"
"Bapak kami sedang sakit, ia menginkan buah dari surga," kata salah satu anak Adam as.
"Kembalilah kalian, sungguh saat ini telah datang keputusan kematian bagi bapakmu," kata malaikat.
Sesaat kemudian, malaikat sudah mendatangi nabi Adam as.
Ketika mereka tiba di rumah, Siti Hawa kaget sesaat sebelum akhirnya mengerti maksud kedatangan malaikat tersebut.
"Wahai Adam, minta tangguhlah kematianmu," kata Ibu Hawa.
"Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabbku," kata Nabi Adam as.
Akhirnya,
Para malikat mencabut nyawa Nabi Adam as pada hari Jumat. Para malaikat memandikannya, mengkafani, mengoleskan ramuan minyak wangi serta menggali liang kubur untuk Adam as.
Selanjutnya mereka menyalatinya lalu memasukkannya ke liang kubur dan menempatkannya di liang lahat.
Para malaikat juga meratakan tanah kuburnya.
Lalu para malaikat berkata,
"Wahai anak Adam, inilah tuntunan bagi kalian pada orang mati di antara kalian."
Sumber
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Nabi Ilyasa Bisa Menghidupkan Orang Mati
Assalamu'alaikum wr. wb.
Kisah teladan Islami hadir kembali menemani kalian dengan kisah Nabi Ilyasa yang jarang ditulis oleh banyak orang. Kali ini kisahnya mengenai kemampuan Nabi Ilyasaa yang bisa menghidupkan kembali seseorang yang sudah mati. Sangat bagus untuk kita karena bisa dijadikan pelajaran untuk umat manusia bahwa lewat tangan utusanNya, apapun bisa terjadi dan dapat dilakukan dengan mudahnya.
Salah satu nabi yang namanya disebut dalam Kitab Taurat dan Kitab Suci Al Qur'an adalah Nabi Ilyasaa. Salah satu mukjizat terbesarnya adalah kemampuannya menghidupkan orang mati.
Allah SWT berfirman,
وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِنَ الأخْيَارِ
Artinya:
"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. semuanya Termasuk orang-orang yang paling baik."
(QS. Shaad: 48).
Nabi Ilyasa merupakan nabi terpilih sebagai penerus Nabi Ilyas yang namanya disebut juga dalan kisah Nabi Ilyas. Pada saat itu Nabi Ilyas sedang dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Al Yasa. Maka besar kemungkinan Ilyasa juga tinggal di seputar lembah sungai Yordania.
Ketika Ilyas bersembunyi di rumahnya, Ilyasa masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit, yang kemudian Ilyas membantu menyembuhkan penyakitnya. Dan setelah sembuh, Ilyasa pun diangkat anak oleh Nabi Ilyas. Beliau selalu menemani Nabi Ilyas untuk menyerukan pada jalan kebaikan.
Ilyasa melanjutkan tugas kenabian tersebut begitu Nabi Ilyas meninggal dunia. Ilyasa melanjutkan misi ayah angkatnya agar kaumnya kembali taat kepada ajaran Allah SWT.
Namun Ilyasa baru mengerti bahwa manusia begitu mudah kembali ke jalan yang sesat. Hal itu terjadi tak lama setelah Nabi Ilyas wafat. Padahal masyarakat lembag sungai Yordania itu sempat mengikuti seruan Nabi Ilyas agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan itulah Ilyasa tak lelah menyeru ke jalan kebaikan.
Dikisahkan bahwa mereka tetap tak mau mendengar seruan Ilyasa dan mereka kembali menanggung bencana kekeringan yang sangat luar biasa.
Mereka terus menerus membangkang sepanjang hidup Nabi Ilyasa.
Setelah selang beberapa lama, bangsa Israel ditaklukkan oleh bangsa Assyria hingga menyebabkan kerusakan yang cukup parah di Israel.
Namun setelah itu, Nabi Ilyasa tetap meneruskan dakwahnya hingga umatnya taat kepada Allah SWT. Dalam kepemimpinanya, bani israel hidup rukun, tentram dan makmur karena berbakti pada Allah SWT. Namun sepeninggal Nabi Ilyasa, mereka kembali kufur dengan menyembah berhala.
Dalam cerita dikisahkan pada saat segolongan Bani Israel membunuh seseorang dan dikuburkan di kuburan Nabi Ilyasa, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan rombongan orang. Saat itu juga mereka melemparkan mayat itu dan tubuhnya mengenai tulang belulang Nabi Ilyasa.
Maka saat itu juga Allah SWT menghidupkan kembali mayat tersebut.
Subhanallah..
Demikian Kisah Mukjizat Nabi Ilyasa as, meskipun sudah meninggal dan tinggal tulang saja, namun ternyata tulang beliau mampu menghidupkan mayat.
Sumber
Waasalamu'alaikum wr. wb.
Kisah teladan Islami hadir kembali menemani kalian dengan kisah Nabi Ilyasa yang jarang ditulis oleh banyak orang. Kali ini kisahnya mengenai kemampuan Nabi Ilyasaa yang bisa menghidupkan kembali seseorang yang sudah mati. Sangat bagus untuk kita karena bisa dijadikan pelajaran untuk umat manusia bahwa lewat tangan utusanNya, apapun bisa terjadi dan dapat dilakukan dengan mudahnya.
Salah satu nabi yang namanya disebut dalam Kitab Taurat dan Kitab Suci Al Qur'an adalah Nabi Ilyasaa. Salah satu mukjizat terbesarnya adalah kemampuannya menghidupkan orang mati.
Berikut Kisahnya
Ilyasa atau yang disebut dengan Al Yasa adalah nabi selanjutnya untuk bangsa Israil. Beliau memiliki garis keturunan yang sama dengan Nabi Muhammad, Harun dan Ilyas. Dalam Al Qur'an namanya telah disebutkan Allah SWT sebagai orang yang mulia.Allah SWT berfirman,
وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِنَ الأخْيَارِ
Artinya:
"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. semuanya Termasuk orang-orang yang paling baik."
(QS. Shaad: 48).
Nabi Ilyasa merupakan nabi terpilih sebagai penerus Nabi Ilyas yang namanya disebut juga dalan kisah Nabi Ilyas. Pada saat itu Nabi Ilyas sedang dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Al Yasa. Maka besar kemungkinan Ilyasa juga tinggal di seputar lembah sungai Yordania.
Ketika Ilyas bersembunyi di rumahnya, Ilyasa masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit, yang kemudian Ilyas membantu menyembuhkan penyakitnya. Dan setelah sembuh, Ilyasa pun diangkat anak oleh Nabi Ilyas. Beliau selalu menemani Nabi Ilyas untuk menyerukan pada jalan kebaikan.
Ilyasa melanjutkan tugas kenabian tersebut begitu Nabi Ilyas meninggal dunia. Ilyasa melanjutkan misi ayah angkatnya agar kaumnya kembali taat kepada ajaran Allah SWT.
Namun Ilyasa baru mengerti bahwa manusia begitu mudah kembali ke jalan yang sesat. Hal itu terjadi tak lama setelah Nabi Ilyas wafat. Padahal masyarakat lembag sungai Yordania itu sempat mengikuti seruan Nabi Ilyas agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan itulah Ilyasa tak lelah menyeru ke jalan kebaikan.
Dikisahkan bahwa mereka tetap tak mau mendengar seruan Ilyasa dan mereka kembali menanggung bencana kekeringan yang sangat luar biasa.
Mampu Menghidupkan Mayat
Nabi Ilyasa juga menghadapi sikap penyangkalan Raja dan Ratu Israel terhadap agama sepeninggal Nabi Ilyas. Nabi Ilyasa menunjukkan banyak mukjizat untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT, akan tetapi mereka malah menyebutnya tukang sihir. Sama persis ketika mereka menyebut Nabi Ilyas sebelumnya.Mereka terus menerus membangkang sepanjang hidup Nabi Ilyasa.
Setelah selang beberapa lama, bangsa Israel ditaklukkan oleh bangsa Assyria hingga menyebabkan kerusakan yang cukup parah di Israel.
Namun setelah itu, Nabi Ilyasa tetap meneruskan dakwahnya hingga umatnya taat kepada Allah SWT. Dalam kepemimpinanya, bani israel hidup rukun, tentram dan makmur karena berbakti pada Allah SWT. Namun sepeninggal Nabi Ilyasa, mereka kembali kufur dengan menyembah berhala.
Dalam cerita dikisahkan pada saat segolongan Bani Israel membunuh seseorang dan dikuburkan di kuburan Nabi Ilyasa, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan rombongan orang. Saat itu juga mereka melemparkan mayat itu dan tubuhnya mengenai tulang belulang Nabi Ilyasa.
Maka saat itu juga Allah SWT menghidupkan kembali mayat tersebut.
Subhanallah..
Demikian Kisah Mukjizat Nabi Ilyasa as, meskipun sudah meninggal dan tinggal tulang saja, namun ternyata tulang beliau mampu menghidupkan mayat.
Sumber
Waasalamu'alaikum wr. wb.
Garis Keturunan dai Nabi Adam a.s Sampai Nabi Muhammad Saw
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
1. Adam
Nama Adam
Usia 930 tahun
Periode sejarah 5872 - 4942 SM
Tempat turunnya di bumi India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab
Jumlah keturunannya (anak) 40 (laki-laki dan perempuan)
Tempat wafat India, ada yang berpendapat di Mekah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 25 kali
2. Idris
Nama Idris bin Yarid, nama aslinya Akhnukh, nama Ibunya Asyut
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as
Usia 345 tahun
Periode sejarah 4533 - 4188 SM
Tempat diutus (lokasi) Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis)
Tempat wafat Allah mengangkatnya ke langit
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
3. Nuh
Nama Nuh bin Lamak
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as
Usia 950 tahun
Periode sejarah 3993 - 3043 SM
Tempat diutus (lokasi) Selatan Irak
Jumlah keturunannya (anak) 4 putra
Tempat wafat Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya Kaum Nuh
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 43 kali
4. Hud (Huud)
Nama Hud bin Abdullah
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ 'Aush ('Uks) ⇒ 'Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud as
Usia 130 tahun
Periode sejarah 2450 - 2320 SM
Tempat diutus (lokasi) Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Bagian Timur Hadramaut (Yaman)
Sebutan kaumnya Kaum 'Ad
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 7 kali
5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh)
Nama Shalih bin Ubaid
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih as
Usia 70 tahun
Periode sejarah 2150 - 2080 SM
Tempat diutus (lokasi) Daerah al-Hijr (Mada'in Salih, antara Madinah dan Syria)
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya Kaum Tsamud
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 10 kali
6. Ibrahim
Nama Ibrahim bin Azar
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as
Usia 175 tahun
Periode sejarah 1997 - 1822 SM
Tempat diutus (lokasi) Ur di daerah selatan Babylon (Irak)
Jumlah keturunannya (anak) 13 anak
Tempat wafat Al-Khalid (Hebron, Palestina/Israel)
Sebutan kaumnya Bangsa Kaldan
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 69 kali
7. Luth
Nama Luth bin Haran
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Haran ⇒ Luth as
Usia 80 tahun
Periode sejarah 1950 - 1870 SM
Tempat diutus (lokasi) Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth)
Jumlah keturunannya (anak) 2 putri (Ratsiya dan Za'rita)
Tempat wafat Desa Shafrah di Syam (Syria)
Sebutan kaumnya Kaum Luth
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 27 kali
8. Ismail
Nama Ismail bin Ibrahim
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as
Usia 137 tahun
Periode sejarah 1911 - 1774 SM
Tempat diutus (lokasi) Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) 12 anak
Tempat wafat Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya Amaliq dan Kabilah Yaman
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 12 kali
9. Ishaq (Ishak)
Nama Ishaq (Ishak) bin Ibrahim
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as
Usia 180 tahun
Periode sejarah 1897 - 1717 SM
Tempat diutus (lokasi) Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan'an (Kana'an)
Jumlah keturunannya (anak) 2 anak
Tempat wafat Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya Bangsa Kan'an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 17 kali
10. Ya'qub (Yakub/Israel/Israil)
Nama Ya'qub (Yakub/Israel) bin Ishaq (Ishak),
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as
Usia 147 tahun
Periode sejarah 1837 - 1690 SM
Tempat diutus (lokasi) Syam (Syria/Siria)
Jumlah keturunannya (anak) 12 anak
Tempat wafat Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya Bangsa Kan'an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 18 kali
11. Yusuf
Nama Yusuf bin Ya'qub (Yusuf bin Yakub)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Yusuf as
Usia 110 tahun
Periode sejarah 1745 - 1635 SM
Tempat diutus (lokasi) Mesir
Jumlah keturunannya (anak) 3 anak (2 laki-laki, 1 perempuan)
Tempat wafat Nablus
Sebutan kaumnya Heksos dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 58 kali
12. Syu'aib (Syuaib)
Nama Syu'aib (Syuaib) bin Mikail
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu'aib as
Usia 110 tahun
Periode sejarah 1600 - 1490 SM
Tempat diutus (lokasi) Madyan (di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai)
Jumlah keturunannya (anak) 2 anak perempuan
Tempat wafat Yordania
Sebutan kaumnya Madyan dan Ashhabul Aikah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 11 kali
13. Ayub (Ayyub)
Nama Ayub (Ayyub) bin Amush
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-'Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as
Usia 120 tahun
Periode sejarah 1540 - 1420 SM
Tempat diutus (lokasi) Dataran Hauran
Jumlah keturunannya (anak) 26 anak
Tempat wafat Dataran Hauran
Sebutan kaumnya Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 4 kali
14. Dzulkifli (Zulkifli)
Nama Dzulkifli (Zulkifli) bin Ayub, nama aslinya Bisyr (Basyar)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-'Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as ⇒ Dzulkifli as
Usia 75 tahun
Periode sejarah 1500 - 1425 SM
Tempat diutus (lokasi) Damaskus dan sekitarnya
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Damaskus
Sebutan kaumnya Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
15. Musa
Nama Musa bin Imran
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa as
Usia 120 tahun
Periode sejarah 1527 - 1407 SM
Tempat diutus (lokasi) Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) 2 anak (namanya Azir dan Jarsyun), dari istrinya yang bernama Shafura
Tempat wafat Gunung Nebu (Bukit Nabu') di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya Bani Israil dan Fir'aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 136 kali
16. Harun
Nama Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as
Usia 123 tahun
Periode sejarah 1531 - 1408 SM
Tempat diutus (lokasi) Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Gunung Nebu (Bukit Nabu') di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya Bani Israil dan Fir'aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 20 kali
17. Daud (Dawud)
Nama Daud (Dawud, David) bin Isya
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as
Usia 100 tahun
Periode sejarah 1063 - 963 SM
Tempat diutus (lokasi) Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) Sulaiman (Sulaeman)
Tempat wafat Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 18 kali
18. Sulaiman (Sulaeman)
Nama Sulaiman (Sulaeman, Sulayman) bin Daud (Dawud)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as
Usia 66 tahun
Periode sejarah 989 - 923 SM
Tempat diutus (lokasi) Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) Rahab'an (Ruhba'am/Rehabeam)
Tempat wafat Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 21 kali
19. Ilyas
Nama Ilyas bin Yasin
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas as
Usia 60 tahun
Periode sejarah 910 - 850 SM
Tempat diutus (lokasi) Ba'labak (daerah di Lebanon)
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Diangkat Allah ke langit
Sebutan kaumnya Bangsa Fenisia
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 4 kali
20. Ilyasa'
Nama Ilyasa' bin Akhthub
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa' as
Usia 90 tahun
Periode sejarah 885 - 795 SM
Tempat diutus (lokasi) Jaubar, Damaskus
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Palestina
Sebutan kaumnya Bangsa Arami dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
21. Yunus (Yunan)
Nama Yunus (Yunan) bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Yunus dan Isa)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus as
Usia 70 tahun
Periode sejarah 820 - 750 SM
Tempat diutus (lokasi) Ninawa, Irak
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Ninawa, Irak
Sebutan kaumnya Bangsa Asyiria, di utara Irak
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 5 kali
22. Zakaria (Zakariya)
Nama Zakaria (Zakariya) bin Dan
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab'am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal'athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as
Usia 122 tahun
Periode sejarah 91 SM - 31 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) 1
Tempat wafat Halab (Aleppo)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 12 kali
23. Yahya
Nama Yahya bin Zakaria
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab'am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal'athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as ⇒ Yahya as
Usia 32 tahun
Periode sejarah 1 SM - 31 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) -
Tempat wafat Damaskus
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 5 kali
24. Isa
Nama Isa bin Maryam binti Imran, Maryam adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Isa dan Yunus)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab'am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au'am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa as
Usia 33 tahun
Periode sejarah 1 SM - 32 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) -
Tempat wafat Diangkat oleh Allah ke langit
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak di dalam Al-Qur'an nama Isa disebutkan sebanyak 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali
25. Muhammad
Nama Muhammad bin Abdullah
Garis Keturunan Ayah Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya'rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma'ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu'ay ⇒ Ka'ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad saw
Garis Keturunan Ibu Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya'rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma'ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu'ay ⇒ Ka'ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad saw
Usia 62 tahun
Periode sejarah 570 - 632 M
Tempat diutus (lokasi) Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) 7 anak (3 laki-laki, 4 perempuan)
Tempat wafat Madinah an-Nabawiyah
Sebutan kaumnya Bangsa Arab
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 25 kali secara jelas
Referensi
Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
Ibnu Katsir, Qishashul Anbiyaa', hlm 24.
Ibnu Asakir, Mukhtashar Taarikh Damasyaqa, IV/224.
ats-Tsa'labi, Qishashul Anbiyaa' (al-Araa'is), hlm 36.
Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, id.wikipedia.org, PT. Gilland Ganesha, 2008.
Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.
Sumber
Wasssalamu'alaikum Wr. Wb.
1. Adam
Nama Adam
Usia 930 tahun
Periode sejarah 5872 - 4942 SM
Tempat turunnya di bumi India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab
Jumlah keturunannya (anak) 40 (laki-laki dan perempuan)
Tempat wafat India, ada yang berpendapat di Mekah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 25 kali
2. Idris
Nama Idris bin Yarid, nama aslinya Akhnukh, nama Ibunya Asyut
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as
Usia 345 tahun
Periode sejarah 4533 - 4188 SM
Tempat diutus (lokasi) Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis)
Tempat wafat Allah mengangkatnya ke langit
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
3. Nuh
Nama Nuh bin Lamak
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as
Usia 950 tahun
Periode sejarah 3993 - 3043 SM
Tempat diutus (lokasi) Selatan Irak
Jumlah keturunannya (anak) 4 putra
Tempat wafat Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya Kaum Nuh
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 43 kali
4. Hud (Huud)
Nama Hud bin Abdullah
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ 'Aush ('Uks) ⇒ 'Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud as
Usia 130 tahun
Periode sejarah 2450 - 2320 SM
Tempat diutus (lokasi) Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Bagian Timur Hadramaut (Yaman)
Sebutan kaumnya Kaum 'Ad
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 7 kali
5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh)
Nama Shalih bin Ubaid
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih as
Usia 70 tahun
Periode sejarah 2150 - 2080 SM
Tempat diutus (lokasi) Daerah al-Hijr (Mada'in Salih, antara Madinah dan Syria)
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya Kaum Tsamud
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 10 kali
6. Ibrahim
Nama Ibrahim bin Azar
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as
Usia 175 tahun
Periode sejarah 1997 - 1822 SM
Tempat diutus (lokasi) Ur di daerah selatan Babylon (Irak)
Jumlah keturunannya (anak) 13 anak
Tempat wafat Al-Khalid (Hebron, Palestina/Israel)
Sebutan kaumnya Bangsa Kaldan
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 69 kali
7. Luth
Nama Luth bin Haran
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Haran ⇒ Luth as
Usia 80 tahun
Periode sejarah 1950 - 1870 SM
Tempat diutus (lokasi) Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth)
Jumlah keturunannya (anak) 2 putri (Ratsiya dan Za'rita)
Tempat wafat Desa Shafrah di Syam (Syria)
Sebutan kaumnya Kaum Luth
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 27 kali
8. Ismail
Nama Ismail bin Ibrahim
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as
Usia 137 tahun
Periode sejarah 1911 - 1774 SM
Tempat diutus (lokasi) Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) 12 anak
Tempat wafat Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya Amaliq dan Kabilah Yaman
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 12 kali
9. Ishaq (Ishak)
Nama Ishaq (Ishak) bin Ibrahim
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as
Usia 180 tahun
Periode sejarah 1897 - 1717 SM
Tempat diutus (lokasi) Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan'an (Kana'an)
Jumlah keturunannya (anak) 2 anak
Tempat wafat Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya Bangsa Kan'an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 17 kali
10. Ya'qub (Yakub/Israel/Israil)
Nama Ya'qub (Yakub/Israel) bin Ishaq (Ishak),
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as
Usia 147 tahun
Periode sejarah 1837 - 1690 SM
Tempat diutus (lokasi) Syam (Syria/Siria)
Jumlah keturunannya (anak) 12 anak
Tempat wafat Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya Bangsa Kan'an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 18 kali
11. Yusuf
Nama Yusuf bin Ya'qub (Yusuf bin Yakub)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Yusuf as
Usia 110 tahun
Periode sejarah 1745 - 1635 SM
Tempat diutus (lokasi) Mesir
Jumlah keturunannya (anak) 3 anak (2 laki-laki, 1 perempuan)
Tempat wafat Nablus
Sebutan kaumnya Heksos dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 58 kali
12. Syu'aib (Syuaib)
Nama Syu'aib (Syuaib) bin Mikail
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu'aib as
Usia 110 tahun
Periode sejarah 1600 - 1490 SM
Tempat diutus (lokasi) Madyan (di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai)
Jumlah keturunannya (anak) 2 anak perempuan
Tempat wafat Yordania
Sebutan kaumnya Madyan dan Ashhabul Aikah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 11 kali
13. Ayub (Ayyub)
Nama Ayub (Ayyub) bin Amush
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-'Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as
Usia 120 tahun
Periode sejarah 1540 - 1420 SM
Tempat diutus (lokasi) Dataran Hauran
Jumlah keturunannya (anak) 26 anak
Tempat wafat Dataran Hauran
Sebutan kaumnya Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 4 kali
14. Dzulkifli (Zulkifli)
Nama Dzulkifli (Zulkifli) bin Ayub, nama aslinya Bisyr (Basyar)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-'Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as ⇒ Dzulkifli as
Usia 75 tahun
Periode sejarah 1500 - 1425 SM
Tempat diutus (lokasi) Damaskus dan sekitarnya
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Damaskus
Sebutan kaumnya Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
15. Musa
Nama Musa bin Imran
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa as
Usia 120 tahun
Periode sejarah 1527 - 1407 SM
Tempat diutus (lokasi) Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) 2 anak (namanya Azir dan Jarsyun), dari istrinya yang bernama Shafura
Tempat wafat Gunung Nebu (Bukit Nabu') di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya Bani Israil dan Fir'aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 136 kali
16. Harun
Nama Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as
Usia 123 tahun
Periode sejarah 1531 - 1408 SM
Tempat diutus (lokasi) Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Gunung Nebu (Bukit Nabu') di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya Bani Israil dan Fir'aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 20 kali
17. Daud (Dawud)
Nama Daud (Dawud, David) bin Isya
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as
Usia 100 tahun
Periode sejarah 1063 - 963 SM
Tempat diutus (lokasi) Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) Sulaiman (Sulaeman)
Tempat wafat Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 18 kali
18. Sulaiman (Sulaeman)
Nama Sulaiman (Sulaeman, Sulayman) bin Daud (Dawud)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as
Usia 66 tahun
Periode sejarah 989 - 923 SM
Tempat diutus (lokasi) Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) Rahab'an (Ruhba'am/Rehabeam)
Tempat wafat Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 21 kali
19. Ilyas
Nama Ilyas bin Yasin
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas as
Usia 60 tahun
Periode sejarah 910 - 850 SM
Tempat diutus (lokasi) Ba'labak (daerah di Lebanon)
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Diangkat Allah ke langit
Sebutan kaumnya Bangsa Fenisia
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 4 kali
20. Ilyasa'
Nama Ilyasa' bin Akhthub
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa' as
Usia 90 tahun
Periode sejarah 885 - 795 SM
Tempat diutus (lokasi) Jaubar, Damaskus
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Palestina
Sebutan kaumnya Bangsa Arami dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
21. Yunus (Yunan)
Nama Yunus (Yunan) bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Yunus dan Isa)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus as
Usia 70 tahun
Periode sejarah 820 - 750 SM
Tempat diutus (lokasi) Ninawa, Irak
Jumlah keturunannya (anak) -
Tempat wafat Ninawa, Irak
Sebutan kaumnya Bangsa Asyiria, di utara Irak
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 5 kali
22. Zakaria (Zakariya)
Nama Zakaria (Zakariya) bin Dan
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab'am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal'athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as
Usia 122 tahun
Periode sejarah 91 SM - 31 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) 1
Tempat wafat Halab (Aleppo)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 12 kali
23. Yahya
Nama Yahya bin Zakaria
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab'am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal'athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as ⇒ Yahya as
Usia 32 tahun
Periode sejarah 1 SM - 31 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) -
Tempat wafat Damaskus
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 5 kali
24. Isa
Nama Isa bin Maryam binti Imran, Maryam adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Isa dan Yunus)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu'az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab'am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au'am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa as
Usia 33 tahun
Periode sejarah 1 SM - 32 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) -
Tempat wafat Diangkat oleh Allah ke langit
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak di dalam Al-Qur'an nama Isa disebutkan sebanyak 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali
25. Muhammad
Nama Muhammad bin Abdullah
Garis Keturunan Ayah Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya'rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma'ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu'ay ⇒ Ka'ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad saw
Garis Keturunan Ibu Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya'rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma'ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu'ay ⇒ Ka'ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad saw
Usia 62 tahun
Periode sejarah 570 - 632 M
Tempat diutus (lokasi) Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) 7 anak (3 laki-laki, 4 perempuan)
Tempat wafat Madinah an-Nabawiyah
Sebutan kaumnya Bangsa Arab
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 25 kali secara jelas
Referensi
Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
Ibnu Katsir, Qishashul Anbiyaa', hlm 24.
Ibnu Asakir, Mukhtashar Taarikh Damasyaqa, IV/224.
ats-Tsa'labi, Qishashul Anbiyaa' (al-Araa'is), hlm 36.
Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, id.wikipedia.org, PT. Gilland Ganesha, 2008.
Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.
Sumber
Wasssalamu'alaikum Wr. Wb.
Kisah Empat Nabi Yang Masih Hidup Sampai Sekarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. ”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158)
malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.
Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”
Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”
Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi
Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.
(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.
1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut nyawa”.
Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,
Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu memohonlah kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah kepada Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.
Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah nyawa Idris!”.
Kemudian malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris AS lalu Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan Nabi Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana rasanya mati itu?”.
Nabi Idris AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat rasa sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan cara hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada siapapun”.
Nabi Idris AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu ingin melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak beribadah kepada Allah”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada izin dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.
Kemudian malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS berkata: ”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi ke syurga,dan setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam beragama”.
Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu bersama Idris ke syurga”.
Dan keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan dan buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah melihat segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga dan sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama Idris”,
kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi Idris berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di syurga, maka kembalikan saya ke syurga”,
dan setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi Idris AS tidak mau di ajak keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga Malaikat berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”,
dan Nabi Idris AS tetap tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah berfirman”: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah merasakan mati. Dan Allah Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi neraka itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak akan di keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan mu?”.
Lalu Allah berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga, sungguh Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”,
kemudian Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS berada dalam syurga untuk selama-lamanya.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.
“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.
Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
1. Kisah Nabi Isa AlaihissalamAl-Qur’an menerangkan dalam surat AnNisaa’:157 bahwa Nabi Isa AS tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang Kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah SWT seperti Nabi Isa AS (sebagian ulama berpendapat orang yang diserupakan adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Yudas Iskariot) dan karena ucapan mereka:
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. ”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158)
2. Kisah Nabi Khidir AlaihissalamPada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit ”,
malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.
Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”
Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”
Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi
Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.
(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.
1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.
3. Kisah Nabi Idris AlaihissalamLalu keduanya menerusakan perjalanan sampai empat hari lamanya dan selama itu pula Nabi Idris AS menemukan keanehan yang ada pada Malaikat itu dan Nabi Idris AS bertanya: ”Hai tuan, kamu ini sebenarnya siapa?”,
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut nyawa”.
Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,
Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu memohonlah kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah kepada Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.
Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah nyawa Idris!”.
Kemudian malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris AS lalu Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan Nabi Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana rasanya mati itu?”.
Nabi Idris AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat rasa sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan cara hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada siapapun”.
Nabi Idris AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu ingin melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak beribadah kepada Allah”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada izin dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.
Kemudian malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS berkata: ”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi ke syurga,dan setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam beragama”.
Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu bersama Idris ke syurga”.
Dan keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan dan buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah melihat segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga dan sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama Idris”,
kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi Idris berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di syurga, maka kembalikan saya ke syurga”,
dan setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi Idris AS tidak mau di ajak keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga Malaikat berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”,
dan Nabi Idris AS tetap tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah berfirman”: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah merasakan mati. Dan Allah Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi neraka itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak akan di keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan mu?”.
Lalu Allah berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga, sungguh Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”,
kemudian Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS berada dalam syurga untuk selama-lamanya.
4. Kisah Nabi Ilyas AlaihissalamKetika sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS, Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.
“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.
Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Sabtu, 14 Mei 2016
Sebab Semua Putra Nabi Muhammad Diwafatkan Masih Kecil
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sebelumnya marilah kita mengenal terlebih dahulu semua anak-anak Nabi Muhammad saw. yang berjumlah tujuh orang. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tarikh al-Hawadits wa-l-Ahwal an-Nabawiyyah karya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, putra-putri Rasulullah saw. adalah sebagai berikut.
Putra-Putri Nabi Muhammad saw.
Al-Qasim, seorang laki-laki, anak pertama Rasulullah saw. yang dilahirkan dan meninggal sebelum masuk masa kenabian (masa mulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw.), ketika meninggal ia masih berusia dua tahun.
Abdullah, putra Nabi saw. yang disebut juga at-Thayyib dan at-Thahir, ada pula yang berpendapat bahwa nama lainnya adalah at-Thayyib bukan at-Thahir. Mengenai kelahirannya ada yang berpendapat bahwa ia lahir ketika telah masuk masa kenabian, tetapi ada pula yang mengatakan kalau ia tak pernah menemui masa kenabian.
Zainab, anak perempuan Rasulullah saw. yang tertua. Melahirkan anak yang bernama ‘Aliy dan Yahya yang keduanya meninggal waktu masih kecil.
Ruqayyah, putri Rasulullah saw. yang diperistri oleh Utsman bin Affan. Beliau melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Putri Rasulullah saw. ini wafat pada hari ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.
Ummu Kultsum, putri Nabi saw. yang dinikahi Utsman bin Affan setelah saudarinya (Ruqayyah) wafat. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah tanpa memiliki anak.
Fathimah (Fatimah), putri Nabi saw. yang diperistri oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau melahirkan anak yang bernama Hasan, Husain, Muhsin, Ruqayyah, Zainab dan Ummu Kultsum. Adapun Muhsin dan Ummu Kultsum meninggal waktu masih kecil.
Ibrahim, putra Rasulullah yang meninggal saat berumur tujuh puluh malam, ada pula yang mengatakan saat berusia tujuh bulan dan yang lain berpendapat berumur delapan bulan.
Putra-putri Nabi Muhammad saw. yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah dilahirkan di Makkah oleh istri Nabi saw. yang pertama, yaitu Khadijah r.a. Semua putri Rasulullah saw. pernah mengalami masa kenabian, masuk Islam dan turut berhijrah ke Madinah.
Adapun Ibrahim dilahirkan di Madinah oleh istri Nabi saw. yang bernama Maria al-Qibthiyyah (orang Mesir).
Semua anak-anak Nabi saw. meninggal saat beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang wafat paling akhir, yakni tujuh bulan setelah wafatnya Rasulullah saw.
Mengapa Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil?
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, putra-putra Rasulullah saw. (al-Qasim, Abdullah dan Ibrahim) semuanya meninggal ketika masih kecil, sehingga keturunan Rasulullah saw. diteruskan lewat anak perempuan beliau. Mengapa bukan dari anak laki-lakinya dan mengapa pula mereka diwafatkan sewaktu masih kecil?
Ini karena Nabi Muhammad saw. telah ditetapkan sebagai nabi terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 40 yang artinya:
“…tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
oleh karena itu seandainya putra-putra beliau tumbuh dewasa, maka mereka hanya akan menjadi orang biasa dan tidak akan mungkin menjadi nabi, padahal nabi-nabi yang lain mempunyai putra-putra yang juga menjadi nabi (seperti Nabi Ibrahim yang punya anak Nabi Ismail dan Nabi Ishaq; Nabi Ya’qub punya anak Nabi Yusuf; Nabi Daud punya anak Nabi Sulaiman), untuk itulah Allah mewafatkan putra-putra Rasulullah saw. agar kehormatan dan keutamaan beliau sebagai Pemimpin/Penghulu Para Nabi dan Rasul (Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin) tetap terjaga. Walhasil, keturunan Rasulullah saw. diteruskan oleh anak perempuan beliau, karena orang perempuan tidak pernah menjadi nabi.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Sebelumnya marilah kita mengenal terlebih dahulu semua anak-anak Nabi Muhammad saw. yang berjumlah tujuh orang. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tarikh al-Hawadits wa-l-Ahwal an-Nabawiyyah karya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, putra-putri Rasulullah saw. adalah sebagai berikut.
Putra-Putri Nabi Muhammad saw.
Al-Qasim, seorang laki-laki, anak pertama Rasulullah saw. yang dilahirkan dan meninggal sebelum masuk masa kenabian (masa mulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw.), ketika meninggal ia masih berusia dua tahun.
Abdullah, putra Nabi saw. yang disebut juga at-Thayyib dan at-Thahir, ada pula yang berpendapat bahwa nama lainnya adalah at-Thayyib bukan at-Thahir. Mengenai kelahirannya ada yang berpendapat bahwa ia lahir ketika telah masuk masa kenabian, tetapi ada pula yang mengatakan kalau ia tak pernah menemui masa kenabian.
Zainab, anak perempuan Rasulullah saw. yang tertua. Melahirkan anak yang bernama ‘Aliy dan Yahya yang keduanya meninggal waktu masih kecil.
Ruqayyah, putri Rasulullah saw. yang diperistri oleh Utsman bin Affan. Beliau melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Putri Rasulullah saw. ini wafat pada hari ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.
Ummu Kultsum, putri Nabi saw. yang dinikahi Utsman bin Affan setelah saudarinya (Ruqayyah) wafat. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah tanpa memiliki anak.
Fathimah (Fatimah), putri Nabi saw. yang diperistri oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau melahirkan anak yang bernama Hasan, Husain, Muhsin, Ruqayyah, Zainab dan Ummu Kultsum. Adapun Muhsin dan Ummu Kultsum meninggal waktu masih kecil.
Ibrahim, putra Rasulullah yang meninggal saat berumur tujuh puluh malam, ada pula yang mengatakan saat berusia tujuh bulan dan yang lain berpendapat berumur delapan bulan.
Putra-putri Nabi Muhammad saw. yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah dilahirkan di Makkah oleh istri Nabi saw. yang pertama, yaitu Khadijah r.a. Semua putri Rasulullah saw. pernah mengalami masa kenabian, masuk Islam dan turut berhijrah ke Madinah.
Adapun Ibrahim dilahirkan di Madinah oleh istri Nabi saw. yang bernama Maria al-Qibthiyyah (orang Mesir).
Semua anak-anak Nabi saw. meninggal saat beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang wafat paling akhir, yakni tujuh bulan setelah wafatnya Rasulullah saw.
Mengapa Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil?
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, putra-putra Rasulullah saw. (al-Qasim, Abdullah dan Ibrahim) semuanya meninggal ketika masih kecil, sehingga keturunan Rasulullah saw. diteruskan lewat anak perempuan beliau. Mengapa bukan dari anak laki-lakinya dan mengapa pula mereka diwafatkan sewaktu masih kecil?
Ini karena Nabi Muhammad saw. telah ditetapkan sebagai nabi terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 40 yang artinya:
“…tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
oleh karena itu seandainya putra-putra beliau tumbuh dewasa, maka mereka hanya akan menjadi orang biasa dan tidak akan mungkin menjadi nabi, padahal nabi-nabi yang lain mempunyai putra-putra yang juga menjadi nabi (seperti Nabi Ibrahim yang punya anak Nabi Ismail dan Nabi Ishaq; Nabi Ya’qub punya anak Nabi Yusuf; Nabi Daud punya anak Nabi Sulaiman), untuk itulah Allah mewafatkan putra-putra Rasulullah saw. agar kehormatan dan keutamaan beliau sebagai Pemimpin/Penghulu Para Nabi dan Rasul (Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin) tetap terjaga. Walhasil, keturunan Rasulullah saw. diteruskan oleh anak perempuan beliau, karena orang perempuan tidak pernah menjadi nabi.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Sejarah Pembangunan Ka’bah
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
" Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia " (QS. Al-Imran, ayat 96).
Ka'bah adalah bangunan suci ummat Muslim yang terletak di tengah Masjidil Haram di kota Mekah. Dan merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah shalat bagi umat Islam diseluruh dunia. Selain itu, merupakan
bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah. Ka'bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul 'Atiq (Rumah Kemerdekaan).
" Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur " (QS. Ibrahim, ayat 37).
Kalau kita membaca ayat diatas, kita bisa mengetahui bahwa Ka'bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim AS menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka'bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim AS menginjakan kakinya di Mekah.
Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim AS
Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim sebenarnya
berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Pada zaman Nabi Ibrahim dan
Nabi Isma’il, Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak
diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak
tinggi, bentuknya juga lebih panjang dengan memasukkan Hijir Isma’il
didalamnya.
Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Siti Aisyah, bahwasanya Nabi Muhammad Saw berkata padanya :
" Bukankah kau melihat kaummu ketika membangun Ka’bah mereka memendekkannya dari pondasi-pondasi Ibrahim?”. Maka aku (Aisyah) berkata : “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak saja kembalikan pada pondasi-pondasi Ibrahim?” Nabi berkata : “Seandainya kaummu tidak baru saja kufur niscaya aku lakukan”.
Pembangunan Ka’bah Oleh Kaum Quraisy
Lima tahun sebelum tahun kenabian, Mekah dilanda banjir
besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu
akan dapat meruntuhkan Ka’bah, karena sejak zaman Ibrahim hingga
Quraisy, Ka’bah dibangun dengan menggunakan tumpukan batu dan tanpa
perekat tanah atau yang lainnya.
Dalam membangun Ka’bah, walaupun waktu itu merupakan era jahiliyyah dimana banyak kejahatan dan kemunkaran, namun mereka tidak mau membangun Ka’bah kecuali dengan harta yang bersih dan halal.
Peletakan Hajar Aswad
Hajar
Aswad merupakan batu yang berasal dari surga. Yang pertama kali
meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim AS. Dahulu kala batu ini
memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab.
Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang
berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini
merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan
pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh disisi luar Kabah
sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar
Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena beliau selalu menciumnya
setiap saat bertawaf.
Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Ketika sampai pada peletakkan Hajar Aswad, kaum Quraisy berselisih, siapa yang akan menaruhnya. Perselisihan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akan tetapi dapat diselesaikan dengan kesepakatan menunjuk seorang pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut, ternyata jatuh pada Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah Saw dengan bijak berkata pada mereka : “Berikan padaku sebuah kain”. Lalu didatangkanlah kain kepada beliau, kemudian beliau mengambil hajar Aswad dan menaruhnya dalam kain itu dengan tangannya. Lalu beliau berkata : ” Hendaklah setiap qabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”. Mereka lalu melakukannya dan ketika telah sampai ditempatnya, Rasul menaruhnya sendiri dengan tangannya kemudian dibangunlah.
Allahu'alam bishshowab
Bentuk Ka’bah
Ka'bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter. Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh. Dinding-dinding sisi Ka'bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. Terkecuali satu dinding yang diberi nama "Rukun Hajar Aswad".
Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :
- Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak).
- Sebelah Barat Rukun Syam (Suriah).
- Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman).
- Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).
Keempat sisi Ka'bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman Nabi Ismail, Ka'bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini. Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas. Dalam satu tahun Ka'bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzulhijjah dan awal bulan Sya'ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.
Maqam Nabi Ibrahim AS
Maqom
Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim AS sebagaimana banyak orang
berpendapat. Maqom Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak disebelah
timur Ka'bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan
oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu
Nabi Ibrahim AS berdiri di saat beliau membangun Ka'bah bersama-sama
puteranya Nabi Ismail AS. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara,
dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubah kecil.
Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim AS yang panjangnya 27 cm, lebarnya
14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.
Multazam
Multazam
terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah berjarak kurang lebih 2
meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk
berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah
atau dikabulkan. Maka disunahkan berdo'a sambil menempelkan tangan,
dada, dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang
diriwayatkan Sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
Semoga artikel ini bisa membawa manfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah SWT (Baitullah).
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

" Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia " (QS. Al-Imran, ayat 96).
Ka'bah adalah bangunan suci ummat Muslim yang terletak di tengah Masjidil Haram di kota Mekah. Dan merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah shalat bagi umat Islam diseluruh dunia. Selain itu, merupakan
bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah. Ka'bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul 'Atiq (Rumah Kemerdekaan).
" Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur " (QS. Ibrahim, ayat 37).
Kalau kita membaca ayat diatas, kita bisa mengetahui bahwa Ka'bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim AS menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka'bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim AS menginjakan kakinya di Mekah.
Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim AS
| Beginilah kira-kira bentuk Ka'bah Nabi Ibrahim |
Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Siti Aisyah, bahwasanya Nabi Muhammad Saw berkata padanya :
" Bukankah kau melihat kaummu ketika membangun Ka’bah mereka memendekkannya dari pondasi-pondasi Ibrahim?”. Maka aku (Aisyah) berkata : “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak saja kembalikan pada pondasi-pondasi Ibrahim?” Nabi berkata : “Seandainya kaummu tidak baru saja kufur niscaya aku lakukan”.
Pembangunan Ka’bah Oleh Kaum Quraisy
![]() |
| Salah satu banjir yang melanda Ka'bah |
Dalam membangun Ka’bah, walaupun waktu itu merupakan era jahiliyyah dimana banyak kejahatan dan kemunkaran, namun mereka tidak mau membangun Ka’bah kecuali dengan harta yang bersih dan halal.
Peletakan Hajar Aswad
Hajar
Aswad merupakan batu yang berasal dari surga. Yang pertama kali
meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim AS. Dahulu kala batu ini
memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab.
Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang
berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini
merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan
pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh disisi luar Kabah
sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar
Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena beliau selalu menciumnya
setiap saat bertawaf.Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Ketika sampai pada peletakkan Hajar Aswad, kaum Quraisy berselisih, siapa yang akan menaruhnya. Perselisihan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akan tetapi dapat diselesaikan dengan kesepakatan menunjuk seorang pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut, ternyata jatuh pada Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah Saw dengan bijak berkata pada mereka : “Berikan padaku sebuah kain”. Lalu didatangkanlah kain kepada beliau, kemudian beliau mengambil hajar Aswad dan menaruhnya dalam kain itu dengan tangannya. Lalu beliau berkata : ” Hendaklah setiap qabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”. Mereka lalu melakukannya dan ketika telah sampai ditempatnya, Rasul menaruhnya sendiri dengan tangannya kemudian dibangunlah.
Menurut riwayat yang paling shahih,
ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari
awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu
membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap
akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad mereka mulai berselisih
pendapat. Siapakah tokoh di antara mereka yang layak mendapatkan
kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad sebagai tanda peresmian
penyelesaian renovasi dan mulai dapat digunakan kembali. Banyak pendapat
bermunculan dan saling simpang siur. Masing-masing saling ingin
mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri.
Hingga akhirnya Muhammad, Suami Khadijah
ini mengajukan usul, ”Siapa pun yang besok pagi datang paling awal ke
tempat pembangunan (renovasi) maka dialah yang berhak atas kehormatan
untuk meletakkan Hajar Aswad.” Masyarakat pun menyetujuinya, mereka
yakin ini adalah jalan terbaik bagi mereka.
Keesokan harinya, ternyata yang datang
paling pagi, paling awal adalah Muhammad sendiri, maka Beliaulah yang
berhak meletakkan hajar aswad sebagai tanda peresmian Ka’bah kembali.
Namun Rupanya Muhammad bukanlah seorang yang egois. Ia kemudian
membentangkan sorbannya menaruh hajar aswad di atasnya dan mengajak
beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkan hajar aswad
bersama-sama. Maka puaslah mereka atas keputusan Muhammad tersebut.
Demikian tersebut dalam kitab Nurul Yaqin fi Siroti Sayyidil Mursalin.
Allahu'alam bishshowab
Bentuk Ka’bah
Ka'bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter. Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh. Dinding-dinding sisi Ka'bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. Terkecuali satu dinding yang diberi nama "Rukun Hajar Aswad".
Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :
- Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak).
- Sebelah Barat Rukun Syam (Suriah).
- Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman).
- Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).
Keempat sisi Ka'bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman Nabi Ismail, Ka'bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini. Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas. Dalam satu tahun Ka'bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzulhijjah dan awal bulan Sya'ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.
Maqam Nabi Ibrahim AS
Maqom
Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim AS sebagaimana banyak orang
berpendapat. Maqom Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak disebelah
timur Ka'bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan
oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu
Nabi Ibrahim AS berdiri di saat beliau membangun Ka'bah bersama-sama
puteranya Nabi Ismail AS. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara,
dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubah kecil.
Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim AS yang panjangnya 27 cm, lebarnya
14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.Multazam
Multazam
terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah berjarak kurang lebih 2
meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk
berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah
atau dikabulkan. Maka disunahkan berdo'a sambil menempelkan tangan,
dada, dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang
diriwayatkan Sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.Semoga artikel ini bisa membawa manfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah SWT (Baitullah).
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Rabu, 11 Mei 2016
Kisah Putri Baginda Rasulullah SAW, Fatimah Az- Zahra Binti Muhammad SAW
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Fatimah binti
Muhammad, atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah
yang selalu berseri) (Bahasa Arab: فاطمة الزهراء) putri bungsu
Nabi Muhammad dari perkawinannya
dengan istri pertamanya, Khadizah.
Siti
Fatimah Az Zahra r.a dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jamadil Akhir,
lebih kurang lima tahun sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Siti
Fatimah Az Zahra r.a tumbuh besar di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah
kancah pertarungan sengit antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya
perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.
Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi
wassalam dengan memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra.
Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak
anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin
Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki
kelahiran Fatimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi
Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai
penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang
berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah diperbaharui.
Fatimah lebih muda dari Zainab,
isteri Abil Ash bin Rabi‘ dan Ruqayyah, isteri Utsman bin
Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak yang
paling dicintai Nabi SAW sehingga
beliau bersabda :
”Fatimah adalah
darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang
mengganggunya juga menggangguku.” [Ibnul Abdil Barr dalam
"Al-Istii'aab"]
Di antara anak wanita Rasulullah s.a.w, Fathimah Az-Zahra
r.a, merupakan wanita paling utama kedudukannya. Kemuliannya itu diperoleh
sejak menjelang kelahirannya, yang didampingi wanita suci sebagaiman yang
diucapkan oleh Khadijah:
"Pada
waktu kelahiran Fartimah r.a, aku meminta bantuan wanita-wanita Quraish
tetanggaku, untuk menolong. Namun mereka menolak mentah-mentah sambil
mengatakan bahwa aku telah menghianati mereka dengan mendukung Muhammad.
Sejenak aku bingung dan terkejut luar biasa ketika melihat empat orang tinggi
besar yang tak kukenal, dengan lingkaran cahaya disekitar mereka mendekati aku.
Ketika
mereka mendapati aku dalam kecemasan salah seorang dari mereka menyapaku:
‘Wahai Khadijah! Aku adalah Sarah, ibunda Ishhaq dan tiga orang yang menyapaku
adalah Maryam, Ibunda Isa, Asiah, Putri Muzahim, dan Ummu Kultsum, Saudara
perempuan Musa. Kami semua diperintah oleh Allah untuk mengajarkan ilmu
keperawatan kami jika anda bersedia". Sambil mengatakan hal tersebut,
mereka semua duduk di sekelilingku dan memberikan pelayanan kebidanan sampai
putriku Fathimah r.a lahir."
Meningkat
usia 5 tahun, beliau telah ditinggal pergi ibunya. Tidak secara langsung beliau
mengantikan tempat ibunya dalm melayani, membantu dan memebela Rasulullah
s.a.w, sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dan dalam
usia yang masih kanak-kanak, beliau juga telah dihadapkan kepada berbagai macam
uji coba. Beliau melihat dan meyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish
kepada ayahandanya, sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air
mata kerana melihat penderitaan yang dialalmi ayahnya.
Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak
hanya merupakan putri dari Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu
orang kepercayaan ayahnya pada masa Beliau. Fatimah Az-Zahra memiliki
kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak pernah melihat atau
dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering sekali menyebutkan nama
Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata
" Fatimah merupakan bidadari
yang menyerupai manusia" Sesungguhnya dia adalah pemimpin
wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama.
Pernikahan
Fatimah
Setelah
Fatimah r.a mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke
rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya
meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak
semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu
keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah).”[Tadzkirah Al-Khawash, hal.306]
Kemudian,
Jibril as datang untuk mengabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah
menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib. Tak lama setelah itu, Ali datang
menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang
Fatimah. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya
seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah
kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah
memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya
dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya
atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?” Fatimah diam, lalu Rasulullah
pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda
kerelaannya.” [Dzkha’irAl-Ukba, hal. 29]
Rasulullah
saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya
berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa
billah, tawakkaltu ‘alallah.”
Kemudian,
Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya
Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka
cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya.
Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang
terkutuk.” Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat
berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah
istrimu.”
Dan
kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah
suamimu.”
Acara
pernikahan itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki
sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan
perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya.
Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan
tidak setuju apabila Ali menjual perisainya.
Dengan
mas kawin hanya 400 dirham, dia memulakan penghidupan dengan wanita yang
sangat dimuliakan Allah di dunia dan di akhirat. Dan ’Ali pun menikahi
Fathimah, dengan menggadaikan baju besinya kepada Ustman bin Affan itulah, dan
rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Rosulullah berkeras
agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Kemudian
Rosulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku
untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka
saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus
fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”.
Selanjutnya
Rasulullah mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua,
membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan
mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”
(kitab
Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).
Bersuamikan
Ali bin Abi Thalib bukanlah satu kebanggaan yang menjanjikan kekayaan harta.
Karena Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang daripada empat sahabat yang
sangat rapat dengan Rasulullah merupakan sahabat yang sangat miskin berbanding
dengan yang lain (Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ustman bin
Affan).
Namun
jauh di sanubari Rasulullah tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat
mendalam terhadap Ali bin Abi Thalib. Rasulullah pernah bersabda kepada Ali bin
Abi Thalib, “Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku
engkau lebih mulia daripada dia.” (HR Abu Hurairah).
Dengan
demikian wanita pilihan untuk lelaki pilihan. Fatimah mewarisi akhlak ibunya
Siti Khadijah. Tidak pernah membebani dan menyakiti suami dengan kata-kata atau
sikap. Senantiasa senyum menyambut kepulangan suami hingga hilang separuh
masalah suaminya.
Buah
Hati
Keluarga
Azzahra dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang kepada suami dan
anak-anaknya. Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah melahirkan putra pertamanya yang
oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas
kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan
iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Setahun
kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan
keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Azzahra r.a. Rasul mengasuh kedua cucunya
dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa
mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila
Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau
pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah r.a. Tiba-tiba beliau
mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih
mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti
hatiku.”
Satu
tahun berselang, Fatimah r.a melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun
lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu
Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah itu dengan nama-nama tersebut. Dan
begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya
Fatimah Zahra.
Dalam
suatu kisah menceriterakan tentang keadaan rumah tangga Ali bin Abi Thalib yang
hidup miskin dan serba kekurangan setelah menikah dengan Fatimah binti
Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Wahai anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik
wanita adalah yang bermanfaat bagi keluarganya”.
Itulah
jawaban Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fatimah mengadukan
keadaan keluarganya.
Suatu
ketika, Rosulullah keluar dari rumah Fatimah dengan tanda-tanda kemarahan di
wajahnya. Padahal beliau baru saja sampai di rumah Fatimah. Sikap itu sebagai
reaksi beliau atas penampilan anaknya yang mengenakan giwang dan rantai terbuat
dari perak, serta selot pintu rumah yang terbuat dari bahan sejenis perak.
Karena memahami sifat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah segera
mencopot perhiasan dan selot pintu dan menyerahkannya kepada Rosulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata. :
“Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya ayahku”. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sangat terharu, dan bersabda; “Sungguh kamu telah
melakukannya, wahai anakku. Ketahuilah, dunia ini bukan untuk Muhammad dan
keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk,
tak akan ada orang kafir diberi minum setetespun”.
Bukannya
Ali bin Abi Thalib tidak mau menyediakan seorang pembantu untuk isterinya
tetapi memang keadaan kefakiranlah yang sedemikian rupa. Ali bin Abi Thalib pun
cukup memaklumi isterinya yang setiap hari menguruskan anak-anak, memasak,
membasuh dan menggiling tepung, dan yang lebih memenatkan lagi bila terpaksa
mengambil air melalui jalan yang berbatu-batu jauhnya sehingga kelihatan tanda
di bahu kiri dan kanannya. Suami mana yang tidak saying kepada isterinya. Pada
suatu ketika bila Ali bin Abi Thalib berada di rumah turut menyinsing
lengan membantu istrinya menggiling tepung di dapur. “Terima kasih suamiku,”
bisik Fatimah kepada suaminya. Usaha sekecil itu, di celah-celah kesibukan
sudah cukup berkesan dalam membelai perasaan seorang isteri.
Suatu
hari, Rasulullah masuk ke rumah anaknya, didapati puterinya (Fatimah) yang
berpakaian kasar itu sedang mengisar biji-biji gandum dalam linangan air mata.
Fatimah segera mengesat air matanya tatkala menyedari kehadiran ayahanda
kesayangannya itu. Lalu ditanya oleh baginda, “Wahai buah hatiku, apakah
yang engkau tangiskan itu? Semoga Allah menggembirakanmu.”. Dalam nada
sayu, Fatimah berkata, “Wahai ayahanda, sesungguhnya anakmu ini terlalu
penat kerana terpaksa mengisar gandum dan menguruskan segala urusan rumah
seorang diri. Wahai ayahanda, kiranya tidak keberatan bolehkah ayahanda meminta
suamiku menyediakan seorang pembantu untukku?”.
Rosulullah
tersenyum seraya bangun mendapatkan kisaran tepung itu. Dengan lafaz Bismillah,
Rosulullah meletakkan segenggam gandum ke dalam kisaran itu. Dengan izin Allah,
maka berpusinglah kisaran itu dengan sendirinya. Hati Fatimah sangat terhibur
dan merasa sangat gembira dengan hadiah istimewa dari ayahandanya itu. Habis
semua gandumnya dikisar dan batu kisar itu tidak akan berhenti selagi tidak ada
arahan untuk berhenti, sehingga Rasulullah menghentikannya.
Bersabdalah
Rasulullah dengan kata-kata yang masyhur, “Wahai Fatimah, Gunung Uhud pernah
ditawarkan kepadaku untuk menjadi emas, namun ayahanda memilih untuk keluarga
kita kesenangan di akhirat.” Jelas, Rasulullah mau mendidik puterinya bahawa
kesusahan bukanlah penghalang untuk menjadi solehah.
Ayahanda
yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih sayang, “Puteriku,
mahukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta
itu?”. “Tentu sekali ya Rasulullah,” jawab Siti Fatimah kegirangan.
Rasulullah bersabda:
“Jibril telah mengajarku beberapa kalimah. Setiap kali
selesai sembahyang, hendaklah membaca ‘Subhanallah’ sepuluh kali,
Alhamdulillah’ sepuluh kali dan ‘Allahu Akbar’ sepuluh kali. Kemudian ketika
hendak tidur baca ‘Subhanallah’, ‘Alhamdulillah’ dan ‘Allahu Akbar’ ini
sebanyak tiga puluh tiga kali.”
Ternyata
amalan itu telah memberi kesan kepada Fatimah. Semua pekerjaan rumah
tangga dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu
rumah. Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya sentiasa
mengingatiNya.
Suatu
hari masuklah Rasulullah menemui anandanya Fatimmah az-Zahra radhiallahu
‘anha didapati anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan
menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah
bertanya kepada anandanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai
Fathimah?, Semoga Allah tidak menyebabkan matamu menangis”. Fathimah
berkata, “Ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang
menyebabkan ananda menangis”.
Lalu
duduklah Rasulullah di sisi anandanya. Fathimah melanjutkan perkataannya,
“Ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘ali (suaminya) mencarikan ananda
seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan di rumah”.
Mendengar
perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah mendekati penggilingan itu.
Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan
diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya “Bismillaahirrahmaanirrahiim”.
Penggilingan
tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah. Rasulullah meletakkan
syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya
sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada
Allah dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu
digilingnya.
Rasulullah
berkata kepada gilingan tersebut, “Berhentilah berputar dengan izin Allah”,
maka penggilingan itu berhenti berputar. Lalu penggilingan itu berkata-kata
dengan izin Allah yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur
kata.
Maka
katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “Ya Rasulullah, demi Allah, Tuhan yang
telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Kalaulah
baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya
hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah
suatu ayat yang berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang
dititahkan”.
Maka
hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka.
Rasulullah kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “Bergembiralah
karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-Zahra di dalam
syurga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu
kemudian diamlah ia.
Rasulullah
bersabda kepada anandanya,
“Jika
Allah menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan
sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki dituliskan-Nya untukmu
beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya
untukmu beberapa derajat.
Ya
Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan
anak-anaknya, maka Allah menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang
digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya
Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk
suaminya maka Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.
Ya
Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut
mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah akan mencatatkan baginya ganjaran pahala
orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian
kepada seribu orang yang bertelanjang.
Ya
Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah
akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.
Ya
Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami
terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan
aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu
daripada Allah dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah?.
Ya
Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka
beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah akan mencatatkan baginya
tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah mencatatkan untuknya pahala
orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil.
Apabila
ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada
hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan
dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya
menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah akan mengkaruniakannya
pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu
malaikat hingga hari kiamat.
Perempuan
mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas
serta niat yang benar maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah
akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari
setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan
dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.
Ya
Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah akan
memandangnya dengan pandangan rahmat.
Ya
Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring
atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya
penyeru dari langit (malaikat),
“Teruskanlah amalmu maka Allah telah mengampunimu akan
sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”.
Ya
Fathimah, perempuan mana yang meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan
memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah akan memberinya
minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah akan meringankan sakarotulmaut-nya,
dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga seta
Allah akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di
atas titian Shirat”. (Syarah
‘Uquudil lijjaiin-Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani).
Sekarang
apa rahasia Ali bin Abi Thalib mencintai Fathimah? Fathimah adalah teman karib
semenjak kecil, puteri tersayang Rosulullah, sedangkan Ali bin Abi Thalib
adalah sepupu Rosulullah yang mempesona, baik kesantunannya, ibadahnya,
kecekatan kerjanya, parasnya maupun kecerdasannya.
Ali
bin Abi Thalib sejak Fatimah masih kanak-kanak sudah memperhatikan sifat dan
tingkah lakunya, yaitu pada suatu hari ketika ayahnya (Rosulullah) pulang
dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan
dengan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia
bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya
dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah (sang
ayah yang Tepercaya) tidak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis
cilik (Fatimah) itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah, di sana, para
pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang
Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu
berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Ali
bin Abi Thalib tak tahu apakah rasa itu (selalu memperhatikan sifat dan tingkah
laku Fatimah) disebut cinta?.
Tapi,
ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan bahwa
Fathimah dilamar oleh seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat
kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa
sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan yaitu Abu
Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah
mengujiku rupanya”, begitu
batin Ali bin Abi Thalib. Ia merasa diuji karena merasa, apalah ia dibanding
dengan Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru
karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, namun keimanan
dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi.
Lihatlah
bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara Ali
bin Abi Thalib bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah
juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan
saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman
ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab. Sedangkan aku (Ali
bin Abi Thalib) semasa kanak-kanak kurang pergaulan.
Lihatlah
berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu
Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Siapa budak yang
dibebaskan Ali bin Abi Thalib? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar,
insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah. Ali bin Abi Thalib hanya pemuda
miskin dari keluarga miskin.
”Inilah
persaudaraan dan cinta”, gumam
Ali bin Abi Thalib. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku
mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta
tak pernah meminta untuk menanti, tapi mengambil kesempatan atau
mempersilakannya. Dan cinta itu membutuhkan keberanian atau pengorbanan.
Beberapa
waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang
sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak, dan Ali bin Abi Thalib terus menjaga
semangatnya untuk mempersiapkan diri menyambut Fathimah. Tapi, ujian itu rupanya
belum berakhir.
Setelah
Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah
dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin
berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari
takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut, yaitu Umar bin Khaththab.
Ya,
Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar
Fathimah. Umar bin Khaththab memang masuk Islam belakangan, sekitar tiga tahun
setelah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan
ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya Umar bin Khaththab
dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, Ali
bin Abi Thalib mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku
datang bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, aku keluar bersama Abu Bakar
dan Umar bin Khaththab, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab..”
Betapa
tinggi kedudukannya di sisi Rasulullah, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba
bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana Umar bin Khaththab
melakukannya?. Ali bin Abi Thalib menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi,
dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan Rosulullah shallallaahu
’alaihi wa sallam, maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di
siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan
bersembunyi.
Umar
bin Khaththab telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik
ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini
putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda,
anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar
di balik bukit ini!” ’. Umar bin Khaththab adalah lelaki pemberani,
sedangkan aku (Ali bin Abi Thalib), sekali lagi sadar.
Bila
dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum
siap menikah, apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. Umar bin
Khaththab jauh lebih layak, dan Ali bin Abi Thalib pun ridha.
Sekali
lagi cinta tak pernah meminta untuk menanti. tapi mengambil kesempatan atau
mempersilakannya. Dan cinta itu membutuhkan keberanian atau pengorbanan. Maka
Ali bin Abi Thalib pun bingung ketika mendengar kabar lamaran Umar bin
Khaththab juga ditolak.
Ingin
menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Rosulullah? Yang seperti ’Utsman bin
Affan, sang miliyader yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang
seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti
Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang
kepercayaan diri Ali bin Abi Thalib. Di antara Muhajirin hanya
’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau
justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan
dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan
itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?.
”Mengapa
bukan engkau yang mencoba kawan?”,
kalimat
teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunannya.
”Mengapa
engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang
ditunggu-tunggu Rosulullah.. ”
.
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya.
Engkau wahai saudaraku!”.
”Aku
hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”.
”Kami
di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
Ali
bin Abi Thalib pun menghadap Rosulullah, maka dengan memberanikan diri untuk
menyampaikan keinginannya menikahi Fathimah.
Ya,
menikahi, dengan sadar secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk
makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu
memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu
sangat kekanakan.
Usianya
telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu
nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda
yang siap memikul resiko atas pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha
Kaya.
Lamarannya
terjawab, ”Ahlan wa sahlan!” . Kata itu meluncur tenang
bersama senyum Rosulullah. Dan Ali bin Abi Thalib pun bingung. Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan
atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak
sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan
daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya
dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana
jawab Nabi kawan?
Bagaimana
lamaranmu?”.
”Entahlah..”.
”Apa
maksudmu?”.
”Menurut
kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban ?”
”Dasar
tolol! Tolol!”, kata
mereka.
”Eh,
maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan
saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan!
Dua-duanya berarti ya !”.
Dan
’ Ali bin Abi Thalib pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju
besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi
Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk
mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Fathimah. Dengan
keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
Ali
bin Abi Thalib adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki
yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” .
Inilah
jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan
dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti
’ Ali bin Abi Thalib. Ia mempersilakan, atau mengambil kesempatan. Yang pertama
adalah pengorbanan, dan yang kedua adalah keberanian.
Ternyata
tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi (Fathimah) dalam suatu
riwayat dikisahkan
bahwa
suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,“Maafkan
aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada
seorang pemuda”.
Ali
bin Abi Thalib terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau
manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”.
Sambil
tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah
dirimu”.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Langganan:
Komentar (Atom)








