Selain Aisyah, Hafshah dikenal sebagai istri Rasulullah Saw. yang pencemburu. Seringkali ia membuat ulah untuk menarik perhatian Rasulullah. Suatu hari, ketika Rasulullah menemuinya, Hafshah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mulutmu bau maghafir (minuman dari getah yang berbau busuk)?” “Aku baru saja minum madu, bukan maghafir,” jawab Nabi penuh tanda tanya. “Kalau begitu, engkau minum madu yang sudah lama,” timpal
Hafshah. Keheranan Rasulullah makin bertambah ketika Aisyah yang
ditemuinya mengatakan hal serupa.
Saking kesalnya, Rasulullah mengharamkan madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau Hafshah telah “berkomplot” dengan Aisyah untuk “ngerjain” Rasulullah. Keduanya cemburu lantaran Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan karena Zainab menawarkan madu kepada
beliau. Membicarakan kehidupan Hafshah binti Umar bin Khattab tak bisa
lepas dari sifat pencemburunya yang besar. Sebenarnya, sifat cemburunya itu lahir dari rasa cintanya yang mendalam kepada Rasulullah. Ia takut kalau-kalau Rasulullah kurang memberi perhatian dan cinta yang cukup kepadanya. Namun, sifat pencemburunya itu terkadang melahirkan ulah yang menjengkelkan.
Pernah, dalam sebuah perjalanan Hafshah dan Aisyah dibawa serta. Kedua istri Nabi itu duduk dalam sekedup (tandu di atas punggung unta) yang berbeda. Selama perjalanan, Rasulullah lebih sering berada dalam sekedup di atas unta Aisyah. Pada waktu istirahat, Hafshah yang terbakar api cemburu meminta Aisyah untuk berpindah tempat. Seusai
istirahat, Rasulullah naik kembali ke sekedup Aisyah yang sudah
ditempati Hafshah dan mengajak bicara. Beliau tak tahu kalau yang menjawabnya dengan jawaban-jawaban pendek itu Hafshah. Dan … betapa kesalnya Rasulullah setelah ia tahu dirinya dipermainkan kedua istrinya itu. Begitu seringnya Hafshah membuat ulah, lantaran cemburu, Rasulullah pernah berniat akan menceraikannya.
Namun, Jibril datang mencegah Nabi. Rasulullah malah mendatangi anak Umar bin Khattab itu dan berkata, “Ya Hafshah, hari ini Jibril datang kepadaku dan memerintahkan kepadaku “irji’ ilaa Hafshah, fainnaha hiya showwama, qowwama wa hiya azawaajuka fil jannah” (kembalilah kepada Hafshah, sesungguhnya ia wanita yang senantiasa puasa, mendirikan shalat, dan ia adalah istrimu kelak di surga). Dialah
Hafshah binti Umar, wanita yang mendapat pembelaan Jibril tatkala hendak
diceraikan Rasulullah lantaran sifat pencemburunya. Jibril memberi penilaian obyektif atas diri Hafshah.
Meski memiliki kelemahan dan kekurangan dengan sifat cemburunya, tapi Hafshah adalah wanita yang tekun beribadah. Ia rajin puasa sunnah dan tak pernah meninggalkan shalat tahajjud. Maka Jibril pun membelanya, bahkan menyampaikan jaminan Allah bahwa Hafshah termasuk salah satu istri Nabi di surga. Kecemburuan istri-istrinya
sebenarnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi oleh Rasulullah. Apalagi, beliau dikenal orang yang paling sabar dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk ulah istri-istrinya. Namun, yang membuatnya marah adalah jika rasa cemburu itu mendorong istri-istrinya atau dirinya melakukan maksiat kepada Allah. Rasulullah pernah ditegur Allah lantaran mengharamkan madu dan istrinya Maria akibat ulah Hafshah. Rasa cemburu yang seperti inilah yang tidak dibenarkan Rasulullah. Akibat
rasa cemburunya yang berlebihan itu, Hafshah ditegur langsung oleh Allah
melalui firman-Nya dalam surat At-Tahrim ayat 3 dan 4. Tapi, putri Umar bin Khattab itu pulalah yang dibela Jibril ketika hendak dicerai oleh Rasulullah karena memiliki kelebihan-kelebihan dalam sisi peribadatannya.
Perang Jamal, Bagaimana Kronologis Peperangan Tersebut, Siapa Dalang
Terjadinya Peperangan? Ternyata Pendiri Syiah Berada Dibalik semua ini
PERANG JAMAL
a. Latar Belakang terjadinya perang jamal
Setelah Ali bin Abu Thalib dibai’at, Thalhah dan Azzubeir meminta ijin
kepadanya untuk pergi ke Makkah. Ali pun menginjinkan mereka. Mereka
kemudian bertemu dengan Ummul Mukminin Aisyah disana. Saat itu Aisyah
sudah mendengar kabara bahwa Utsman terbunuh. Maka, mereka semua
berkumpul di Makkah, hendak menuntut balas atas terbunuhnya Utsman.
Tidak lama kemudian, Ya’la bin Munyah dari Bashrah dan Abdullah bin
Amir dari Kuffah datang ke Makkah. Mereka semua berkumpul di Makkah juga
untuk menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Mereka lalu keluar dari
Makkah diikuti oleh orang-orang di belakang mereka, pergi menuju ke
Bashrah hendak mencarai pembunuh Utsman. Semua itu mereka lakukan karena
mereka memandang bahwa merekak telah lalai dalam menjaga Utsman. Ketika
itu, Ali berada di Madinah, semenetara Utsman bin Hunaif adalah
gubernur Basharah yang diangakat oleh Ali bin Abu Thalib.
Sesampainya mereka di Bashrah, Ali menugaskan Utsman bin Hunaif untuk
menanyakan tujuan mereka datang ke Bashrah. Mereka menjawab: “Kami
menginginkan pembunuh Utsman.” Utsman bin Hunaif berkata: “Tunggulah
hingga Ali datang. Ia melarang untuk masuk ke Bashrah.
Ketika
itulah, Jabalah keluar menemui mereka. Jabalah ini adalah salah seorang
yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. Ia menyerang mereka dengan jumlah
pasukan 700 personil. Namun mereka dapat mengalahkannya dan membunuh
personil yang bersamanya. Sementara banyak juga penduduk Bashrah yang
bergabung dengan pasukan Thalhah, Azzubair, dan Aisyah ini.
Ali
kemudian keluar dari Madinah, bergerak menuju Kufah. Ini terjadi setelah
ia mendengar kabar bahwa telah terjadi peperangan antara Utsman bin
Hunaif, gubernur tunjukan Ali untuk Bashrah, dengan Thalhah, Azzubeir,
dan Aisyah, serta orang-orang yang bersama mereka. Ali keluar setelah
menyiapkan pasukan yang berjumlah 10.000 orang untuk menyerang Thalhah
dan Azzubeir.
Disini kita melihat secara jelas bahwa Ali bin Abu
Thaliblah yang keluar mendatatangi mereka (Thalhah,Azzubeir, dan
Aisyah), bukan mereka yang keluar menuju Ali. Mereka juga tidak
bermaksud memerangi Ali sebagaimana yang diklaim oleh sebagian kelompok
dan orang-orang yang terpengaruh oleh isapan jempol terkait peperangan
ini. Jikalau mereka ingin memberontak terhadap Alai, tentunya mereka
akan langsung pergi menuju ke Madinah, bukan ke Bashrah.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa Thalhah, Azzubeir, dan Aisyah, serta
orang-orang yang ikut bersama mereka tidak pernah membatalkan dan
menolak kekhaliahan Ali. Mereka juga tidak mencela, tidak menyebutkan
kejelekan, tidak membai’at orang selain Ali, dan tidak pergi menuju
Bashrah untuk menyerang Ali. Karena, ketika itu Ali memang tidak berada
di Bashrah.
Oleh karena itu, Al-Ahnaf bin Qais berkata: “Aku
bertemu Thalah dan Azzubeir setelah terjadi pengepungan terhadap Utsman,
lantas bertanya: “Apa yang kalian berdua perintahkan kepadaku? Karena,
aku melihat Utsman telah terbunuh.’ Mereka berdua menjawab: ‘Ikutilah
Ali.’ Aku kemudian bertemu dengan Aisyah di Makkah setelah terjadi
pembunuhan terhadap Utsman, lalu bertanya: “Apa yang engkau
perintahkan?’ Dia menjawab: ‘Ikutilah Ali.” 1
b. Perundingan jelang meletusnya peperangan
Ali mengirimkan Almiqdad bin Alaswad dan Alqa’qa bin Amr untuk
berunding dengan Thalhah dan Azzubeir. Pihak Almiqdad dan Alqa’qa
sepakat dengan pihak Thalhah dan Azzubeir untuk tidak berperang.
Masing-masing pihak menjelaskan sudut pandang mereka. Thalhah dan
Azzubeir berpendapat bahwa tidak boleh membiarkan pembunuh Utsman begitu
saja, sedangkan pihak Ali berpendapat bawa menyelidiki siapa pembunuh
Utsman untuk saat sekarang bukan hal paling mendesak. Namun, hal ini
bisa ditunda sampai keadaan stabil. Jadi, mereka sepakat untuk
mengqishash para pembunuh Utsman. Adapun yang mereka perselisihkan adlah
waktu untuk merealisasikan hal tersebut.
Setelah kesepakatan
itu, dua pasukan pun bisa tidur dengan tenang, sedangkan para pengikut
Abdullah bin Saba – mereka para pembunuh Utsman – terjaga dan melewati
malam yang buruk, karena akhirnya kaum Muslimin sepakat untuk tidak
saling berperang. Demikianlah keadaan yang disebutkan oleh para
sejarawan yang mencatat peperangan ini, seperti Athabari,2 Ibnu Katsir,3
Ibnu Atsir,4 Ibnu Hazm,5 dan yang lainnya
Ketika itu para
pengikut Abdullah bin Saba sepakat akan melakukan apa pun agar
kesepakatan tersebut dibatalkan. Menjelang waktu subuh, ketika
orang-orang sedang terlelap, sekelompok orang dari mereka menyerang
pasukan Thalhah dan Azzubeir, lalu membunuh beberapa orang diantara
pasukan mereka.
Setelah itu, mereka melarikan diri. Pasukan Thalhah
mengira bahwa pasukan Ali telah mengkhianati mereka. Pagi harinya,
mereka menyerang pasukan Ali. Melihat hal itu, pasukan Ali mengira bahwa
pasukan Thalhah dan Azzubeir telah berkhianat. Serang-menyerang antara
kedua pasukan ini pun berlangsung sampai tengah hari. Selanjutnya,
perang pun berkecamuk dengan heabatnya.
c. Upaya Menghentikan Peperangan
Para pembesar pasukan dari kedua belah pihak telah berupaya
menghentikan peperangan, namun mereka tidak berhasil. Ketika itu Thalhah
berkata: “Wahai manusia, apakah kalian mendengar!” Namun mereka tidak
mendengarkan seruannya. Lalu, dia berkata: “Buruk! Buruk sekali jilatan
neraka! Buruk sekali kerakusan!”6
Ali juga berupaya melerai
mereka, namun mereka tidak menggubrisnya. Aisyah kemudian mengirimkan
Ka’ab bin Sur dengan membawa mushaf untuk menghentikan perang, namun
para pengikut Abdullah bin Saba membidiknya dengan anak panah sampai
menewaskannya.
Demikianlah yang terjadi, apabila peperangan telah
berkecamuk maka tidak ada seorangpun yang dapat menghentikannya. Semoga
Allah melindungi kita dari fitnah seperti itu. Imam Albukhari
menyebutkan beberapa bait syair milik Imru-ul Qais:
Perang pertama-tama tampak seperti gadis rupawan
berjalan berhias ‘tuk menarik setiap orang bodoh
hingga jika telah menyala dan apainya berkobar-kobar
gadis itu jadi wanita tua yang tak berdaya tarik
rambutnya beruban, raut mukanya aneh dan menua
dengan bau yang tak sedap dihirup bila dicium7
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Apabila fitnah sudah terjadi,
orang-orang pintar tidak akan mampu melerai orang-orang bodoh.
Demikianlah yang terjadi pada para pembesar sahabat. Mereka tidak dapat
memadamkan fitnah peperangan dan mencegah para pelakunya. Memang seperti
inilah fitnah, sebagaimana yang Allah firmankan:
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah amat
keras siksaan-Nya. (QS. Alanfaal:25)8
Perang jamal terjadi pada
tahun 36 h atau pada awal kekhilafahan Ali. Perang ini mulai berkecamuk
setelah zhuhur dan berakhir sebelum matahari terbenam pada hari itu.
Dalam peperangan ini, Ali disertai 10.000 personil pasukan, sementara
Pasukan Jamal (berunta) berjumlah 5.000 – 6.000 prajurit. Bendera Ali
dipegang oleh Muhammmad bin Ali bin Abu Thalib, sementara bendera
Pasukan Jamal dipegang oleh Abdullah bin Azzubeir.
Pada perang
ini banyak sekali kaum muslimin yang tewas terbunuh. Inilah fitnah yang
kita berharap kepada Allah agara menyelamatkan pedang-pedang kita
darinya. Kita memohon kepada Allah agar meridhai dan memberi ampunan
kepada mereka (kaum Muslimin yang iktu dalam perang ini).
d. Terbunuhnya Thalhah dan Azzubeir
Thalhah, Azzubeir, dan Muhammad bin Thalhah tewas terbunuh. Mengenai
Azzubeir, ia sebenarnya tidak ikut serta dalam perang ini. Begitu juga
dengan Thalhah. Karena ada sebuah riwayat menyebutkan bahwasanya ketika
Azzubeir datang pada perang ini, ia bertemu Ali bin Abu Thalib, lantas
Ali berkata kepadanya: “Apakah engkau ingat bahwa Rasulullah pernah
bersabda: ‘Engkau akan memerangi Ali sedangkan engkau dalam posisi
mendzaliminya.’ “Maka, pada hari itu Azzubeir kembali dan tidak ikut
berperang9
Jadi yang benar adlah Azzubeir tidak ikut perang.
Tetapi apakah dialog yang disebutkan dalam riwayat itu memang terjadi
antara ia dan Ali? Wallahu a’lam. Karena , riwayat ini tidak memiliki
sanad yang kuat. Namun, begitulah yang masyhur dalam buku-buku sejarah.
Ada lagi riwayat yang lebih masyhur, yakni Azzubeir tidak ikut dalam
perang ini, namun ia dibunuh secara diam-diam oleh seorang yang bernama
Ibnu Jurmuz.
Sementara itu, Thalhah terbunuh karena terkena anak
panah nyasar. Namun, yang masyhur, orang yang membidiknya adalah Marwan
bin Alhakam. Bidikan Marwan mengenai kakinya, tepat pada bekas luka
lamanya. Ketika itu ia sedang berusaha melerai para prajurit yang
berperang.
Seusai perang, banyak prajurit yang terbunuh.
Khususnya, mereka yang menjaga unta yang dikendarai oleh Aisyah, karena
Aisyah merupakan simbol bagi mereka, bahkan mereka mati-matian dalam
melindunginya. Karena itu, dengan tumbangnya unta Aisyah, perang pun
berhenti dan selesai. Kemenangan berada di pihak Ali bin Abu Thalib,
walaupun sebenarnya tidak ada pihak yang menang. Justru, Islam dan kaum
Muslimin memperoleh kerugian dalam perang ini.
e. Pasca Terjadinya Peperangan
Pasca Perang Jamal, Ali berjalan di antara para korban yang tewas, lalu
menemukan mayat Thalhah bin Ubaidillah. Setelah mendudukannya dan
mengusap debu dari wajahnya, Ali berkata: “Wahai Abu Muhammad, alangkah
berat perasaan ini melihatmu meninggal tergeletak di atas tanah di bawah
bintang-bintang langit.” Ia pun kemudian menangis seraya berkata:
“Aduhai, seandainya aku mati dua puluh tahun silam sebelum peristiwa
ini.10
Setelah itu, Ali melihat mayat Muhammad bin Thalhah (yaitu
anak dari Thalhah), lalu ia menangis lagi. Muhammad bin Thalhah adalah
orang yang dijuluki dengan Assajjad (orang yang banyak sujud) karena dia
banyak beribadah.
Seluruh Sahabat yang mengikuti perang ini, tanpa terkecuali, menyesali apa yang telah terjadi.
Ibnu Jurmuz menemui Ali sambil membawa pedang milik Azzubeir, lalu
berkata: “Aku telah membunuh Azzubeir, aku telah membunuh Azzubeir.”
Mendengar hal itu, Ali berkata: “Pedang ini telah begitu lama
menghilangkan duka dan kesusahan Rasulullah. Berikanlah berita gembira
kepada orang yang telah membunuh Ibnu Shafiyyah (yaitu Azzubeir) bahwa
ia akan masuk Neraka.” Setelah itu Ali tidak mengijinkan Ibnu Jurmuz
untuk menemuinya.11
Pasca Perang Jamal, Ali menemui Ummul
Mukminin Aisyah, kemudian mengantarkannya pulang ke Madinah dengan penuh
kemuliaan dan kehormatan. Sebab, dahulu Nabi pernah memerintahkan
kepada Ali agar memuliakan dan menghormati Aisyah.
Diriwayatkan
dari Ali; dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda kepadanya: “Akan
terjadi suatu masalah antara kau dan Aisyah.” Ali berkata: “Wahai
Rasulullah, kalau begitu, tentu aku akan menjadi orang yang paling
celaka.” Rasulullah berkata: “Tidak demikian adanya, tapi jika itu
terjadi, maka kembalikanlah dia (Aisyah) ke tempatnya yang aman.”12 Maka
Ali pun melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah
kepadanya.
f. Mengapa Ali menunda qishash bagi pembunuh Utsman?
Ali meninjau masalah ini dari segi maslahat dan mafsadatnya, dan ia
melihat bahwa yang maslahat adalah menunda qishash, tapi bukan
meninggalkannya sama sekali. Inilah yang menjadi alasan ditundanya
qishash. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Nabi pada peristiwa ifki,
yaitu ketika sebagian orang menggosipkan Aisyah telah selingkuh.
Diantara mereka yang masyhur menggosipkan Aisyah saat itu adalah: Hassan
bin Tsabbit, Hammah binti Jahsy, dan Misthah bin Utsatsah. Sementara
yang menjadi penyulutnya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika itu,
Nabi naik ke atas mimbar, kemudian bersabda: “Siapa yang membelaku
terhadap seseorang yang menyakitiku dengan menyakiti keluargaku?” Yang
beliau maksud dengan orang itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka,
Sa’ad bin Mu’adz pun berdiri dan berkata: “Aku yang akan membelamu,
wahai Rasulullah! Apabila orang itu berasal dari kami, orang-orang Aus,
maka kami akan membunuhnya. Apabila orang itu berasal dari saudara kami,
orang-orang Khazraj, maka perintahkanlah pada kami untuk membunuhnya.
Sa’ad bin Ubadah kemudian berdiri dan membantah perkataan Sa’ad bin
Mu’adz. Setelah itu, Usaid bin Hudhair berdiri dan membantah perkataan
Sa’ad bin Ubadah. Nabi pun menenangkan mereka.13
Nabi tahu betul
bahwa ini merupakan masalah besar. Sebelum kedatangan nabi ke Madinah,
suku Aus dan Khazraj sepakat menjadikan Abdullah bin Ubay bin Salul
sebagai pemimpin mereka. Maka dari itu, orang ini mempunyai kedudukan
yang tinggi dalam pandangan mereka. Dialah yang kembali bersama
sepertiga pasukan pada saat Perang Uhud. Dalam hal ini, Nabi tidak
menghukum Abdullah bin Ubay bin Salul.
Mengapa demikian? Karena,
maslahat. Menurut pandangan beliau, menghukum Abdullah bin Ubay bin
Salul ketika itu akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada
apabila beliau membiarkannya.
Demikian juga dengan Ali. Ia
berpandangan bahwa menunda qishash akan menimbulkan kerusakan yang lebih
kecil daripada mempercepatnya. Selain itu, pada masa-masa tersebut, Ali
memang tidak mampu untuk mengqishsash para pembunuh Utsman, karena
orang-orangnya belum diketahui, walaupun memang ada otak terjadinya
fitnah ini dan mereka mempunyai kabilah-kabilah yang akan membela
mereka. Sedangkan keamanan belum pulih, dan fitnah saat itu masih
terjadi. Siapa yang berani menjamin bahwa mereka tidak akan membunuh
Ali? Bahkan, bila Ali mengqishashnya ketika itu, bisa dipastikan mereka
akan membunuhnya setelah itu.
Oleh karena itu, ketika tampuk
kekhalifahan dipegang oleh Mu’awiyah, ia pun tidak membunuh para
pembunuh Utsman, mengapa? Karena, pada akhirnya berkesimpulan sama
seperti Ali. Ketika itu Ali melihat realita. Sementara Mu’awiyah
berkesimpulan berdasarkan analisanya saja. Tapi setelah memegang tampuk
kepemimpinan, Mu’awiyah melihat kondisi secara riil (di lapangan).
Benar, Mu’awiyah telah mengirimkan orang untuk mengqishash sebagian di
antara pembunuh Utsman, tetapi sebagiannya masih hidup sampai jaman
Alhajjaj. Barulah pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan mereka
diqishash semuanya.
Intinya, Ali belum bisa membunuh mereka bukan karena lemah, tetapi karena mengkhawatirkan keadaan umat ketika itu.
Dinukil dari buku terjemahan yang berjudul “inilah faktanya” Meluruskan
sejarah umat islam sejak wafat nabi hingga terbunuhnya husein
foot note:
Fathul baari (XIII/38). Ibnu Hajar, penulisnya, berkata: “Ath thabari meriwayatkan kisah ini dengan sanad shahih.”
Taariikh Aththabari (III/517).
Albidaayah wan Nihaayah (VII/509)
Alkaamil fit Taariikh (III/120).
Alfishal fil Milal wal Ahwaa wan Nihal (IV/293).
Taariikh Khalifah bin Khayyath (hlm. 182)
Shahiihul Bukhari, Kitab “Alfitnah”, Bab “AlFitnatul Latii Tamuuju Kamaujil Bahr”,sebelum hadits nomor 7096.
Mukhtashar Minhaajis Sunnah ( hlm. 281)
Almushannaf karya Ibnu Abi Syaibah (XV/283, no. 19674). Dalam sanad
riwayat ini ada perawi yang majhul (tidak dikenal identitasnya). Riwayat
ini juga disebutkan oleh al hafidz Ibnu Hajar dalam al-Mathaalibul
‘Aliyah (no. 4412)
Mukhtashar Taariikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir
(XI/207) dan Usdul Ghaabah (III/88). AlBushriri berkata: “Para
perawinya tsiqah”, dan dia mengutipnya dari Ibnu Hajar dalam
alMathaalibul ‘Aaliyah (IV/302) dengan sedikit perbedaan redaksi.
Ath-Thabaqaatul Kubraa karya Ibnu Sa’ad (III/105) dengan sanad hasan.
HR. Ahmad dalam musnadnya (VI/393). Alhafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (XIII/60) : “Sanad hadits ini hasan.”
Muttafaq Alaih : Shahihul Bukhari, Kitab “Al Maghaazi”, Bab “Haditsul
Ifki” (no. 414); dan Shahiih Muslim, Kitab “Attaubah”, Bab “Haditsul
Ifki wa Qabuul Taubatil Qaadzif” (no. 2770).
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai
dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah
ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara
kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml
ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan
sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka,
bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar
tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika
rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan
ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke
hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang
lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara
dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai
tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat
sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa
di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj,
terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang
Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu
Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan
Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis?
Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas
sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar
sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau
meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut”
.[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang
kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke
mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang
korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara
yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang
mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya,
tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh
Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada
sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau
sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah
yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku
mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu
timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi
ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan
hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada
manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah
daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam-mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku
dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak
akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling
beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah
gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam
kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan
bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-
mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan
tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda,
“Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah
seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai
Rasulullah”.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah
dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah
mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR.
Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak
(2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad
(3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam
Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang
ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang
yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing
panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau
makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang
menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun.
Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian
kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing
panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah
Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang
mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau
adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan
membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah
melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang
menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat
makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi
leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan
Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq
Masyhur Hasan Salman]
6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka
keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman.
Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim
harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai
hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah
Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara
mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba
Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR.
Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini
terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya
benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan)
bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari
(6/610)]
7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang
berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif
belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca,
sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan
memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan
perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini
sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia,
kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala
sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang
nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan
burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga
apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai
semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak
oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia
(Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut
itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap
mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada
dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau
ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban
Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang
beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak
zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang
kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena
itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan
aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin.
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan kepada kita tentang saat-saat terakhir kehidupan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu:
Aku menemui Umar setelah ia terluka karena ditikam. Kukatakan
padanya, “Bergembiralah dengan surga wahai Amirul Mukminin. Engkau
memeluk Islam ketika orang-orang masih kufur. Engkau berjihad bersama
Rasulullah ﷺ ketika orang-orang tidak membelanya. Saat Rasulullah ﷺ
wafat, beliau ridha padamu. Tidak terjadi perselisihan (sengketa) pada
masa kekhalifahanmu. Dan engkau wafat dalam keadaan syahid.”
Ia menanggapi ucapanku dengan mengatakan, “Ulangi apa yang kau ucapkan.” Aku pun mengulanginya.
Kemudian ia menjawab, “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang
benar kecuali Dia. Sekiranya aku memiliki emas dan perak sepenuh bumi,
niscaya akan kutebus (agar selamat) dari sesuatu yang menakutkan
(kiamat).”
Dalam riwayat al-Bukhari, Umar mengatakan, “Perkataanmu, aku menjadi
sahabat Rasulllah ﷺ dan ia ridha padaku. Itu semua karunia dari Allah Jalla Dzikruhu
yang Dia berikan padaku. Kesedihanku yang kau saksikan adalah karena
engkau dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, seandainya aku memiliki emas
sepenuh bumi, pasti akan kutebus diriku agar selamat dari adzab Allah ﷻ.
Sebelum aku menyaksikan adzab itu.”
Maksud dari engkau dan sahabat-sahabatmu adalah kalian semua
rakyatku. Aku diminta pertanggung-jawaban atas kalian. Itu yang
membuatku sedih.
Orang yang menyaksikan pemerintahan Umar dan juga membaca sejarah
hidupnya, bersaksi bahwa Umar adalah pemimpin yang adil. Rasulullah ﷺ
menyebutkan 7 golongan yang dilindungi oleh Allah ﷻ di padang mahsyar,
di antaranya adalah pemimpin yang adil. Dan beliau ﷺ secara langsung
menyebutkan, “Umar di dalam surga”. Namun hati Umar tidak lengah karena
itu semua. Ia tetap takut kepada Allah. Takut akan tanggung jawab yang
dipinta di hari kiamat. Sikap Umar bukan hanya sebuah bacaan. Bukan juga
bahan untuk membanding-bandingkan. Apalagi mengukur dan mencela orang
lain. Renungkan untuk diri kita sendiri. Umar saja demikian, mestinya
kita lebih-lebih lagi. Karena di akhirat, Allah memintai
pertanggung-jawaban masing-masing. Kita tidak ditanya tentang apa yang
orang lain lakukan.
Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu berkisah mengenang Umar bin al-Khattab:
Aku termasuk yang terakhir menjenguk Umar. Aku masuk menemuinya. Saat
itu kepalanya berada di pangkuan anaknya, Abdullah bin Umar. Umar
berkata, “Letakkan saja kepalaku di tanah!” “Bukankah sama saja, di
pahaku atau di tanah”, jawab Abdullah. Umar mengulangi perintahnya,
“Letakkan pipiku di tanah, celaka engkau!” dia mengatakan itu yang kedua
atau yang ketiga.
Kemudian Umar merapatkan kedua kakinya, “Celaka aku dan celaka ibuku,
kalau Allah belum juga mengampuniku.” Kemudian ruhnya berpisah dari
jasadnya. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, No. 3692).
Sampai tingkat seperti ini rasa khasy-yah (takut) Amirul Mukminin Umar radhiallahu ‘anhu
kepada Allah Yang Maha Mulia. Akhir ucapannya adalah doa. ‘Alangkah
celaka dan rugi kiranya ampunan Sang Maha Penyayang belum aku dapatkan’.
Rasa takut dan khawatirnya hingga detik-detik menjelang ajal. Ia
hinakan diri di hadapan Allah. Tak mau mengemis kepada Allah dalam
keadaan dimuliakan. Ia pinta putranya meletakkan kepalanya di tanah,
jangan dipangku. Agar doa itu lebih mungkin untuk diterima. Tergambar di
benak kita, alangkah hebatnya usaha Umar menghadirkan Allah dalam
hatinya. Tempat Umar ditikam oleh Abu Lu’lu’ah al-MajusiTanggal Wafat
Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Umar syahid pada
hari Rabu, saat bulan Dzul Hijjah tersisa 4 atau 3 hari saja. Tahun 23
H. Saat itu umurnya 63 tahun. Kekhilafahannya berlangsung selama 10
tahun, 6 bulan, dan beberapa hari.
Termaktub dalam Tarikh Abi Zur’ah, dari Jarir bin Abdillah al-Bajaly,
ia mengatakan, “Aku pernah bersama Muawiyah. Ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ
wafat pada usia 63 tahun. Abu Bakar wafat juga di usia 63 tahun. Dan
Umar syahid juga di usia 63 tahun.” (Riwayat Muslim dalam Fadhail
ash-Shahabah, No. 2352).
Prosesi Pemandian Jenazah
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, “Ia dimandikan dan dikafani. Kemudian dishalatkan. Dan ia wafat dalam keadaan syahid.” (ath-Thabaqat, 3/366. Sanadnya shahih).
Para ulama berbeda pendapat tentang seseorang yang dibunuh secara
zalim. Apakah statusnya seperti seorang yang syahid (di medan perang),
dimandikan atau tidak. Yang berpendapat dimandikan, mereka berdalil
dengan dimandikannya Umar bin al-Khattab ini. Pendapat kedua: tidak
dimandikan dan dishalatkan. Mereka juga berdalil dengan kisah Umar. Umar
masih hidup beberapa hari setelah ditikam. Masih diberi makan dan
minum. Berbeda halnya dengan orang-orang yang mati syahid dalam
peperangan (al-Inshaf oleh al-Murdawai, 2/503 dan Mahadh ash-Shawab, 3/844/845).
Shalat Jenazah
Imam adz-Dzhabai mengatakan, “Shuhaib bin Sinan menjadi imam shalat jenazah Umar”.
Ibnu Saad mengatakan, “Ali bin al-Husein bertanya kepada Said bin
al-Musayyib, ‘Siapa yang menjadi imam shalat jenazah Umar?’ “Shuhaib bin
Sinan,” jawab Said. “Dengan berapa takbir?” Ali bin al-Husein kembali
bertanya. “Empat,” jawab Said. “Dimana dia dishalatkan?” tanya Ali lagi.
“Antara kubur Nabi dan mimbar beliau,” jawab Said.
Kemudian Said bin al-Musayyib menjelaskan mengapa yang dipilih
menjadi imam adalah Shuhaib bin Sinan. Bukan enam orang sahabat yang
utama yang ada saat itu. “Kaum muslimin memandang, apabila Shuhaib
menjadi imam dalam shalat wajib atas perintah Umar, tentu dia layak
dikedepankan menjadi imam shalat jenazahnya. Umar tidak melebihkan salah
seorang dari enam sahabat yang ditunjuk untuk bermusyawarah dalam
permasalahan khilafah. Sehingga orang-orang tidak menyangka, ia
mengutamakan salah satunya.” jelas Said bin al-Musayyib (ath-Thabaqat, 3/366).
Shuhaib ditunjuk menjadi imam shalat menggantikan Umar, 3 hari
menjelang wafatnya. Ia dipilih menjadi imam, bukan salah satu dari enam
orang ahli syura, agar orang-orang tidak langsung menunjuk salah satu
darimenjadi khalifah tanpa musyawarah. Enam orang tersebut adalah:
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi
Waqqash, az-Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhum.
Ada satu orang sahabat lagi yang termasuk orang yang diridhai oleh
Rasulullah ﷺ. Ia juga termasuk 10 orang yang dijamin surga. Namun tidak
disertakan Umar dalam musyawarah. Dialah Said bin Zaid radhiallahu ‘anhu.
Barangkali Umar khawatir, Said akan ditunjuk sebagai penggantinya
karena kedekatan hubungan keluarga. Said bin Zaid adalah adik ipar Umar
bin al-Khattab.
Prosesi Pemakaman
Adz-Dzhabi mengatakan, “Umar dimakamkan di kamar Nabi”.
Ibnul Jauzi menyebutkan riwayat dari Jabir. Jabir mengatakan,
“Utsman, Said bin Zaid, Shuhaib, dan Abdullah bin Umar adalah
orang-orang yang turun memasukkan Umar ke liang makamnya.”
Pada tahun 88-91 H, di zaman pemerintahan al-Walid bin Abdul Malik,
Masjid Nabawi mengalami perluasan. Dan rumah Aisyah dimasukkan dalam
pelebaran. Ada suatu kejadian yang menunjukkan benarnya sabda Rasulullah
ﷺ bahwa jasad orang yang syahid tidak hancur. Dari Hisyam bin Aurah, ia
berkata, “Ketika tanah kubur (kubur Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar radhiallahu ‘anhuma)
runtuh karena pemugaran di zaman pemerintahan al-Walid bin Abdul Malik.
Tampaklah satu kaki. Orang-orang pun merasa takut. Mereka khawatir
kalau itu kaki Nabi ﷺ. Tak ada seorang pun di antara mereka yang tahu
kaki siapa itu. Lalu Aurah bin az-Zubair (ulama tabi’in) berkata kepada
mereka, ‘Tidak, demi Allah, itu bukan kaki Nabi ﷺ. Itu adalah kakinya
Umar radhiallahu ‘anhu’.”
Kita ketahui bahwa Umar meminta izin kepada Aisyah agar dikubur
bersama kedua sahabatnya. Dan Aisyah lebih mendahulukan Umar dari
dirinya. Padahal ia ingin dimakamkan bersama suaminya (Rasulullah ﷺ) dan
ayahnya (Abu Bakar). Hisyam bin Aurah bin az-Zubair mengatakan,
“Apabila ada seorang sahabat yang meminta izin lagi dengannya, Aisyah
mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak mengutamakan seorang pun lagi’.” (HR.
al-Bukhari dalam Kitab al-Janaiz No. 1326).
Tidak ada perbedaan pendapat ulama, bahwa kubur-kubur yang berada di
Masjid Nabawi adalah kubur Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.
Persahabatan Sejati Hingga Mati
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Umar diletakkan
di atas tempat tidurnya. Lalu orang-orang mengkafaninya. Setelah itu
mereka mendoakan dan menyalatkannya. Sebelum jasadnya dibopong -saat itu
aku berada di antara mereka-, ada seseorang yang memegang pundakku.
Ternyata Ali bin Abi Thalib. Ia bersedih dengan meninggalnya Umar. Ia
mengatakan, “Tak ada seorang pun yang aku ingin berjumpa dengan Allah,
memiliki amalan seperti yang telah ia perbuat, kecuali engkau (wahai
Umar). Aku percaya, Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang
sahabatmu. Karena aku sering mendengar Nabi ﷺ mengatakan, ‘Aku pergi
bersama Abu Bakar dan Umar. Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar. Dan
Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar’(Riwayat al-Bukhari dalam Kitab
Fadhail ash-Shahabah No. 3482).
Inilah persahabatan sejati. Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar selalu
bersama dalam kehidupan. Kemudian Allah bersamakan mereka dengan
dekatnya liang kuburan. Di akhirat Allah kumpulkan mereka dalam
surganya. Semoga kita juga dikumpulkan bersama mereka.
Duka Atas Wafatnya Umar
Peristiwa wafatnya Umar adalah duka yang begitu mengejutkan.
Kematiannya tidak didahului sakit yang ia derita. Kesedihan itu kian
bertambah, karena Umar bersama mereka, mengimami mereka shalat. Tentu
kepergiannya benar-benar menancapkan duka di jiwa.
Amr bin Maimun mengatakan, “…seolah-olah masyarakat tidak pernah mengalami musibah sebelum hari itu”.
Ibnu Abbas bercerita tentang keadaan orang-orang setelah Umar
terluka, “Sungguh tidak dilewati seseorang kecuali mereka menangis.
Seolah-olah mereka kehilangan anak-anak mereka yang masih kecil”. Ibnu
Abbas menggambarkan duka dan tangisan mereka dengan kehilangan seorang
anak kecil. Usia anak saat sedang lucu-lucunya. Jika mereka tiada, maka
akan begitu kehilangan rasanya. Itulah ekspresi kesedihan masyarakat
tatkala mendengar kabar bahwa Umar sedang kritis.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, apabila diceritakan
tentang Umar, maka ia menangis. Air matanya berbulir-bulir menetes. Ia
mengatakan, “Sesungguhnya Umar adalah benteng umat Islam. Mereka masuk
dan tidak akan keluar dari benteng itu (maksudnya aman). Ketika ia
wafat, benteng itu pun pecah. Orang-orang keluar dari Islam.” Artinya
dengan wafatnya Umar, muncul perpecahan dan aliran-aliran sesat.
Orang-orang keluar dari bimbingan Islam.
Sebelum Umar terbunuh, Abu Ubaidah Ibnul Jarah radhiallahu ‘anhu
mengatakan, “Jika Umar wafat, maka Islam akan (mulai) mundur. Dan aku
tidak ingin merasakan kehidupan setelah wafatnya Umar”. Kemudian ada
yang bertanya, “Mengapa?” “Kalian akan menyaksikan sendiri kebenaran
ucapanku, jika usia kalian panjang. Pemimpin setelah Umar meskipun
mengambil hal yang sama dengan Umar, mereka tidak akan ditaati. Dan
orang-orang tidak mendukungnya. Jika mereka lemah, maka mereka akan
diperangi.” (ath-Thabaqat al-Kubra, 3/284).
Maksudnya, pemimpin setelah Umar, meskipun mereka berhukum dengan
Alquran dan Sunnah. Sama seperti Umar. Mereka tetap tidak akan ditaati
bahkan tidak didukung penuh. Karena mulai muncul pemahaman yang berbeda
terhadap Alquran dan Sunnah. Muncul pemikiran-pemikiran sesat. Dan apa
yang diucapkan Abu Ubaidah sangat tampaknya nyata. Terlebih di zaman
kita. Orang yang berusaha menempuh jalan Umar, berhukum dengan hokum
syariat, akan ditentang. Ketika kekuasaan mereka lemah, mereka akan
diberontak.
Amirul mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu
adalah figur pemimpin adil. Ia seorang yang kuat dan terpercaya
(ber-integritas). Seorang mukmin mujahid dan wara’. Benteng akidah umat.
Kepemimpinannya adalah curahan pelayanan. Umar berkhidmat untuk agama,
keyakinan, dan rakyat.
Umar adalah kepala negara sekaligus panglima tertinggi militer.
Laki-laki Quraisy ini juga berperan sebagai sosok ulama mujtahid yang
jadi rujukan. Seorang hakim yang adil. Dan seorang ayah yang mengayomi.
Ia adalah pelindung bagi mereka yang kecil dan dewasa. Yang lemah dan
yang kuat. Yang miskin dan yang kaya. Keimanannya kepada Allah dan
Rasul-Nya begitu terefleksi dalam kehidupan kesehariannya.
Banyak buku-buku politik membicarakan kepemimpinan Lincoln dan
Kennedy. Atau juga tentang Gandhi dan perlawanannya terhadap Inggris.
Kemudian pendapat-pendapat itu menyebar dan dikonsumsi generasi muda
Islam. Lalu, tahukah mereka dengan Umar bin al-Khattab? Laki-laki yang
membuat Persia bertekuk lutut dan Romawi kehilangan digdaya. Umar bin
al-Khattab seorang politisi berkemampuan luar biasa. Pengalaman hidup
menempanya menjadi super leader. Kecerdasan dan visinya menjadikannya sebagai super manager.
Kisah tentang kehidupan Umar begitu panjang dan mengesankan. Para
penulis banyak menyajikannya dalam karya-karya mereka. Dan artikel kali
ini hanya mengulas akhir kehidupannya. Sebuah kisah yang mengajarkan
kepada kita, musuh itu tidak menampakkan hakikatnya begitu saja. Ia
mungkin berbulu domba, tapi taring dan cakarnya setajam milik srigala.
Dialog Tentang Benteng Umat
Suatu hari, Umar bin al-Khattab berdialog dengan Hudzaifah bin al-Yaman, radhiallahu ‘anhuma.
Hudzaifah adalah seorang sahabat yang banyak dibisiki rahasia umat oleh
Rasulullah ﷺ. Hudzaifah berkata: Kami pernah duduk bersama ibn
al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang menghafal hadits Rasulullah tentang fitnah (perpecahan umat)?”
“Aku menghafalnya”, jawabku.
Kemudian ia berkata, “Coba sebutkan! Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberani.”
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Fitnah seseorang pada
keluarganya, hartanya, dan tetangganya bisa dihapuskan dosanya dengan
shalat, sedekah, dan mengajak kepada yang makruf dan melarang yang
mungkar’, jawabku.
Umar mengomentari, “Bukan itu yang ku-inginkan. Yang kumaksudkan
adalah fitnah yang datang bergelombang seperti gelombang lautan!”
Umar bertanya tentang permasalahan besar yang silih berganti menimpa umat ini.
“Engkau tidak bermasalah dengannya wahai Amirul mukminin,
sesungguhnya di antaramu dan fitnah itu ada pintu yang tertutup.”
Jawabku. Artinya Umar tidak akan mengalami fase tersebut.
Umar bertanya, “Apakah pintunya didobrak atau dibuka?”
“Didobrak,” jawabku.
Umar paham, pintu yang didobrak, maka akan rusak. Tidak akan bisa
ditutup kemabli. Ia berakta, “Didobrak itu lebih parah keadaannya.
Karena selamanya ia tak akan tertutup. Hingga kiamat tiba”. Artinya
perpecahan umat ini akan terus terjadi. Seperti gulungan ombak yang
selalu susul-menyusul tiada berhenti. Menjadi tantantangan bagi umat
Islam hari ini, mencari, manakah jalan kebenaran yang hakiki.
Kemudian orang yang meriwayatkan atsar ini dari Hudzaifah, Abu Wail, bertanya, “Apakah Umar tahu siapakah yang dimaksud dengan pintu itu?”
Hudzaifah menjawab, “Iya. Sebagaimana ia tahu penghalang hari ini dan
esok adalah malam. Aku menyebutkan sebuah perkataan yang tidak ada
kekeliruan.” Artinya Umar tahu persis akan hal itu.
Abu Wail mengatakan, “Kami suruh Masruq (Masruq bin Ajda, seorang
tabiin) bertanya pada Hudzaifah. Ia pun bertanya, “Siapa pintu itu?”
Hudzaifah menjawab, “Umar.”
Apa yang disampaikan oleh Hudzaifah bukanlah sebuah rekaan. Atau
hanya prediksi yang dikarang. Tapi ia menyampaikan pesan dari Rasulullah
ﷺ. Dan Umar bin al-Khattab pun paham, pintu itu adalah dirinya. Tentu
ia tak akan lupa bahwa Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai syahid. Ia akan
terbunuh.
قال أنس بن مالك رضي الله عنه: صعد رسول الله جبل أحد،
ومعه أبو بكر و عمر وعثمان، فرجف الجبل بهم. فضربه رسول الله صلى الله عليه
وسلم برجله، وقال له: “اثبت أُحُد: فإنما عليك نبيّ، وصديق، وشهيدان”.
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah naik ke bukit Uhud bersama Abu
Bakar, Umar, dan Utsman. Lalu Uhud bergetar. Rasulullah ﷺ menghentakkan
kakinya ke Uhud dan berkata, ‘Tenanglah (jangan bergetar) Uhud!
Sesungguhnya di atasmu ada seorang nabi, shiddiq (Abu Bakar), dan dua
orang syahid (Umar dan Utsman).” (HR. al-Bukhari dalam Kitabul Fitan No.
7096).
Doa Umar
Dari Said bin al-Musayyib rahimahullah: Seusai dari Mina,
Umar berada di suatu tempat lapang berkrikil. Di sana, ia taburkan pasir
dan kerikil kecil ke kepalanya. Ia bentangkan kain lalu berbaring di
atasnya. Kemudian mengangkat tangan ke langit sambil berucap, “Ya Allah,
usiaku telah lanjut. Kekuatanku telah berganti lemah. Sementara
kekuasaanku (tanggung jawabku) kian luas. Cabutlah nyawaku tanpa
disia-siakan”. Kemudian ia kembali ke Madinah (Tarikh al-Madinah oleh Ibnu Syibh. Sanadnya shahih sampai kepada Said bin al-Musayyib, 3/872).
Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzul Hijjah tahun 23 H. Ibadah haji terakhir yang dilaksanakan oleh Umar.
Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah berdoa,
اللهم ارزقني شهادة في سبيلك، واجعل موتي في بلد نبيك
“Ya Allah karuniakanlah aku syahid di jalanmu. Dan wafatkanlah aku di negeri nabimu (Madinah).”
Dalam riwayat lain,
اللهم قتلًا في سبيلك ووفاة في بلد نبيك
“Ya Allah, aku meminta terbunuh di jalan-Mu dan wafat di negeri nabi-Mu.” (ath-Thabaqat oleh Ibnu Saad, 3/331. Sanadnya hasan).
Permintaan syahid berbeda dengan meminta disegerakan mati. Syaikh Ibnul Mibrad Yusuf bin al-Hasan bin Abdul Hadi rahimahullah
mengatakan, “Jika ditanya apa beda meminta syahid dengan meminta
kematian. Meminta kematian adalah meminta agar disegerakan wafat dari
waktu semestinya. Sedangkan meminta syahid adalah meminta saat ajal
datang diwafatkan dalam keadaan syahid. Ini bukan meminta disegerakan
mati. Tapi meminta keadaan yang utama saat kematian itu datang.” (Mahadh ash-Shawab fi Fadhail Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab, 3/791).
Khotbah Terakhir
Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sebagian ucapan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu
pada khotbah Jumat tanggal 21 Dzul Hijjah 23 H. Dan inilah khotbah
terakhirnya. Umar mengatakan, “Aku melihat dalam mimpiku, menurutku
mimpi itu adalah tanda datangnya ajalku. Kulihat seekor ayam jantan
mematukku dua kali. Lalu sebagian orang memintaku untuk menunjuk seorang
khalifah pengganti. (ingatlah) Allah tidak akan menelantarkan
agama-Nya, khalifah-Nya, dan syariat nabi-Nya. Apabila aku meninggal,
maka urusan khilafah dimusyawarahkan oleh enam orang, yang saat
Rasulullah ﷺ wafat, beliau ridha kepada mereka.” (al-Mausu’ah al-Haditsiyah Musnad al-Imam Ahmad, No. 89. Sanadnya shahih).
Maksud Umar, ketika dia meninggal. Enam orang tokoh sahabat yang
diridhai Rasulullah ﷺ, bermusyawarah menunjuk siapa yang layak memegang
amanah khilafah.
Tawanan Dilarang Tinggal di Madinah
Umar bin al-Khattab pernah menetepakan sebuah kebijakan strategis
untuk Madinah. Ia melarang tawanan masuk ke ibu kota Daulah Khilafah.
Tawanan dan budak dari Majusi, Irak, Persia, Nasrani Syam dilarang
tinggal di Madinah. Kecuali jika mereka memeluk Islam. Kebijakan ini
untuk menjaga stabilitas di Madinah. Keputusan yang menunjukkan betapa
visioner dan kuatnya analisa Umar.
Menurut Umar, mereka adalah orang-orang yang kalah. Mereka memiliki
hasad dan berpotensi bertindak ofensif. Umar khawatir mereka meramu
sebuah strategi merusak stabilitas Daulah Islam. Namun sebagian sahabat
Nabi ﷺ sangat membutuhkan jasa para budak ini untuk membantu mereka
bekerja. Di antara mereka ada yang mengajukan perizinan tinggal untuk
budak-budak itu. Dengan berat hati, Umar pun mengizinkannya (al-Khulafa ar-Rasyidin oleh Khalidi, Hal. 83).
Budak Itu Membunuh Khalifah
Amr bin Maimun bercerita tentang peristiwa pembunuhan Umar:
Pada suatu subuh, hari dimana Umar mendapat musibah, aku berada di
shaf (menunggu datangnya shalat subuh). Antara aku dan Umar, hanya ada
Abdullah bin Abbas. Apabila lewat antara dua barisan shaf, Umar berkata,
“Luruskanlah shaf”.
Ketika dia sudah tidak melihat lagi celah-celah dalam shaf, ia maju
lalu bertakbir. Saat itu, sepertinya Umar membaca surat Yusuf atau
An-Nahl atau seperti surat itu pada rakaat pertama. (Karena panjangnya)
memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat. Ketika aku tidak
mendengar sesuatu darinya, tiba-tiba kudengar ia berteriak dengan ucapan
takbir, lalu berkata, “Ada orang yang telah membunuhku, atau katanya,
“Seekor anjing telah menerkamku”. Rupanya ada seorang yang menikamnya
dengan sebilah pisau bermata dua. Penikam itu melewati orang-orang di
sebelah kanan atau kirinya sambil mengayun-ayun tikamnya. Akibatnya,
tiga belas orang terluka. Tujuh diantaranya meninggal dunia. Melihat
kejadian itu, seseorang dari kaum muslimin melemparkan mantelnya dan
tepat mengenai si pembunuh. Sadar bahwa ia pasti tertangkap (tak lagi
bisa menghindar), si pembunuh itu pun bunuh diri.
Umar memegang tangan Abdur Rahman bin Auf, lalu menariknya ke depan.
Siapa saja yang berada di dekat Umar pasti meilihat apa yang aku lihat.
Sementara orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid, mereka tidak
mengetahui peristiwa yang terjadi. Mereka hanya kehilangan suara Umar.
Mereka berseru, “Subhanallah, Subhanallah (maha suci Allah).”
Abdurrahman melanjutkan shalat jamaah dengan shalat yang pendek.
Seusai shalat, Umar bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, lihat siapa yang
menikamku.” Ibnu Abbas berkeliling sesaat lalu kembali, “Budaknya
Mughirah”, jawab Ibnu Abbas.
Umar bertanya, “Pembuat gilingan itu? (Umar berisyarat kepada Abu
Lu’lu’ah Fayruz, budaknya Mughirah bin Syu’bah)”. “Ya, benar”, jawab
Ibnu Abbas. Tempat yang dipugar orang-orang Syiah dan diklaim sebagai makam Abu Lu’lu’ah, yang nama aslinya Fayruz. Terletak di Kota Kashan, Iran.
Kemudian Umar menanggapi, “Semoga Allah membinasakannya, sungguh aku
telah memerintahkan dia berbuat ma’ruf (kebaikan). Segala puji bagi
Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku
beragama Islam. Sungguh dahulu kamu dan bapakmu suka bila orang kafir
non Arab banyak berkeliaran di Madinah.” Abbas adalah orang yang paling
banyak memiliki budak.
Ibnu Abbas berkata, “Jika Anda menghendaki, aku akan lakukan apapun. Maksudku, jika kamu menghendaki kami akan membunuhnya.”
Umar berkata, “Kamu salah, (mana boleh kalian membunuhnya) mereka
telah berbicara dengan bahasa kalian, shalat menghadap kiblat kalian,
dan naik haji seperti haji kalian.” Kemudian Umar dibawa ke rumahnya dan
kami pun ikut menyertainya.
Kemudian Umar disuguhi minuman nabidz (sari kurma), dia pun
meminumnya. Namun sari kurma itu keluar lewat perutnya. Kemudian diberi
susu, dia meminumnya lagi. Namun susu itu keluar melalui lukanya.
Akhirnya orang-orang menyadari bahwa Umar akan wafat.
Kami masuk menjenguknya, lalu orang-orang berdatangan dan memujinya.
Umar berkata kepada anaknya, Abdullah bin Umar, “Wahai Abdullah bin
Umar, periksalah, apakah aku masih memiliki hutang”. Kemudian diperiksa
oleh anaknya, ternyata Umar masih memiliki hutang sebesar 86 ribu atau
sekitar itu.
Umar mengatakan, “Jika harta keluarga Umar mencukupi bayarlah hutang
itu dengan harta mereka. Namun apabila tidak mencukupi, mintalah kepada
Bani Adi bin Ka’ab (kabilah Umar). Jika harta mereka juga belum cukup,
mintalah kepada masyarakat Quraisy. Jangan kesampingkan mereka dengan
meminta kepada selain mereka. Lalu lunasilah hutangku dengan harta-harta
itu.
Setelah itu, temuilah Aisyah, ummul mukminin. Katakan, ‘Umar
memberikan salam untukmu’. Jangan sebut amirul mukminin. Karena aku
bukan lagi amirul mukminin sejak hari ini. Katakan Umar bin al-Khattab
meminta izin padanya untuk tinggal bersama kedua sahabatnya.
Abdullah bin Umar pun menyampaikan pesan sang ayah. Ia mengucapkan
salam pada ummul mukminin, Aisyah, dan meminta izin masuk. Ternyata
Abdullah bin Umar melihat Aisyah sedang menangis. Lalu ia berkata, “Umar
bin al-Khattab menitipkan salam untuk Anda dan meminta izin agar boleh
dikuburkan di samping kedua shahabatnya (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar radiyallahu ‘anhu).”
“Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu untukku, namun hari ini aku
tidak mementingkan diriku,” ucap Aisyah. Mendengar penerimaan Aisyah,
Abdullah bin Umar segera mengabarkan kepada ayahnya yang sedang kritis.
Ada yang mengatakan, “Ini Abdullah bin Umar sudah tiba”. Umar
beranjak ingin segera menerima kabar. Ia berkata, “Angkat aku”. Lalu ada
seseorang datang menopangnya. Umar bertanya, “Berita apa yang kau
bawa?” Ibnu Umar menjawab, “Berita yang Anda sukai, wahai amirul
mukminin. Aisyah telah mengizinkan Anda”.
“Alhamdulillah, tak ada satu pun yang lebih penting bagiku selain
itu. Jika aku telah meninggal, bawalah aku ke sana dan ucapkan salam.
Katakan Umar bin al-Khattab meminta izin. Kalau dia mengizinkan, maka
masukkanlah aku. Namun apabila dia menolakku, makamkanlah aku di
pekuburan kaum muslimin,” kata Umar.
Amr bin Maimun mengatakan, “Keitka Umar wafat, kami pun berjalan
menuju ke sana. Abdullah bin Umar mengucapkan salam. Ia berkata, ‘Umar
bin al-Khattab meminta izin’. ‘Masukkan dia,’ jawab Aisyah. Jasad Umar
pun dibawa masuk. Kemudian ia dimakamkan bersama dua orang sahabatnya,
(Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar) (Riwayat al-Bukhari dalam Kitab Fadhl
ash-Shahabah, No.3700).
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan, “Umar ditikam di pagi hari. Yang menikamnya adalah Abu Lu’lu’ah, budak dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu. Abu Lu’lu’ah adalah seorang majusi.”
Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Abu Lu’lu’ah adalah
budak milik Mughirah bin Syu’bah. Ia bekerja membuat penggilingan yang
dijalankan dengan tangan. Sebagai tuannya, Mughirah menetapkan mengambil
uang sebanyak 4 dirham darinya. Lalu Abu Lu’lu’ah mengadukan hal ini
kepada Umar, ‘Wahai amirul mukminin, sungguh Mughirah memberatkanku.
Bicaralah kepadanya agar memberi keringanan untukku’.
Umar menanggapinya dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah.
Berbuat baiklah (ma’ruf) kepada tuanmu’. Dihadapan Abu Lu’lu’ah, Umar
berbicara demikian untuk menenangkannya. Tapi ia juga berencana
berbicara dengan Mughirah agar memberi keringanan untuk Abu Lu’lu’ah.
Namun si budak tidak menerima masukan Umar. Ia marah. Ia bergumam,
‘Keadilannya untuk semua orang kecuali aku!’ Ia pun berazam untuk
membunuh Umar.
Sejak itu, ia membuat khanjar (belati Arab) yang memiliki dua mata.
Lalu ia asah tajam-tajam. Setelah itu ia temui Hurmuzan (pembesar
Persia) dan berakta, ‘Apa pendapatmu tentang ini?’ Hurmuzan
mengomentari, ‘Menurutku, tidak seorang pun yang kau pukul dengan benda
itu kecuali membunuhnya’.
Kemudian Abu Lu’lu’ah mengawasi Umar. Ia mendekat hingga berada di
belakang Umar saat shalat. Umar biasa mengatakan ‘luruskan shaf kalian’
apabila shalat hendak ditegakkan. Ketika Umar mengucapkan takbir, Abu
Lu’lu’ah menghujamkan (khanjar) di ketiak Umar. Kemudian lagi, di
pinggangnya. Umar pun terjatuh.”
Amr bin Maimun mengatakan, “Saat ditikam itu aku mendengar Umar membaca:
وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 38) (Shahih at-Tautsiq fi Sirati wa Hayati al-Faruq, Hal: 369-370).
Setelah ditikam, tiga hari kemudian Umar bin al-Khattab wafat.
Di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah muncul banyak
fitnah, banyak terjadi pembunuhan, perbuatan hina merajalela, perbuatan
keji dan kemungkaran semisal zina, minum arak, perjudian, merasa bangga
dengan perbuatan buruk dilakukan secara terang-terangan. Sehingga, orang
yang berpegang teguh pada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara
api.
Demikianlah pula termasuk di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah
dicabutnya ilmu, kebodohan nampak, kuantitas kaum perempuan banyak
sekali, kaum laki-laki hanya sedikit, sutra banyak dipakai, banyak orang
menjadi penyanyi, seseorang melewati kuburan orang lain, lalu dia
berkata, “Seandainya saja aku berada di posisi dia.”
Termasuk di antara tanda-tanda kiamat kecil
ialah muncul para dai yang menyesatkan, para pemimpin yang menyimpang,
amanat disia-siakan dengan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya.
Demikian pula minimnya kebaikan, jarang hujan, sering terjadi gampa,
banjir, harga-harga barang melangit, kaum perempuan keluar dengan
menanggalkan pakaian, berpakaian tapi telanjang.
Di samping itu, termasuk di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah
terjadinya peperangan yang menentukan antara kaum Yahudi dan kaum
muslimin. Akhirnya kaum muslimin membunuh mereka sehingga orang-orang
Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu pohon atau batu
tersebut berbicara, “Wahai orang muslim, wahai hamba Allah! Ini orang
Yahudi di belakang saya. Kemarilah, bunuh dia!” Kecuali pohon Gharqad,
karena sesungguhnya pohon Gharqad termasuk pohon orang Yahudi.
Di samping itu, termasuk tanda-tanda kiamat kecil ialah waktu
berjalan terasa cepat, sehingga setahun seakan-akan hanya sebulan,
sebulan seakan-akan hanya satu jam, dan satu jam bagaikan bara api yang
membakar.
Termasuk pula di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah menyia-nyiakan
shalat, menuruti hawa nafsu, Orang pendusta dibenarkan, dan orang yang
jujur didustakan, orang yang berkhianat dianggap dapat dipercaya, orang
yang dapat dipercaya dianggap berkhianat. Alquran menjadi lenyap. Yang
tersisa hanyalah tulisannya, mushaf-mushaf dihias dengan emas, kaum
perempuan jadi pembicara, dan masjid-masjid juga dihias.
Diantara tanda-tanda kiamat besar ialah sebagai berikut:
Terbitnya matahari dari arah barat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat
tidak akan datang sebelum matahari terbit dari arah Barat. Apabila
orang-orang melihat hal ini, maka semua orang yang ada di atasnya
beriman. Hal ini pada saat tidak berguna lagi iman seseorang yang memang
belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan
dengan imannya itu.”
Kabut
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka Tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)
Yang dimaksud dengan dukhan dalam ayat ini ialah kabut tebal yang
memenuhi antara langit dan bumi yang muncul sebelum kiamat datang yang
mengambil nafas orang-orang kafir sehingga mereka hampir tercekik
sedangkan bagi orang-orang mukmin seperti mengalami pilek. Kabut ini
berlangsung di muka bumi selama empat puluh hari.
Munculnya Dabbah (binatang) yang dapat berbicara dengan manusia
Di antara tanda-tanda kiamat besar ialah keluarnya Dabbah (binatang)
dari dalam bumi yang dapat berbicara dengan manusia dengan bahasa yang
fasih yang dapat dipahami oleh semua yang mendengarnya. Dabbah itu
mengabarkan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak beriman kepada
ayat-ayat Allah. Dabbah ini muncul di akhir zaman pada saat manusia
telah mengalami kebobrokan, mereka meninggalkan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dan mengganti agama yang benar. Lantas Dabbah berbicara kepada mereka,
“Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat kami.” Dabbah
ini keluar dengan membawa tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam dan cincin Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Hidung orang-orang kafir diberi cap dengan cincin. Dan wajah orang
mukmin menjadi terang berkat tongkat tersebut sehingga dapat dikenali
antara orang mukmin dan orang kafir.
Munculnya al-Masih Dajjal
Dia dinamai al-A’war ad-Dajjal karena dia buta sebelah matanya yang
kanan. Fitnahnya merupakan fitnah terbesar yang menimpa orang-orang di
akhir zaman. Al-A’war ad-Dajjal tidak hanya mengaku-aku sebagai nabi,
bahkan dia juga mengaku-aku sebagai tuhan. Muncul beberapa hal-hal yang
luar biasa melalui kedua tangannya sebagai bentuk istidraj dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepadanya dan sebagai ujian bagi para manusia. Dia berkata kepada
langit, “Hujanlah!” Maka langit pun menurunkan hujan. Dia berkata kepada
bumi, “Keluarkanlah tanamanmu dan kekayaan yang kau pendam!” Maka bumi
pun mengeluarkannya. Dia dapat membunuh manusia lalu menghidupkannya
kembali. Dia mengelilingi seluruh permukaan bumi. Semua daerah yang dia
masuki pasti dia berbuat kerusakan di dalamnya kecuali Mekah dan
Madinah. Sebab, jika dia hendak memasukinya, dia menjumpai malaikat yang
menjaganya, makanya dia kembali dan gagal. Dajjal kali pertama muncul
di sebuah kota yang bernama Asfihan. Pada awalnya dia diikuti oleh tujuh
puluh ribu orang Yahudi. Kemudian dia diikuti oleh orang-orang
rendahan, orang-orang bodoh, dan rakyat jelata. Dia berada di muka bumi
selama empat puluh hari. Ada sehari yang bagaikan setahun. Ada yang
sehari bagaikan sebulan. Dan ada sehari yang bagaikan sepekan.
Selebihnya, hari-hari sebagaimana hari-hari biasa.
Semua keterangan ini terdapat di dalam hadis-hadis shahih. Kami akan menuturkan sebagian di antaranya dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada seorang nabi pun melainkan memberi peringatan kepada
umatnya mengenai orang buta sebelah yang pendusta. Ingalah bahwa dia
buta sebelah. Sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah. Di antara
kedua matanya tertulis ‘kafir’ yang dapat dibaca oleh semua muslim.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Dajjal keluar dengan membawa air dan api. Maka, air
yang dilihat oleh orang-orang sesungguhnya adalah api yang membakar.
Sedangkan api yang dilihat oleh orang-orang, sesungguhnya adalah air
yang dingin dan segar. Barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal
ini, maka hendaklah dia menjatuhkan diri pada sesuatu yang dilihatnya
api, karena sesungguhnya hal itu adalah air segar yang baik.”
An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan tentang
Dajjal pada suatu pagi. Beliau merendahkan tetapi juga meninggikan
suaranya, sampai-sampai kami menduga bahwa Dajjal berada di satu sisi
pohon kurma.” (Maksudnya, beliau merendahkan suaranya dengan menyebutkan
bahwa dia buta sebelah dan di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’.
Beliau juga memandang besar fitnah Dajjal karena mencakup hal-hal yang
luar biasa. Artinya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersungguh-sungguh mengganggap dekat munculnya Dajjal. Beliau
menggunakan redaksi yang bermacam-macam, baik yang merendahkan maupun
yang meninggikan –redaksi sehingga kami menduga- untuk
bersungguh-sungguh dalam menganggap dekat –bahwa Dajjal berada di satu
sisi pohon kurma- di (Madinah).
Beliau bersabda, “Selain Dajjal yang lebih saya khawatirkan atas
diri kalian. Apabila dia muncul sedangkan saya masih ada di antara
kalian, maka sayalah yang akan mematahkan hujjahnya untuk membela
kalian. Apabila dia muncul dan saya sudah tidak ada di antara kalian,
maka tiap-tiap orang membela dirinya sendiri. Allah yang menggantikan
diriku atas setiap orang muslim. Dajjal adalah pemuda yang berambut
keriting, matanya sayu, seakan-akan saya menyamakannya dengan Abdul Uzza
bin Qathan (seseorang yang binasa pada masa jahiliyah). Barangsiapa
bertemu dengannya, maka bacakan kepadanya bagian pembukaan surat
Al-Kahfi. Dia muncul di daerah antara Syiria dan Irak. Dia membuat
banyak kerusakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah! Tetaplah
(pada keimanan dan janganlah melenceng darinya).” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah! Berapa lama dia berada di muka bumi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Empat
puluh hari. Yang sehari bagaikan setahun. Sehari lagi bagaikan sebulan.
Dan sehari lagi bagaikan sepekan. Sedangkan hari-hari lainnya seperti
hari-hari biasa.”
Kami kembali bertanya, “Wahai Rasulullah! Pada sehari yang bagaikan
setahun, cukupkah bagi kami melakukan shalat untuk sehari dalam hari
tersebut?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak. Perkirakanlah kadar waktunya.”
Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Seperti apakah kecepatan Dajjal di bumi?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bagaikan
mendung yang ditiup angin. Dia mendatangi suatu kaum, lalu dia mengajak
kaum tersebut, kemudian mereka beriman kepadanya dan menerimanya.
Lantas dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka langit pun
menurunkan hujan. Dia memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tanaman,
lantas bumi pun menumbuhkan tanamannya, sehingga binatang-binatang
ternak mereka kembali di penghujung siang dalam keadaan yang sangat
baik, punuknya besar, serta gemuk dan kenyang. Kemudian dia mendatangi
kaum lain, lalu dia mengajak kaum tersebut, dan ternyata kaum ini
menolaknya (mereka masih teguh dengan ketauhidannya), lantas dia
berpaling dari kaum tersebut, lantas mereka mengalami paceklik (tidak
ada hujan turun di wilayah mereka dan rerumputan menjadi kering). Tidak
ada harta apa pun di tangan mereka dan mereka berjalan melewati
reruntuhan, kemudian Dajjal berkata pada reruntuhan tersebut,
‘Keluarkanlah harta pendamanmu,’ maka harta pendaman reruntuhan tersebut
mengikutinya sebagaimana ratu lebah. Selanjutnya Dajjal memanggil
seorang pemuda kekar, lalu dia membelahnya dengan pedang menjadi dua
bagian yang terpisah jauh sejauh lemparan, kemudian dia memanggilnya
lagi, lantas potongan tubuh itu menghadap dengan wajah yang berseri-seri
sambil tertawa.
Dalam kondisi yang demikian, selanjutnya Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengutus Nabi Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam. Beliau turun
di menara putih sebelah timur Damaskus, mengenakan dua pakaian yang
diwarnai, seraya meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap dua
malaikat. Ketika beliau menundukkan kepalanya, keringat bercucuran
bagaikan permata. Orang kafir tidak mungkin mencium nafasnya kecuali
langsung mati. Nafas beliau sampai sejauh mata memandang. Kemudian Nabi
Isa mencari Dajjal sehingga beliau menemukannya di Bab Lud (nama tempat
Syiria) lalu nabi Isa membunuhnya. Selanjutnya Nabi Isa mendatangi kaum
yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu beliau mengusap
wajah-wajah mereka, beliau menjelaskan kepada mereka derajat mereka di
surga.
Dalam kondisi demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi wahyu
kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, ‘Sungguh, Aku telah mengeluarkan
hamba-hamba-Ku. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kemampuan untuk
memerangi mereka. Kumpulkanlah mereka ini ke bukit Tursina (Jadikanlah
bukit Tursina sebagai benteng).’ Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengirim Ya’juj Ma’juj. Mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat
yang tinggi. Orang pertama di antara mereka melewati danau Thabariyah,
lalu mereka meminum airnya. Orang terakhir juga melewatinya, lalu mereka
berkata, ‘Sungguh, tadi ada di danau ini banyak airnya.’ Nabi Isa
‘alaihissalam beserta sahabat-sahabatnya semakin kepepet, sehingga
kepala sapi bagi salah seorang di antara mereka lebih baik dari pada
seratu dinar bagi kalian semua hari ini (lantaran mereka sangat
membutuhkan makanan), kemudian Nabi Isa beserta sahabat-sahabatnya
berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Mereka memohon kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala agar gangguan Ya’juj Ma’juj segera dihilangkan),
lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim cacing di dalam hidung unta dan
kambing pada leher-leher mereka. Lantas mereka pun mati sekaligus.
Kemudian Nabi Isa ‘alaihissalam beserta sahabat-sahabatnya turun ke
bumi. Ternyata mereka tidak menemukan tempat sejengkal pun di muka bumi
kecuali dipenuhi oleh bau busuk. Lantas Nabi Isa beserta
sahabat-sahabatnya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian
Allah mengirimkan burung-burung semisal leher unta. Burung-burung itu
membawa bangkai Ya’juj Ma’juj lalu dilemparkan sesuai kehendak Allah
Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan
hujan yang tidak dapat ditahan oleh tanah keras dan gandum. Maka, bumi
pun dicuci bersih sehingga seperti kaca. Kemudian dikatakan kepada bumi,
‘Tumbuhkanlah buah-buahmu dan kembalikanlah berkahmu.’ Pada hari itu
sekelompok orang memakan delima dan mereka berteduh dengan kulitnya, air
susu sangat diberkahi. Bahkan, seekor unta yang hampir melahirkan
mencukupi untuk sekelompok orang banyak. Seekor sapi yang hampir
melahirkan mencukupi untuk satu kabilah. Seekor kambing yanghampir
melahirkan mencukupi satu suku. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan angin yang baik, lalu angin ini mengena
mereka di bawah ketiak mereka, sehingga ruh setiap orang mukmin dan
muslim dicabut. Yang masih tersisa tinggal orang-orang jahat.
Orang-orang pun melakukan hubungan seks sebagaimana keledai (artinya,
lelaki dan perempuan melakukan hubungan seks secara terang-terangan di
hadapan banyak orang bagaikan keledai). Maka, dalam kondisi demikian
datanglah hari kiamat.” (HR. Muslim)
Turunnya Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam
Termasuk di antara tanda-tanda kiamat besar ialah turunnya al-Masih Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Alquran dan hadis-hadis telah menunjukkan hal ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tidak ada seorang pun di antara ahli kitab yang tidak beriman
kepadanya (Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari kiamat dia (Isa)
akan menjadi saksi mereka.” (QS. An-Nisa: 159)
Artinya, tidak ada seorang pun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam menjelang kematiannya dan pada hari kiamat Nabi Isa ‘alaihissalam akan memberi kesaksian kepada mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh, dia (Isa) itu benar-benar menjadi pertanda akan
datangnya hari kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang
(kiamat) itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 61)
Sesungguhnya turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam merupakan tanda-tanda kiamat sudah dekat. Terdapat beberapa hadis mutawatir mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sekarang ini Nabi Isa ‘alaihissalam hidup di langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengangkat ruhnya dan jasadnya kehadirat-Nya. Beliau akan turun ke bumi
sebagai hakim yang adil yang menetapkan hukum berdasarkan syariat Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi
Dzat yang menguasai jiwaku. Sungguh, putra Maryam akan turun kepada
kalian semua sebagai hakim yang adil. Lalu dia menghancurkan salib,
membunuh babi, dan meniadakan pajak. Harta pun melimpah-limpah sehingga
tidak ada seorang pun yang mau menerima (pemberian orang lain). Sehingga
sujud sekali lebih baik dari pada dunia dan isinya.”
Terdapat di dalam hadis-hadis shahih pula bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah orang yang akan membunuh Dajjal. Dan setelah misi Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam selesai, beliau meninggal dunia, lalu kaum muslimin menshalatinya dan dimakamkan di kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang suci.
Keluarnya Ya’juj Ma’juj
Ya’juj Ma’juj disebutkan di dalam Alquran Al-Karim di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.
Mereka berkata, ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu
orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami
memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding
antara kami dan mereka?’.” (QS. Al-Kahfi: 94)
Ya’juj Ma’juj merupakan kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh. Mereka
keluar di akhir zaman setelah dinding penghalang yang dibuat oleh
Dzulqarnain jebol. Lantas mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan
berbagai macam tindakan keji dan kerusakan. Saking banyaknya, mereka
memakan makanan dan tanaman apa saja yang dijumpainya dan meminum danau
Thabariyah sampai seakan-akan tidak pernah ada airnya.
Keluarnya api yang menggiring manusia ke padang Mahsyar
Api ini keluar dari tanah ‘Adn, yaitu api besar yang menakutkan.
Tidak ada sesuatu pun yang dapat memadamkannya. Api ini menggiring
manusia ke padang Mahsyar. Demikianlah di antara tanda-tanda kiamat
besar. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar
menyelamatkan kita dari api dunia dan akhirat dan semoga Dia
menyelamatkan kita dari kengerian kiamat berkat anugerah-Nya dan
kemuliaan-Nya. Sungguh, Dia Maha Mendengar dan Mahadekat.
LAPLAND, Merupakan
sebuah provinsi yang ada di Finlandia yang memiliki luas wilayah 98.946
km=C2=B2 dengan populasi penduduk berjumlah 187.777 jiwa (2002). Ibu
kotanya ialah Rovaniemi. Provinsi ini ternyata memiliki sebuah fenomena
unik indah untuk dipandang, yaitu matahari di tengah malam.
Hal ini terjadi Karena lokasinya yang memang berada di lingkar kutub,
selama dua puluh empat jam dalam dua bulan setiap tahun provinsi ini
akan disinari oleh matahari sepanjang hari tanpa henti. Fenomena unik
ini biasanya disebut midnight sun atau matahari tengah malam.
Fenomena
ini biasanya akan terjadi setiap bulan Juni dan Juli.
Wisatawan yang mengunjungi Lapland dapat melihat secara langsung cahaya
unik dari matahari tengah malam, yang tidak memberi batas antara siang
dan malam di sini. Hal ini memungkinkan bagi para pelancong untuk
mendaki gunung Lapland di malam hari atau bahkan melakukan olahraga golf
selama 24 jam non-stop.Salah satu tempat favorit wisatawan
untuk wisata golf yang terdapat di Lapland adalah Bjorkliden GC,
lapangan golf yang terletak paling utara provinsi ini. Letaknya
berbatasan langsung dengan beberapa pegunungan yang merupakan perbatasan
negara antara Swedia dan Finlandia serta Danau Tornestrask.
Selain dapat menikmati sensasi bermain
golf tengah malam, aktivitas wisata lainnya yang juga digemari di
Lapland adalah bermain ski di Riskgransen, yang merupakan resor ski
paling utara di Eropa. Tidak seperti resor ski lainnya di Eropa,
Riksgransen tidak memiliki temperatur dingin, sehingga para pencinta ski
tidak perlu takut kedinginan.
Hal
ini dikarenakan
fenomena matahari tengah malam tadi, yang membuat matahari tetap
bersinar sehingga membuat wilayah ini tetap hangat sekaligus masih
memiliki salju untuk para pemain ski berseluncur.
Lapland juga merupakan rumah bagi hotel es pertama dan terbesar di dunia. di hotel ini, para tamu akan tidur diantara
bongkahan es yang dilapisi seprai berbahan kulit rusa. Mulai dari lilin
hingga kursi dan meja, semua yang ada di hotel ini terbuat dari es.
Hotel ini dibangun pada 1989, di desa kecil Jukkasjarvi. hotel ini
dibangun oleh para pemahat es lokal yang berasal dari hotel ini.
Biasanya Hotel Es ini hanya dibuka pada musim dingin saja. Spesial untuk
tahun ini, Hotel Es terbuka juga di musim panas. Seperti biasa, air
untuk membuat balok es ini berasal dari Sungai Torne, yang tidak jauh
dari hotel.
“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang
terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa
tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).
Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang
yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
(sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan
menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS
Ar-Rum [30]: 1-6)
Buku-buku sejarah memberitahu kita tentang pertempuran antara Persia
dan kerajaan Romawi Timur – yang terakhir menandakan bagian timur
Kekaisaran Romawi – yang terletak di daerah antara Adhra’at dan Basra,
dekat Laut Mati. Pertempuran yang terjadi tahun 619 M berakhir dengan
kemenangan bangsa Persia.
Orang Romawi menerima pukulan berat dalam pertempuran itu dan semua
orang pada saat itu khawatir jika kerajaan mereka jatuh. Anehnya, mereka
terlibat dalam pertempuran lain di 627 M di daerah Niniwe di mana
mereka mengalahkan pasukan Persia dan menduduki banyak daerah. Beberapa
bulan kemudian, Bizantium menandatangani perjanjian dengan bangsa Persia
yang isinya mereka mengembalikan semua daerah yang diduduki sebelumnya.
Atlas geografis menunjukkan bahwa titik terendah di permukaan bumi
adalah daerah dekat Laut Mati di mana permukaan bumi adalah serendah 395
meter di bawah permukaan laut. Foto yang diambil oleh satelit mendukung
fakta ini.
Ada dua keajaiban dalam ayat-ayat ini. Pertama, Alquran memberi kabar
gembira dengan kemenangan kepada orang-orang Romawi dalam rentang waktu
antara tiga sampai sembilan tahun. Setelah tujuh tahun, berita dari
Alquran menjadi kenyataan.
Kemenangan Romawi ini bertepatan dengan kemenangan kaum muslimin
dalam Perang Badar. Dalam pengamatan orang-orang kafir Arab, kemenangan
Romawi tampak mustahil dan mereka mulai mengejek dan mengolok-olok kaum
muslimin tentang kata-kata Al-Qur’an ini. Namun ketika nubuat itu
menjadi kenyataan, maka mereka kecewa dan rendah hati.
Kedua, ayat-ayat tersebut mengungkapkan kepada kita tentang fakta
geografis yang tidak diketahui siapa pun pada waktu itu. Ayat-ayat
tersebut mengatakan bahwa orang-orang Romawi akan kalah dalam
pertempuran di wilayah terendah di bumi, dan itu adalah tempat terdekat
dengan Semenanjung Arab dan merupakan titik terendah di bumi adalah
1.312 kaki (sekitar 400 meter) di bawah permukaan laut. Menurut
Encyclopedia Britannica, satelit telah mencatat bahwa memang tempat
tersebut adalah tempat yang terendah di bumi. Fakta sejarah menjadi
saksi bahwa pertempuran terjadi di tempat terendah di bumi; dekat Laut
Mati.
Pada saat itu, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui hal ini adalah
wilayah terendah di bumi. Apakah ini tidak memberikan bukti bahwa
semakin Selalu Alquran adalah firman Allah? Mahasuci Allah yang
berfirman, “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan
memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan
mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS
An-Naml [27]: 93)
Mutiara Islam -
Didalam hadits telah disebutkan bahwa umat islam akan terpecah kepada
73 golongan , namun hanya 1 golongan saja yang masuk syurga yaitu ahlus
sunnah wal jama`ah , timbul pertanyaan dalam diri kita masing - masing ,
apakah saya sudah termasuk dalam golongan tersebut ? Untuk menentukan
termasuk atau tidak silahkan simak baik - baik kriteria / ciri - ciri
Ahlus sunnah Wal Jamaah seperti yang sudah diterangkan oleh Imam Ghazali
di dalam kitab beliau Ihya Ulumuddin dan kitab yang lainnya :
1. Mengenai ketuhanan :
Meyakini
yakni Allah merupakan tuhan yang esa yang berhak disembah dengan
seluruh sifat kesempurnaan-Nya yang tiada serupa oleh makhluk.
Zat Allah bisa diamati melalui mata kepala, dan orang-orang mukmin maka akan melihat-Nya di dalam surga kelak.
Segala sesuatu yang berlaku adalah atas kehendak-Nya akan tetapi untuk makhluk terdapat ikhtiyari.
Menolak faham Tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk.
Menolak faham Jabariyah (segala sesuatu atas kehendak Allah tanpa ikhtiayri dari makhluk)
Menolak faham Qadariyah (segala sesuatu atas kehendak makhluk tanpa taqdir dari Allah)
2. Mengenai malaikat:
Malaikat
itu nyata ada serta totalnya gak terhingga. Tiap malaikat mempunyai
tugasnya masing-masing, mereka selalu taat pada perintah Allah.
Ummat islam semata-mata diwajibkan mengenal 10 nama malaikat yang utama yang memiliki tugasnya masing-masing.
Sehubungan oleh keimanan terhadap adanya malaikat, ummat islam pula diwajibkan meyakini adanya jin, iblis serta syaithan.
3. Mengenai kerasulan:
Meyakini bahwa seluruh Rasul merupakan utusan-Nya yang diberikan mu`jizat untuk mereka sebagi tanda kebenaran mereka.
Rasulullah SAW penutup seluruh Nabi serta Rasul yang diutus untuk bangsa arab serta bangsa yang lainnya, kepada manusia dan jin.
Mencintai semua shahabat Rasulullah
Meyakini
bahwa shahabat yang sangat mulia ialah Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq
kemudian Sayidina Umar kemudian Saiydina Utsman kemudian Saidina Ali
Radhiyallahu ‘anhum.
Menjauhi
mendiskusikan perkara permusuhan sesama sahabat kecuali buat
menerangkan kebenaran dan bagaimana kaum muslimin menyikapinya.
Meyakini Ibunda serta Ayahanda Rasulullah masuk surga berlandaskan firman Allah QS. Al-Isra’ ayat 15 :
“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra` : 15) Kedua
orang tua Nabi wafat di zaman fatharah (kekosongan dari seorang
Nabi/Rasul). pertanda keduanya dinyatakan selamat. Imam Fakhrurrozi
menyatakan yakni seluruh orang tua para Nabi muslim.
Melalui dasar Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 : الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat
pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.
Sebagian Ulama’ menafsiri ayat di atas yakni cahaya Nabi berpindah
melalui orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud yang
lainnya. Adapun Azar yang secara terang mati kafir, sebagian ulama’
menyatakan tidaklah bapak Nabi Ibrahim yang sesungguhnya akan tetapi dia
merupakan bapak asuhnya serta juga pamannya.
Terang sekali
Rasulullah menyatakan yakni kakek serta nenek moyang beliau merupakan
orang-orang yang suci tidak merupakan orang-orang musyrik dikarenakan
mereka dinyatakan najis di dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman pada
surat At Taubah ayat 28:
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”
4. Mengenai kitab:
Al quran, Taurat, Injil, Zabur merupakan kitab-kitab yang diturunkan untuk Rasul-Nya yang menjadi pedoman buat ummat.
Al Quran merupakan kalam Allah dan tidak merupakan makhluk dan tidak merupakan sifat bagi makhluk.
Mengenai ayat mutasyabihat, di dalam Ahlussunnah muncul 2 pandangan para ulama:
Ulama salaf (ulama yang hidup pada masa sebelum 500 tahun hijryah)
lebih menentukan tafwidh (menyerahkan pada Allah) sesudah Takwil Ijmali
(umum/global) ataupun diketahui pula melalui istilah tafwidh ma’a tanzih
yaitu memalingkan lafahd dari arti dhahirnya sesudah itu menyerahkan
maksud dari kalimat tasybih itu kepada Allah.
Ulama khalaf (Ulama yang hidup pada masa sesudah 500 Hijriyah) lebih
menentukan ta`wil yaitu menghamal arti kalimat dengan sebalik arti
dhahirnya dengan menyatakan serta memastikan arti yang dimaksudkan
melalui kalimat tersebut. Di dalam memastikan langkahnya, Ulama Salaf serta Ulama Khalaf sama-sama berpegang dalam surat: Ali Imran ayat: 7
Maksudnya :
“Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-quran) kepada kamu, di antara
(isi) nya ada ayat-ayat muhkamat (jelas maksudnya) itulah pokok-pokok
isi al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (tidak difahami
maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari
padanya untuk menimbulkan fitnah (karena mereka tidak menyadari telah
terjerumus dalam ayat mutasyabihat) dan untuk mencari-cari
penafsirannya,”
[a]. dan tidak ada yang memahami takwilnya
melainkan allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata :
"Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, keseluruhannya itu
dari sisi tuhan kami" dan tidak sanggup mengambil pelajaran
(daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS: Ali Imran. 7)
[b].dan tidak ada yang mengerti takwilnya melainkan Allah. Dan
orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : "Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi tuhan kami" dan
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang
berakal. (QS: Ali Imran. 7)
• Ulama Khalaf berpendapat yakni kalimat الرَّاسِخُونَ di’athafkan pada lafadh اللَّهُ dan jumlah يَقُولُونَ آَمَنَّا
ialah jumlah musta`nafah (permulaan baru) untuk bayan (menerangkan)
sebab iltimas takwil. Terjemahan [a] adalah terjemahan berlandaskan
pendapat Ulama Khalaf. • Ulama Salaf berpendapat yakni kalimat الرَّاسِخُونَ ialah isti`naf. Terjemahan [b] adalah terjemahan berlandaskan pendapat Ulama Salaf.
5. Mengenai kiamat:
Kiamat pasti berlaku, tiada keraguan sedikit pun.
Meyakini adanya azab kubur.
Kebangkitan merupakan perkara yang pasti.
Surga merupakan satu tempat yang dipersiapkan buat hamba yang dicintai-Nya.
Neraka dipersiapkan buat orang-orang yang ingkar kepada-Nya.
Meyakini adanya hisab (hari perhitungan amalan).
Meyakini adanya tempat pemberhentian hamba sesudah bangkit dari kubur.
Meyakini adanya Syafaat Rasulullah, ulama, syuhada serta orang-orang mukmin lainnya berdasarkan kadar masing-masing.
6. Kewajiban ta`at kepada-Nya terhadap hamba-Nya ialah didapatkan lewat lisan Rasul-Nya bukan dengan akal.
7.
Tidak mengatakan seseorang ahli tauhid dan beriman sudah pasti masuk
surga atau neraka kecuali orang-orang yang sudah mendapatkan pengakuan
dari Rasulullah bahwa ia masuk surga.
8. Tidak mengada-ngadakan sesuatu di dalam agama kecuali atas izin Allah.
9. Tidak menisbahkan untuk Allah sesuatu yang tidak diketahui.
10.
Meyakini bahwa shadaqah serta doa untuk orang mati berguna dan Allah
memberikan manfaat untuk mayat melalui shadaqah dan doa tersebut.
11. Meyakini adanya karamah orang-orang shaleh
12.
Tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat dengan sebab dosa yang
mereka perbuat semacam zina, mencuri, minum khamar dll.
13.
Perkara sifat dua puluh. Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah
sesungguhnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah
semata-mata pada 20 sifat saja. Terlebih-lebih seluruh sifat
kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah pasti Allah wajib
mempunyai sekian sifat itu, sehingga sifat-sifat kamalat (kesempurnaan
dan keagungan) Allah itu sesungguhnya tidak terbatas pada sembilan puluh
sembilan saja.